Sikap Rasulullah SAW menghadapi Wabah Penyakit (Bagian 1)
Menu

Sikap Rasulullah SAW menghadapi Wabah Penyakit (Bagian 1)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Corona, atau Covid19 masih menjadi ancaman di dunia. Banyak negara menempuh berbagai cara untuk menghentikan penyebaran wabah penyakit ini. Dalam waktu dua bulan, kematian akibat terinfeksi virus Corona telah mencapai lebih dari 2.800 orang

Wabah yang merenggut begitu banyak nyawa dengan sangat cepat tidak hanya terjadi di zaman ini. Bahkan pernah terjadi di zaman Amirul Mukminin, Umar bin Khattab ra.

Saat itu, para sahabat meneladani sikap Rasulullah SAW dalam menghadapi wabah penyakit. Wabah penyakit apakah yang terjadi di zaman sahabat? Dan sikap teladan seperti apakah yang rasulullah ajarkan kepada para sahabat dalam menghadapi wabah penyakit?

Para ulama seperti Ibnu Qayyim dan Imam Nawawi rah.a., menyampaikan bahwa wabah penyakit Tha’un bersumber dari binatang, yakni tikus. Saat itu, Tha’un menjadi penyakit yang mematikan. Bahkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Tha’un pernah menjangkiti negeri Syam, hingga menewaskan sekitar 25.000 muslimin termasuk para sahabat terbaik r.a.

Kisah Tha’un dan Sikap Pemimpin Syam dalam meneladani Rasulullah SAW

Suatu hari, Umar bin Khattab r.a. beserta rombongan melakukan perjalanan dari pusat pemerintahan di Madinah menuju Syam. Ketika sampai di perbatasan Yordania, Umar mendapat kabar bahwa Negeri Syam tengah di serang wabah Tha’un. Maka beliau menghentikan perjalanannya untuk sementara waktu.

blankGubernur Syam ketika itu Abu Ubaidah bin al-Jarrah langsung menemui Umar di tempat tersebut. Wabah Tha’un yang terkenal dalam sejarah setelah masa Rasulullah SAW adalah Wabah Tha’un di Amwas Palestina yang terjadi pada tahun 18 H.

Umar dan para sahabat sebenarnya sudah sampai di pintu masuk Syam. Namun wabah itu membuat Umar harus berpikir ulang untuk meneruskan perjalanannya. Di situasi seperti inilah kepemimpinan serta kecerdasan amirul mukminin Umar bin Khattab teruji.

Umar bin Khattab adalah sahabat yang memiliki level tertinggi untuk Ijtihad Ilmu, dan itu berdasarkan mimpi Rasulullah SAW, Umar adalah sahabat yang paling tinggi secara Ilmu. Umar saat itu memerintahkan untuk mengumpulkan orang-orang Muhajirin.

Umar tidak langsung memutuskan sendiri, ia menggelar musyawarah untuk menimbang pendapat para sahabat. Pertama-tama ia meminta pendapat kalangan Muhajirin untuk menyampaikan pendapatnya.

Para Muhajirin ternyata berbeda pendapat. Sebagian mengusulkan untuk meneruskan perjalanan ke Syam, ditambah kaum muslimin disana sedang membutuhkan pertolongan. Namun sebagian berpendapat bahwa wabah perlu dihindari untuk menyelamatkan nyawa para sahabat, sehingga mereka harus kembali ke Madinah.

Kemudian Umar juga memberikan kesmepatan kepada kalangan Anshar untuk menyampaikan pendapatnya. Diantara merekapun terjadi perbedaan seperti yang terjadi dikalangan Muhajirin.

Terakhir, Umar meminta pendapat kalangan sahabat yang ikut dalam peristiwa Fathul Makkah. Ternyata para pembuka kota Makkah itu bersepakat untuk kembali ke Madinah dan tidak meneruskan perjalanan ke Syam. Maka Umar memutuskan untuk kembali ke Madinah. Dan keputusan tersebut dipertanyakan oleh Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Abu Ubaidah bin al-Jarrah; “Bagaimana anda bisa lari dari takdir Allah?” Umar menjawab: “Andai kalimat ini keluar bukan dari dirimu” (menurut Umar, kalimat ini tidak pantas keluar dari orang secerdas Abu Ubaidah, sahabatnya).

Umar: “Kalau anda punya sekian banyak kambing, kemudian di hadapanmu ada dua padang rumput. Satu padang rumput yang sangat subur, dan satunya lagi tidak terlalu subur. Bukankah kalau anda kembalakan kambing ke tempat yang subur adalah takdir Allah dan bila anda kembalakan kambing ke tempat yang kurang subur juga takdir Allah?”

Disaat seperti itu, Umar seolah ingin mengatakan; kalaupun Umar dikatakan lari dari takdir Allah, sesungguhnya umar sedang pergi ke takdir yang lain. Karena dua-duanya takdir dari Allah SWT.

Ditengah perbedaan pendapat antara Umar dan Abu Ubaidah munculah sahabat mulia Abdurrahman bin Auf, r.a. Umar dengan kecerdasan dan posisinya sebagai pemimpin Islam serta Abu Ubadiah yang merasakan pedihnya Tha’un di Syam, keduanya tunduk dengan apa yang keluar dari lisan Abdurrahman bin Auf, r.a..

Umar dan Abu Ubaidah seketika menahan pendapatnya, dan mengikuti apa yang di sabdakan oleh Rasulullah SAW “Jika kalian mendengar suatu negeri dilanda wabah maka janganlah kalian memasukinya. Jika wabah itu terjadi di negeri tempat kalian tinggal, maka jangan keluar darinya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa melakukan karantina (Lockdown) menjadi sikap Rasulullah SAW dalam mencegah wabah penyakit menjalar ke negeri lain. Sebuah tindakan yang saat ini dilakukan banyak negara dalam mencegah penularan Virus Corona atau Covid19.

Istilah karantina kita hari ini adalah berasal dari kalimat Rasulullah SAW. Berdasarkan hadits tersebut Rasulullah SAW memerintahkan untuk karantina wilayah (bahkan sebuah negeri), bukan karantina gedung. Setelah di karantina, maka harus dicarikan solusinya. Bukan dibiarkan mati bergelimpangan.

Seluruh sahabat sepakat untuk kembali ke Madinah. Umar tidak jadi masuk ke Negeri Syam. Sementara Abu Ubaidah bin al-Jarrah kembali ke Negeri Syam, negeri yang sedang terkena wabah penyakit.

Bersambung DI SINI [WARDAN/DR]

Source: Khalifah Trans7

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait