Menu

Sikap Rasulullah SAW menghadapi Wabah Penyakit (Bagian 2)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Abu Ubaidah bin al-Jarrah bersabar dan yakin atas takdir Allah SWT

Keputusan Umar bin Khattab untuk kembali ke Madinah menhikuti perintah sabda Rasulullah SAW menyisakan kesedihan dihatinya. Abu Ubadiah adalah sahabat yang amat ia cintai.

Umar berpikir untuk menyelamatkan sahabatnya yang telah menaklukan Baitul Maqdis dari kekuasaan Romawi tersebut. Maka Umar menyurati Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Isi surat itu sebenarnya hanya siasat Umar untuk menyelamatkan Abu Ubaidah dari Tha’un Amwas yang semakin hari semakin mewabah di Syam.

Namun di sisi lain, Umar juga sangat mengenal karakter kepemimpinan Abu Ubaidah. Ia tahu bahwa sahabatnya itu adalah seorang pemimpin, panglima perang, yang tidak akan meninggalkan negerinya, ketika rakyatnya dalam keadaan sakit.

Umar dan Abu Ubaidah ini bersahabat sejak lama, Umar faham persis siapa Abu Ubadiah ini. Abu Ubaidah seorang ksatria dan panglima hebat sangat mustahil meninggalkan rakyatnya dalam keadaan sakit dan menderita.

Maka Umar tidak langsung memanggil Abu Ubaidah, karena kalau dipanggil untuk menyelamatkannya, mustahil Abu Ubaidah datang. Maka Umar berusaha untuk menggunakan kalimat yang halus; “Saya perlu bicara langsung”. Tapi karena mereka berteman lama, Abu Ubaidah pun tahu bahwa Umar sebenarnya hanya ingin menyelamatkan nyawanya.

Abu Ubaidah pun membalas surat amirul mukminin Umar bin Khattab r.a.. Isi suratnya memberikan pelajaran yang sangat mahal tentang makna loyalitas dan kesetiaan bersama rakyat. Dia mengatakan bahwa; “Saya bersama dengan tentara-tentara Islam dan saya adalah orang yang mencintai mereka. Maka saya tidak mungkin meninggalkan mereka. Biarlah saya hidup dan meninggal di tempat ini”. Abu Ubaidah telah bertekad untuk hidup bersama rakyatnya dan mati bersama rakyatnya.

Disebutkan didalam kitab Ashabur-Rasul, Umar tak kuasa menahan tangis ketika membaca surat balasan itu. Dan ketika mendengar bahwa Abu Ubaidah bin al-Jarrah wafat, air matanya kembali tak terbendung. Umar kemudian mendoakan rahmat bagi sahabatnya itu.

Abu Ubaidah r.a. ketika dalam keadaan sudah memburuk, dia keluar dan berceramah kepada masyarakatnya mengatakan; sabarlah kalian, sesungguhnya ini adalah ujian dari Allah tapi ini adalah doa rasul kalian dan ini adalah kematian orang-orang shaleh dan saya akan siap mati bersama kalian. Ternyata benar, beberapa lama kemudian Abu Ubaidah wafat karena Tha’un Amwas.

Abu Ubaidah telah meneladani sabda Rasulullah SAW; “Tha’un itu azab yang Allah timpakan pada siapa yang dikehendakinya dan menjadikannya rahmat bagi mukminin. Tidaklah seorang hamba ketika terjadi wabah penyakit, kemudian ia tetap berada di tempatnya dengan sabar dan mengharap pahala serta ia mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali yang ditetapkan oleh Allah melainkan ia mendapat pahala, seperti pahala orang yang mati syahid.” (HR Al-Bukhari dan Ahmad)

Maka sikap berikutnya yang harus dilakukan dalam menghadapi wabah penyakit adalah bersabar dan yakin atas takdir Allah ta’ala.

Upaya Amr bin Ash dalam menghentikan Wabah Tha’un

Sepeninggalan Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Muadz bin Jabbal sampailah kepemimpinan Syam kepada sahabat Amru bin al-Ash. Sahabat yang dipuji karena kecerdasannya ini berpikir keras untuk menghentikan penyebaran wabah Tha’un di negerinya. Ia menganalisa bagaimana wabah Tha’un itu bisa menyebar begitu cepat. Analisanya itu pun sampai pada suatu kesimpulan bahwa ia harus memerintahkan rakyatnya untuk pergi berpencar ke gunung-gunung.

Amr bin Ash mengatakan; “Sesungguhnya penyakit ini seperti api yang membakar. Berpencarlah kalian ke gunung-gunung”. Api kalau masih ada yang bisa dibakar, ia akan terus membesar. Tapi ketika sudah tidak ada yang dibakar maka pelan-pelan dia akan mati sendiri. Ini ilustrasinya. Maka Amr bin Ash memerintahkan mereka berkelompok-kelompok ke gunung-gunung. Wallahu a’lam, apa kajiannya kenapa harus ke gunung?

Setelah sekian lama di gunung dan di analisa, ternyata penyakit itu sudah hilang. Ini adalah solusi yang luar biasa dan menarik. Umar ketika tahu solusi Amr bin Ash, Umar sangat memuji apa yang sudah dilakukan oleh sahabat mulia Amr bin Ash r.a..

Keputusan Amr bin Ash tidak akan lahir kecuali ia sangat mengenal alam tempatnya tinggal. Disamping itu, para sahabat adalah generasi sahabat yang mengamalkan dengan sebaik-baiknya sunnah Rasulullah SAW., termasuk soal penyakit.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda; “Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Al-Bukhari) Setiap penyakit yang Allah turunkan pastilah ada obatnya. Inilah sikap Rasulullah SAW selanjutnya yang seharusnya diteladani oleh umatnya dalam memandang sebuah penyakit.

Keyakinan dan berbaik sangka kepada Allah akan menjauhkan kita dari sikap pesimis dan berputus asa saat wabah penyakit melanda.

Berdoa memohon Perlindungan Allah SWT

Kisah wabah Tha’un di Syam telah mengajarkan banyak hal tentang sikap dan penanggulangan wabah. Selanjutnya Rasulullah SAW mengajarkan agar umatnya senantiasa berdoa memohon perlindungan dan berdzikir di setiap waktu. Diantara dooa yang diajarkan nabi SAW adalah satu doa yang biasa dibaca pada Dzikir Pagi dan Petang.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3 x)[1] (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Source: Khalifah Trans7 | Tulisan sebelumnya DISINI

[WARDAN/DR]

Footnote:

[1] Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka tidak akan ada bahaya yang tiba-tiba memudaratkannya.

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Informasi Perubahan Kalender Pendidikan Tahun 2019-2020 Kelas 3 TMI Darunnajah Jakarta

Perihal  : Informasi Perubahan Kalender Pendidikan  Tahun 2019/2020                                  31 Maret 2020                                                                 Yang terhormat, Bapak/Ibu Orang Tua Santri Kelas III