Satu Kata yang Bisa Merangkum Seluruh Maqashid Syari'ah Satu Kata yang Bisa Merangkum Seluruh Maqashid Syari'ah

Satu Kata yang Bisa Merangkum Seluruh Maqashid Syari’ah

Imam al ‘Izz bin Abdussalam, beliau secara mutlak merupakan ulama Islam terkemuka. Beliau pernah mengatakan: Jika kamu ingin mengumpulkan seluruh Maqasid Syari’ah (Tujuan Inti Syari’at) dalam satu kata, Beliau pernah berkata: Apabila kita ingin mengumpulkan seluruh tujuan inti syari’at dalam satu kata, maka kata apakah itu?

Kalian akan mempelajari pada tahun-tahun pelajaran di masa yang akan datang, bahwa maqashid syari’ah terhimpun dalam lima kalimat:

  1. Menjaga jiwa. Oleh karena itu, Allah melarang melakukan pembunuhan.
  2. Menjaga akal. Oleh karena itu, Allah melarang meminum minuman keras.
  3. Menjaga agama. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan fardhu-fardhu serta syari’at-syari’at dalam agama Islam.
  4. Menjaga harta. Oleh karena inilah, Allah melarang dari mencuri dan menyia-nyiakan harta.
  5. Menjaga kehormatan dan harga diri manusia.

Sesungguhnya tema yang dibahas oleh para ulama, dan yang akan kalian pelajari dengan detil di tahun-tahun pelajaran akan datang, bahwa maqashid syari’at (tujuan inti syari’at) itu kembali kepada 5 kalimat, yaitu menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga agama, menjaga harta, dan menjaga kehormatan.

Namun Imam Izzuddin bin Abdussalam, dahulu berpendapat ada makna yang lain. Beliau berpendapat bahwa seluruh maqashid syari’ah, bisa dirangkum oleh satu kata.

Beliau mengatakan, jika kita rangkum menjaga jiwa, akal, agama dan lain sebagainya, jika kita rangkum Al Qur’an yang mulia dan sunnah yang luhur, jika kita rangkum fiqih, ilmu, sejarah, sirah nabawiyah, jika kita rangkum semua hal itu dalam agama Islam, maka itu mungkin dirangkum dalam satu kata.

Apa pendapatmu, apa satu kata tersebut? Apa satu kata itu, yang bisa mendeskripsikan segala hal dalam Islam?

Imam ‘Izzuddin bin Abdussalam mengatakan: Satu kata yang bisa merangkum seluruh maqashid syari’ah adalah: “Ihsan” (berbuat kebajikan).

Kata “Ihsan” berarti seseorang berakhlak, bersikap, dengan baik terhadap segala sesuatu.

Imam Izzuddin bin Abdussalam sendiri mengatakan: Sesungguhnya ihsan terdiri dari empat tingkatan:

  • Berbuat ihsan (kebajikan) dalam berinteraksi dengan Allah, maka kita tidak akan bermaksiat kepada-Nya sama sekali.
  • Berbuat ihsan dalam berinteraksi dengan makhluk, maka kita tidak akan menyakiti seorang pun sama sekali.
  • Berbuat ihsan dalam berinteraksi dengan diri sendiri, maka kita tidak bermaksiat sedikit pun.
  • Berbuat ihsan dalam berinteraksi kepada binatang. Karena sabda Nabi saw:

    إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ

    “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk berbuat ihsan terhadap segala sesuatu. (HR. Muslim)”

Dengan demikian, satu kata yang merangkum seluruh tujuan mulia syari’at adalah kata “Ihsan”.

Kata Ihsan bisa ditafsirkan dengan 5 kalimat yang akan kita hafalkan bersama-sama.

Prinsip pertama di antara prinsip-prinsip Ihsan, bahwa Allah swt memerintahkan kita untuk menghormati segala sesuatu di alam semesta. Yakni, kita menghormati semesta seluruhnya. Kita menghormati manusia, menghormati benda mati, menghormati tumbuhan. Yaitu kita berinteraksi kepada semua itu dengan penuh cinta.

Karena Allah swt, telah mengajarkan kita di dalam Al Qur’an dengan firman-Nya:

وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ

“Tidaklah segala sesuatu melainkan bertasbih memuji-Nya” (QS. Al Isra’: 44)

Kita menghormati seluruh yang bertasbih memuji Allah. Al Qur’an juga di permulaan ayat-ayat yang penuh kebijaksanaannya di Surat Al Fatihah, telah mengajarkan kita untuk mengucapkan:

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al Fatihah: 2)

Artinya, Allah mengajarkan manusia muslim di awal bacaan Al Qur’annya, bahwa ada hubungan yang terjalin antara dia dan semesta.

Jadi apa makna dari semesta? Yaitu segalanya; manusia, jin, malaikat, muslim maupun non muslim, benda, hewan, tumbuhan, hutan-hutan dan pepohonan, sungai dan jalanan.

Jadi bentuk pertama dalam bentuk perbuatan ihsan, bahwa prinsip pertama adalah menghormati semesta. Allah swt mengajarkan kita dengan firman-Nya:

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al Fatihah: 2).

Sehingga seorang insan muslim menyadari bahwa ada hubungan yang terjalin dengan semesta. Kemudian Allah juga mengajarkan bahwa Nabi kita (Muhammad) SAW, datang sebagai rahmat bagi semesta.

Jadi seorang insan muslim harus selalu perhatian, selalu merenungi tentang tata cara mempersembahkan rahmat kepada semesta alam. Segala penjabaran ini, dirangkum dalam satu kalimat, yaitu : Menghormati semesta.

Dengan demikian, ketika kita ingin menjelaskan kata ihsan secara rinci, prinsip pertama di antara prinsip-prinsip ihsan, yaitu menghormati semesta.

Menghormati semesta maknanya adalah bahwa seorang muslim bersikap kepada segala sesuatu di alam semesta dengan penuh cinta, bukan dengan kebencian. Bahwa seorang muslim berinteraksi dengan segala sesuatu di alam semesta dengan kebajikan.

Prinsip ke-dua: Setelah menghormati semesta adalah prinsip: Memuliakan manusia.

Apa makna dari memuliakan manusia? Maknanya adalah bahwa syari’at yang mulia, memerintahkan kita untuk berinteraksi kepada seluruh makhluk dengan prinsip pemuliaan, kepada seluruh manusia di atas muka bumi, baik itu muslim maupun non muslim, kita berinteraksi dengan penuh penghormatan kepada seorang muslim maupun non muslim.

Syari’at yang mulia, memerintahkan kita untuk berinteraksi dengan penuh hormat dengan seluruh manusia yang beriman maupun tidak beriman. Di mana kita temukan hal ini dalam syari’at? Kita temukan dalam firman Allah swt dalam surat al Isra’:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ

“Dan sungguh telah kami muliakan anak cucu Adam” (QS. Al Isra’: 70).

Artinya manusia siapa pun dia, Muslim, Kristen, Budha, Hindu, atau bahkan Atheis, siapa pun dia di muka bumi, kita berinteraksi dengannya dengan penuh kehormatan.

Sehingga kita tidak otoriter terhadapnya, tidak mengancamnya, tidak bermusuhan dengannya, tidak menghadapinya dengan senjata, namun kita sikapi dengan seadil-adilnya.

Allah swt berfirman:

وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ

“Dan janganlah kamu mendebat ahlul kitab melainkan dengan jalan yang terbaik” (QS. Al ‘Ankabut: 46).

Bahkan ketika terpaksa harus berdebat kepada seorang non muslim, apakah perdebatan kita itu cukup dengan perdebatan yang baik saja? Tidak! Tapi harus dengan yang terbaik.

Kita simpulkan dari semua ini, bahwa syariat yang luhur memerintahkan kita pertama kali untuk mengormati semesta, kemudian ke-dua memuliakan manusia. Oleh karena itu, maka prinsip yang kedua adalah prinsip: Memuliakan manusia.

Kita telah menyebutkan prinsip yang pertama, yaitu menghormati semesta. Sekarang kita akan menyebutkan prinsip yang ke-dua yaitu memuliakan manusia.

Prinsip yang ke-tiga: Yaitu bahwa syari’at yang luhur memerintahkan setiap orang di antara kita agar mengabdi kepada tanah airnya.

Waspadalah! Beberapa aliran radikal, dari golongan Ikhwanul Muslimin, juga golongan Salafiyah, mereka mengajarkan manusia dengan pemikiran takfir (mengkafirkan orang lain), mereka membuat orang mengkafirkan negaranya, juga menggengam senjata melawan anak sebangsa.

Jika kita sampaikan kepadanya, bukankah merupakan sebuah kewajiban dalam agama untuk menghormati negara? Dia akan menjawab: “Tidak. Negara hanyalah sebongkah tanah”. Ini merupakan ucapan dusta.

Negara lebih besar dan lebih berharga dari itu. Sesungguhnya kami telah melakukan penelitian tentang perkataan para ilmuwan Islam, dari kalangan ahli Tafsir, ahli Hadits, ahli Fiqh, ahli Sastra, lantas kami temukan betapa sangat luar biasanya perkataan para ilmuwan muslim dalam menghormati negara.

Bahwa seorang Imam Ibnu al Jauzi sang pemberi nasehat, beliau mengatakan dalam sebuah buku karangan beliau: Negara itu harus senantiasa dicintai. Imam Al Hafidzh Ibnu Hajar, gurunya para pakar hadits dalam kitab Fathul Bari menyebutkan salah satu hadist Nabi, kemudian beliau mengatakan dalam hadits ini mengandung dalil disyari’atkannya cinta terhadap tanah air dan sayang terhadap negara. Ini merupakan ucapan para ulama dan orang-orang taat.

Dengan demikian, kalimat pertama adalah: Menghormati semesta. Kalimat ke-dua adalah: Memuliakan manusia. Kalimat ke-tiga adalah: Menjaga negara. Kalimat ke-empat adalah: Meningkatkan kemakmuran.

Meningkatkan kemakmuran maknanya adalah bahwa syari’at yang luhur memerintahkan setiap dari kita agar menjadi sukses, dan tidak menjadi beban orang lain, bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan cara sukses menjalani profesinya. Sungguh Nabi saw berkata kepada salah seorang sahabatnya:

إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan itu lebih baik dibandingkan kamu meninggalkan mereka menjadi beban, meminta-minta kepada orang lain” (HR. Bukhari).

Dan tidak mungkin mewujudkan itu semua, kecuali apabila seseorang sukses dalam menggeluti salah satu bidang profesi. Seseorang bisa menjadi seorang dokter yang sukses, atau tukang kayu yang sukses, atau guru universitas, guru fisika, atau insinyur. Setiap orang harus sukses dalam profesi yang dijalaninya.

Sesungguhnya kami telah menelusuri berbagai profesi dan pekerjaan yang ada di zaman kenabian, dan diperhatikan oleh Nabi saw. Maka kami temukan adalah lebih dari dua ratus profesi yang dijalankan oleh para sahabat yang mulia. Para ulama juga mengarang banyak buku tersendiri dengan tema berbagai pekerjaan dan profesi yang ada di zaman kenabian.

Ini maknanya agar seseorang itu sukses dalam kehidupan, agar benarbenar menguasai profesi dan pekerjaannya. Sehingga negara kita penuh dengan kemakmuran. Jadi tujuan ke-empat di antara maqashid syari’ah, kalimat ke-empat adalah: Meningkatkan kemakmuran.

Kita lanjutkan dengan kalimat terakhir, yaitu kalimat: Menambah keimanan.

Setelah semua yang disebutkan tadi, seseorang kembali kepada Tuhannya. Sehingga dia beribadah kepada Allah di atas pengetahuan, dan memperbanyak mengingat dan bersyukur kepada Allah, menjalankan segala kewajiban dan perintah-Nya. Dirinya dipenuhi dengan ketenangan. Karena dia telah menghormati semesta, memuliakan manusia, menjaga negara, dan memenuhi dunia ini dengan kemakmuran peradaban.

Maka ketika ini, dia pun menyembah Allah dengan penuh ridha. Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya;

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ

“Baginda dan junjungan kita; Muhammad: Dan Tuhanmu akan memberikan kepadamu sampai engkau puas” (QS. Adh Dhuha: 5).

Apakah mungkin ada di antara kita ada yang membayangkan, bahwa jika seorang muslim di hadapan seluruh dunia menjalani kelima hal tersebut, bagaimana jadinya reputasi orang-orang muslim di hadapan dunia? Apakah mereka akan disibukkan dengan aksi teror? Atau mengarahkan senjata satu sama lain? Atau mengkafirkan satu sama lain? Tidak mungkin sama sekali.

Bahkan setiap orang muslim akan muncul dengan menjadi manifestasi maupun contoh akhlak Nabi Muhammad yang akan dilihat oleh umat manusia, sehingga mereka mencintai Islam dari jalan itu.

.

.

.

Berikut adalah rangkuman tentang IHSAN yang disampaikan langsung oleh Syekh Dr. Usamah bin as-Sayyid al-Azhari, Ulama Al-Azhar Asy-Syarif Mesir yang juga Penasehat Presiden Republik Arab Mesir berkesempatan mengunjungi Pondok Pesantren Darunnajah pada hari Rabu, 21 Rabi’uts Tsani 144 H/16 November 2022 M.

(DN.COM/almas_khalishah)

Foto Bersama Syekh Dr. Usamah bin as-Sayyid al-Azhari dengan Pimpinan dan Seluruh Santri Darunnajah
Foto Bersama Syekh Dr. Usamah bin as-Sayyid al-Azhari dengan Pimpinan dan Seluruh Santri Darunnajah