Menu

Sempurnanya Agama Islam Dan Larangan Menyerupai Umat Agama Lain

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema Sempurnanya Agama Islam Dan Larangan Menyerupai Umat Agama Lain

Islam adalah agama yang sempurna. Tidak ada lagi yang kurang dari Islam. Segala macam aspek kehidupan manusia sudah diatur di dalam agama Islam; dari sisi ekonomi, – bagaimana cara mendapatkan rizki yang halal, – sudah diatur, dari sisi politik sudah diatur, dari sisi kehidupan perilaku manusia juga sudah diatur. Pergaulan antar manusia sudah ada aturannya. Hubungan kita dengan pencipta juga sudah ada aturannya. Bahkan kepada makhluk-makhluk Allah yang lain pun sudah ada aturannya. Jadi tidak ada yang kurang dalam Islam. Islam sudah sempurna. Semuanya sudah ada di dalam Islam. Kita hanya tinggal mempelajari aspek-aspek kehidupan tersebut dari sisi Islam. Kini kita tidak perlu ikut-ikutan, apalagi mengikuti orang-orang yang agamanya berbeda dengan kita. Sebab agama-agama itu mengatur kehidupan manusia. Ketika kita mengikuti orang lain berarti kita juga mengikuti agamanya. Kalau kita mengikuti perilaku orang-orang kafir, kita juga termasuk orang-orang yang seperti mereka. Kalau kita mengikuti perbuatan orang-orang Kristen, kita menjadi orang Kristen juga karena di dalam masing-masing agama terdapat aturan kehidupan mansuia. Karena itu kita tidak boleh ikut-ikutan. Di dalam agama kita Rasulullah Saw. menyatakan,

من تشبه بقوم فهو منهم

“Orang yang ikut-ikutan seperti orang lain, maka ia termasuk orang lain itu.”

Kalau kita ikut-ikutan orang Kristen, kita termasuk orang Kristen. Kalau kita ikut perbuatan orang-orang Yahudi, kita termasuk orang Yahudi. Kita harus hati-hati di dalam menjalani kehidupan ini. Memang ada yang sama yang boleh kita tiru, tapi ada yang tidak boleh kita tiru. Yang boleh kita tiru itu tentang ilmu-ilmu sains. Misalnya, mereka belajar matematika, kita juga belajar Matematika, belajar ilmu hitung. Kita juga sama memerlukan ilmu itu. Kita tidak mungkin mampu menghitung zakat atau harta peninggalan kalau kita tidak mengetahui ilmu Matematika. Bahkan yang menemukan ilmu-ilmu itu dulu adalah orang-orang Islam seperti al-Jabr yang menemukan ilmu Matematika. Tentang teknologi misalnya, – mereka bisa membuat pesawat, televisi, mobil, perahu, dan lain sebagainya, – kita boleh saja meniru mereka. Yang seperti ini tidak masalah kalau kita ikut mereka. Apalagi yang seperti itu mempunyai manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Segala sesuatu yang mempunyai manfaat yang besar bagi kehidupan manusia boleh saja diikuti. Mungkin orang sana mengetahui apa yang tidak kita tahu, maka kita boleh belajar ke sana. Misalnya, ilmu-ilmu kimia; bagaimana mereka bisa mempelajari ilmu kimia seperti itu, kita boleh saja mempelajarinya. Kita boleh saja ikut mereka atau belajar dari mereka dalam hal-hal tertentu. Yang tidak diperbolehkan adalah masalah-masalah suluk (perilaku manusia). Dalam hal perilaku kita tidak boleh ikut-ikutan dengan selain Islam. Mereka tidak cebok sehabis kencing, misalnya. Kita tidak boleh ikut mereka. Kita berbeda dengan mereka. Kalau laki-laki dari mereka berkunjung ke suatu negara sebagai turis, misalnya, cara berpakaiannya hanya memakai celana pendek dan kaos, sedangkan yang perempuan memakai celana pendek sehingga dengkul dan betisnya kelihatan. Perilaku seperti ini tidak boleh kita ikuti. Kita sudah mempunyai aturan yang sempurna kalau kita ingin menjadi orang yang terhormat. Kalau kita ingin menjadi orang yang terjaga dan kehidupannya tidak terancam, maka yang kita lakukan harus seperti apa yang telah diperintahkan oleh agama kita.

Kita tidak boleh ikut dalam hal perilaku, akhlak, atau tingkah laku. Misalnya, ucapan-ucapan kotor, atau melihat sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya terhadap kehidupan manusia. Yang seperti ini tidak boleh kita ikuti. Kita di dalam kehidupan ini sudah ada aturan-aturannya, bahkan sudah ada adabnya. Dalam hal makan saja, mungkin mereka makan memakai tangan kiri atau tangan kanan, saya tidak tahu aturan mereka. Tapi kalau aturan kita harus dengan tangan kanan. Kalau makan juga, aturan kita harus membaca bismillah dan mencuci tangan, sedangkan mereka kita tidak tahu aturan mereka. Kenapa kita meniru mereka, kalau makan tidak mencuci tangan atau membaca bismillah, sekalipun sebagian mereka juga banyak yang peduli dengan kebersihan? Kita umat Islam kadang-kadang dalam hal kebersihan masih ketinggalan dengan mereka. Tapi perilaku-perilaku selain Islam ini tidak boleh kita ikuti karena agama Islam sudah sempurna, tidak ada kekurangan sama sekali. Tasyabbuh biqaum (mengikuti orang lain) adalah perbuatan yang dilarang di dalam agama.

Karena itu Rasulullah Saw. dalam hal-hal tertentu, misalnya puasa, – orang-orang Yahudi dan Nashrani juga berpuasa, – juga ingin berbeda dengan mereka. Saat mereka pada tanggal 10 Muharram juga berpuasa, maka Rasulullah Saw. menyatakan, “Kalau tahun yang akan datang saya masih hidup, saya akan berbuasa sejak tanggal 9 Muharram.” Maksudnya apa? Supaya tidak sama dengan puasa mereka, sebab mereka juga melakukan puasa pada tanggal 10 Muharram. Bahkan Kiblat juga pada awal Islam menghadap ke Baitul Maqdis, bukan menghadap ke Ka’bah. Karena Rasulullah Saw. berpikir, “Ini kok sama saja.” maka Allah Swt. memerintahkan menghadap ke Ka’bah. Ini juga supaya berbeda. Jangan sama saja dengan mereka sehingga tidak ada perbedaan sama sekali. Di dalam perilaku ini juga kalau kita ikut mereka dengan alasan supaya dianggap modern justru berakibat tidak baik. Apa yang diatur oleh agama Islam tujuannya adalah supaya orang itu tetap dalam keadaan terhormat.

Contoh, kaum wanita disuruh menutup aurat karena Islam menghendaki supaya kaum wanita itu terhormat. Apalagi posisi wanita di dalam kehidupan ini adalah sebagai ibu bagi anak baik laki-laki maupun perempuan. Adanya laki-laki karena dibina oleh kaum wanita. Wanita ini mempunyai posisi yang sangat kuat sekali sehingga dikatakan “al-madrasah al-ula” atau “al-madrasah al-kubra”. Jadi sekolah pertama itu adalah kaum wanita. Kalau ibunya tidak terhormat karena perilakunya ikut-ikutan orang barat, – ingin bergaul bebas, pakainnya ingin model-model mutakhir seperti yang dilakukan oleh orang-orang barat, – maka bukan kehormatan yang dicapai oleh wanita, tetapi justru hinaan demi hinaan, seperti yang terjadi pada selebritis. Mereka dengan mempertotonkan auratnya di hadapan umum seperti itu, mungkin pada saat itu ia mendapat tepuk tangan, dilihat semua orang, diberi siulan, dan sebagainya sebagai tanda bahwa ia memiliki pengaruh atau tanda disenangi orang. Tapi begitu ia pulang, ia akan kembali berpikir sebagai manusia biasa. Kehidupan mereka juga tidak tenang. Banyak di antara mereka yang kawin-cerai berkali-kali, bahkan akhirnya putus asa, tidak mau menikah lagi. Apakah seperti itu yang dicari di dalam kehidupan ini? Tentu saja tidak. Semua orang mendambakan kehidupan yang tenang, bahagia, tentram, dan istiqamah. Semua orang menghendaki kebutuhan-kebutuhannya di dunia ini terpenuhi. Kalau hidup dengan gaya selebritis seperti itu, terkadang dia akan senang sekali, tapi kadang-kadang ia sedih. Bahkan mungkin akan menderita dalam waktu yang lama.

Tadi dikatakan bahwa ada wanita yang menjanda selama bertahun-tahun dan tidak berani lagi menikah karena merasa trauma dengan perilaku lelaki sebelumnya karena sudah dua atau tiga kali dikecewakan terus menerus. Apa itu yang dicari dalam kehidupan ini? Akhirnya dia akan menderita. Coba kalau dari awal dia sudah mengikuti petunjuk-petunjuk Allah, dia tidak akan mendapatkan seperti itu. Karena itu Islam sangat ketat dalam menjaga supaya orang-orang Islam tidak ikut-ikutan. Di dalam Islam itu sudah lengkap, tidak ada yang kurang sama sekali.

Kaum lelaki juga jangan ikut-ikutan mereka. Aurat misalnya, aurat lelaki memang tidak sama dengan aurat wanita, yaitu antara pusar dan lutut. Jangan sampai hanya karena main bola yang pada umumnya pahanya tidak ditutup, kemudian kita ikut-ikutan tidak menutup aurat. “Sudah umum. Ini peraturan internasional. Aturan ini sudah dimana-mana. Kita harus ikut.” Tidak boleh. Dulu pramuka harus memakai celana pendek. Bahkan sekolah SD dan SMP di negeri ini pun dulu lelakinya memakai celana pendek. Tapi kita dari awal selalu istiqamah menggunakan celana panjang. SD kita juga menggunakan celana panjang tidak ada apa-apa. Bahkan ternyata orang-orang mengikuti. Sekarang pramuka dengan celana panjang diizinkan di mana-mana. Hanya kadang-kadang kita dipaksa di Bogor, karena yang lain memakai celana pendek kita disuruh memakai celana pendek. Sekarang Departemen Agama membuat perkemahan santri nusantara dengan memakai jilbab bagi wanitanya dan memakai celana panjang bagi prianya. Itu pun tidak kalah prestasinya. Dan itu juga tidak dilarang. Hanya kenapa kita kadang-kadang latah mengikuti mereka? Ketika kita tidak bisa tidak harus mengikuti mereka seperti itu, ya terpaksa kita mengikuti mereka. Tetapi kalau kita tidak dalam kondisi terpaksa, sikap kita adalah yang dibolehkan oleh Islam kita lakukan, sedangkan yang tidak diperbolehkan tidak kita lakukan. Jangan sampai kita ini sebagaimana umumnya orang. Misalnya, Darunnajah Cipining ini menjadi juara sepak bola bukan hanya tingkat Jawa Barat, tetapi tingkat nasional, kemudian dikirim ke Manchester, aturannya di sana harus memakai celana pendek, barangkali dharurat sekali-kali seperti itu diperbolehkan. Tetapi bukan berarti kita dari awal sudah begitu. Kalau begitu bagaimana bermain sepak bola? Pakai celana panjang atau celana yang bisa menutup aurat lelaki. Jangan ikut-ikutan mereka. Kata Rasulullah Saw.,

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”

Kita yang suka menyerupai tingkah laku perbuatan orang-orang kristen berarti termasuk golongan orang Kristen, tidak diakui di dalam Islam. Orang yang suka mengikuti perbuatan orang-orang Budha juga termasuk orang-orang Budha, tidak diakui sebagai orang Islam. Hati-hati! Belakangan ini kita banyak terbawa oleh lingkungan, apalagi saat umur belasan, 12 – 18 tahun, kita akui bahwa keinginan untuk meniru orang lain sangat tinggi, keinginan untuk seperti orang lain itu ada. Rasulullah Saw. menjelaskan:

الناس على دين خليله

Seseorang itu bagaimana kawan dekatnya. Kalau kawan dekatnya rajin shalat, ia akan terbawa juga. Tapi kalau kawan-kawan dekatnya orang-orang yang tidak mau shalat, ia juga sulit untuk shalat. Ini seperti anak-anak ketika pulang ke rumah. Saat di lingkungan rumah bangunnya terlambat, bapaknya tidak pernah ke masjid, – Kalau ibunya jelas tidak ke masjid, – maka jama’ahnya pasti hilang. Yang putri mau jama’ah dimana? Di rumah. Barangkali libur seminggu, ya seminggu itu pula tidak berjama’ah. Di lingkungan juga tidak ada sarana yang memadai. Yang laki-laki pun demikian. Bisa jadi shalatnya ketinggalan. Karena malam terlalu larut dalam nonton tv, misalnya, sehingga paginya bangun lewat jam 6 dan subuhnya hilang. Memang lingkungan ini kuat sekali. Seseorang akan terpengaruh dengan siapa saja yang berada di lingkungan.

Maka bagaimana para santri ini tidak mudah terpengaruh? Supaya kita tidak mudah terpengaruh kita harus mengetahui dulu aturan dalam Islam seperti apa. Kita yakin bahwa Islam itu sudah tidak ada kekurangannya. Kita percaya Islam sudah sempurna. Kenapa yang dilarang dalam Islam kita lakukan, sedangkan yang diperintahkan kita tinggalkan? Kalau Islam itu sudah sempurna dan kita percaya Islam adalah agama kita, agama yang diridhai oleh Allah Swt., ikuti saja Islam kalau ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat. Kalau kita tidak mengikuti Islam, jelas apa yang diharapkan tidak akan tercapai.

Untuk bisa hidup bahagia, tenang, dan tentram, kalau kita tidak mengikuti Islam, itu tidak akan tercapai. Apa dikiranya orang yang sudah memiliki harta benda yang cukup banyak, posisi yang tinggi di kantor atau departemennya, otomatis orang itu mendapatkan kebahagiaan? Nanti dulu. Bisa jadi seperti belakangan ini, orang-orang yang mempunyai posisi tinggi dan harta yang banyak justru merasa tidak tenang karena simpanan di bank saja dicurigai oleh orang, mungkin dituduh korupsi dan lain sebagainya. Tidak serta merta dengan harta benda yang melimpah orang menjadi bahagia serta merasa tenang dan tentram.

Kehidupan di dunia ini tidak ada yang kekal abadi. Yang namanya senang pasti belakangnya ada rasa susah. Di dunia ini senang-susah bergantian. Tidak ada senang yang terus-menerus. Juga tidak ada susah yang terus menerus. Semua orang akan mengalami senang-susah secara bergantian. Kalau kita mengejar kesenangan terus, itu tidak mungkin. Orang yang di masa mudanya banyak bersenang-senang, maka di masa tuanya ia akan banyak mengalami kesusahan dan kesulitan. Misalnya, makan. Kalau di masa muda makanan apa saja yang diinginkan mampu dibeli, – makanan yang dianggap enak dan tersaji di restoran-restoran dan di hotel-hotel pernah dilahapnya. Bahkan makanan-makanan seperti itu menjadi makanan harian, – maka pada masa tuanya tiba-tiba penyakitnya bermacam-macam, – stroke, kanker, dan lain sebagainya, – dengan menumpuknya kolesterol di dalam tubuhnya. Tidak ada kesenangan yang abadi. Ketika di masa muda seseorang bersenang-senang terus, – saat orang lain belajar mati-matian, dia tidur saja, nonton tv saja, jalan-jalan ke sana kemari, – maka ketika teman-temannya sudah naik kelas, sudah sampai perguruan tinggi, sudah sarjana, dia tidak menjadi sarjana, dia senang saja, karena harta orang tuanya tidak akan habis dimakan atau digunakan untuk membeli kesenangannya. Dikiranya kalau sudah seperti itu nanti di masa tuanya akan tetap seperti itu? Tidak. Orang yang pada masa kecilnya bersenang-senang dan tidak mau belajar dengan serius, maka pada masa tuanya ia akan menyesal.

Dikisahkan ada orang kaya. Pada saat itu orang lain belum ada yang punya radio, dia sudah punya. Orang lain belum punya mobil, ia sudah punya. Apa saja yang pada saat itu orang lain belum punya ia sudah punya lebih dulu. Kalau di kampung mainan mobil-mobilan masih terbuat dari kulit jeruk, ia sudah mempunyai mobil-mobilan dengan menggunakan remote kontrol. Karena kehidupannya menyenangkan seperti itu ia malas belajar. Memang menyenangkan. Teman-temannya melanjutkan sekolah SLTP, ia tidak melanjutkan sekolah, dia malah mempunyai motor, asyik ke sana kemari. Teman-temanya melanjutkan lagi ke SLTA, ia sudah menikah, sudah punya cewek cantik. Karena anak orang kaya dia bisa memilih cewek cantik. Teman-temannya di perguruan tinggi, dia sudah mempunyai anak. Sekarang ini teman-temannya sudah mempunyai posisi dan bisa membeli mobil dan sebagainya, dia justru menjadi orang miskin, sedih rasanya. Anaknya banyak sedangkan dia tidak mempunyai pekerjaan. Warisan dari orang tuanya dijual sedikit demi sedikit. Akhirnya rumah pun tidak punya. Anak-anak jangan ada yang seperti itu.

Harta benda orang tua, apabila kita sebagai anak-anaknya tidak mempunyai ilmu yang tinggi, akan habis juga. Ilmu inilah yang harus kita tingkatkan. Jangan maunya hanya meniru orang lain. Orang lain melakukan balapan liar, kita ikut seperti itu. Kalau begitu kita akan hancur sebagaimana orang lain juga hancur. Ketika di masa remaja seperti ini kita banyak ikut-ikutan, tidak serius dalam meningkatkan ilmu kita, maka kita nanti akan menyesal di masa tua.

Apalagi perilaku kita ikut-ikutan dengan orang-orang non-muslim. Mereka tidak mempunyai aturan-aturan di dalam perilaku ini, sedangkan kita punya. Semuanya ada aturan-aturannya. Manusia diperintahkan shalat. Kenapa manusia diperintahkan shalat? Karena dengan shalat hati seseorang akan menjadi tenang, bersinar, dan terang, karena shalat itu bisa menghapuskan dosa. Dengan shalat Allah akan sayang kepada kita. Dengan shalat kita akan dihormati orang, menjadi orang terhormat. Dengan shalat kita akan mendapatkan petunjuk dari Allah Swt. Dengan shalat kita akan mendapatkan rizki dari Allah Swt. Dengan shalat juga kita akan mendapatkan kesehatan dari Allah Swt. Itulah shalat. Kenapa kita mesti shalat? Siapa yang tidak ingin rizki? Siapa yang tidak ingin mendapatkan petunjuk dari Allah Swt.? Siapa yang tidak ingin disayang oleh Allah Swt.? Siapa yang tidak ingin dosanya diampuni oleh Allah Swt.? Semua orang mendambakan itu. Karena itulah kita diperintahkan shalat. Sebab di dalam shalat itu terdapat usaha untuk mendapatkan itu semua. Dengan tekun shalat, bukan hanya shalat 5 waktu yang kita lakukan, tetapi juga shalat-shalat tambahan seperti Dhuha dan lain sebagainya, maka rizki yang kita terima ini akan diberkahi oleh Allah Swt. Seberapa pun banyaknya akan bisa dimanfaatkan. Sebaliknya bila orang tidak melakukan shalat, sekalipun rizki yang diterimanya banyak, belum tentu bermanfaat di dalam hidupnya. Mungkin yang dinikmati lebih sedikit daripada yang tidak bisa dinikmati. Apa ada rizki yang tidak bisa dinikmati? Rizki itu ada pada diri kita tetapi tidak bisa dinikmati.

Orang punya 5 rumah, misalnya, saat tidur apakah bisa tidur di 5 tempat? Ketika tidur ia hanya di satu kamar dimana dia tinggal. Yang lain siapa yang menikmati? Kosong. Pembantunya saja tidak boleh masuk ke situ. Jin yang menikmati karena jin suka tinggal di tempat-tempat yang kosong. Itu rizki yang tidak bisa dinikmati. Misalnya, kita mempunyai banyak uang. Mau makan apa saja bisa. Tetapi perut kita sekecil ini. Diisi satu piring nasi dengan bermacam-macam lauk pauknya saja sudah tidak muat. Akhirnya uang itu digunakan untuk apa? Tidak berguna. Hanya disimpan saja malah menjadi beban. Bagaimana dengan kebutuhan pakaian? Kita bisa membeli banyak pakaian. Seribu pun bisa. Jika pakaian tersebut hanya disimpan di lemari, numpuk-numpuk di lemari, malah kadang-kadang mempersempit rumah. Berapa pakaian yang dipakai? Coba hitung! Kaus dalam, baju, jas, celana dalam, dan celana panjang. Hanya itu saja. Di dalam lemari juga mungkin ada pakaian yang selama 3 – 4 tahun tidak terpakai. Kamu yang belum kaya saja mungkin ada pakaian kamu yang sebulan belum tersentuh. Ini menunjukkan bahwa yang dimiliki tidak bisa dinikmati. Apalagi nanti kalau uang itu dibelikan tanah, dibelikan macam-macam, belum dijadikan apa-apa sudah mati duluan, dinikmati orang lain. Kebutuhan kita sebenarnya tidak banyak. Orang yang mempunyai lima buah mobil kalau pergi memakai berapa mobil? Paling hanya satu saja. Semuanya tidak ikut mengawal.

Kenapa kalau kebutuhan kita hanya segitu, selama 24 jam dari bangun tidur sampai kembali tidur, kita hanya berpikir tentang harta? Kita akan rugi. Kapan senangnya? Kapan bahagianya? Kapan menikmatinya? Islam mempunyai pandangan seperti itu. Jadi bukan menjadi konglomerat yang mempunyai harta di mana-mana, tapi hanya bangga saja. Apa senangnya? Tidak bisa menikmati harta kekayaan. Jangan sekali-kali kita meniru-niru. Di dalam Islam petunjuk-petunjuk tentang tata cara hidup sudah ada aturannya. Pelajari terus! Bagaimana kita mencari rizki sudah ada petunjuknya.

Bagaimana kamu bisa mendapatkan rizki yang berguna untuk kehidupan sudah ada petunjuknya. Orang non-muslim berbeda dengan orang Islam. Orang Islam yang kaya banyak melakukan shadaqah. Karena dengan shadaqah rizkinya malah tambah lancar. Allah memberikan ganti berlipat ganda. Ia semakin kaya hartanya digunakan juga untuk wakaf atau menunaikan ibadah haji. Bermanfaat. Tetapi orang non-muslim justru semakin kaya, semakin sibuk, sehari-hari hanya mengurus yang seperti itu.

Inilah anak-anak sekalian tentang kesempurnaan agama kita. Kita tidak perlu lagi meniru orang lain karena agama kita sudah sempurna.

Cukup sekian saja pengajian pada pagi ini. Anak-anak teruskan belajar dengan serius dan sungguh-sungguh, karena ilmu pengetahuan kitalah yang akan mengangkat derajat kita. Ilmu pengetahuan kita yang didukung dengan keimanan itulah yang akan menjadikan kita hidup tenang, tentram, dan juga mempunyai derajat dan posisi yang tinggi.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema Sempurnanya Agama Islam Dan Larangan Menyerupai Umat Agama Lain

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Pembacaan Tengko Disiplin Pesantren Nurul Ilmi

Serang 12 Desember 2019, Alhamdulillah Hari Minggu Tepatnya malam senin telah terlaksana pembacaan Tengko Santri lama dan Santri Baru. Pada kesempatan kali ini pembacaan Tengko