Kata-Kata Buya Hamka Yang Menyentil Kehidupan Masa Kini
Menu

Kata-Kata Buya Hamka Yang Menyentil Kehidupan Masa Kini

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email
Buya Hamka

Prof. Dr. Haji Abdul Malik bin Dr. Syaikh Haji Abdul Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan julukan Buya Hamka. Seorang sastrawan, aktivis, ulama serta ahli filsafat yang lahir di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, di Sungai Batang, Tanjung Raya, pada tanggal 17 Februari 1908.

Karya-karya tulis Buya Hamka yang terkenal yaitu buku Tenggelamnya Kapal van Der Wijk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Tidak hanya terkenal dengan berbagai karyanya. Buya Hamka juga tersohor berkat pemikiran-pemikarannya yang luar biasa. Dari hal tersebut banyak keluar kalimat-kalimat inspiratif yang tidak hanya digunakan sebagai motivasi tetapi juga untuk menyentil atau mengingatkan jika ada yang salah.

Di bawah ini ada beberapa quotes dari Buya Hamka yang cukup menyentil berbagai aspek kehidupan saat ini. Penasaran? Simak yuk!

1. Iman tanpa ilmu bagaikan lentera ditangan bayi. Namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri

Indonesia sebagai negara yang plural tentu tidak diisi dengan satu agama saja. Ada berbagai agama yang hadir dinegara Indonesia. Ketika seorang Buya Hamka berkata bahwa pentingnya sebuah ilmu berbanding lurus dengan iman atau kepercayaan seseorang. Hal itu bermakna bahwa ilmu saja tidak akan cukup dalam hidup ini.

Pedoman sejati yang menuntun kita manusia adalah keimanan atau kepercayaan terhadap agama masing-masing serta menjalankan perintah agama dengan baik. Jika hanya mengandalkan sebuah ilmu saja atau keimanan saja.

Maka yang terjadi tidak adanya keselarasan dalam hidup karena masing-masing golongan hanya mementingkan golongannya sendiri.

2. Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja

Quotes legendaris dari Buya Hamka satu ini seakan tidak lekang oleh waktu. Quotes ini cukup menjentik bagaimana kondisi saat ini. Hidup tidak akan berubah tanpa bekerja dan jika pun bekerja tidak hanya sekadar bekerja saja. Kerja keras penting namun yang lebih penting lagi adalah kerja cerdas.

3. Hidup itu laksana lautan jika tidak berhati-hati maka kamu akan tergulung ombak

Kehidupan laiknya lautan yang jika tidak berhati-hati mata dipastikan akan tersapu ombak. Ungkapan Buya Hamka tersebut sangat relevan jika diterapkan dalam kondisi kehidupan saat ini. Lebih berhati-hati dan terus mengembangkan potensi diri adalah salah satu kunci jika tidak ingin tersapu ombak kehidupan.

4. Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas

Jangan pernah malas dalam hidup. Menurut Buya Hamka dalam hidup tidak ada tempat untuk seorang pemalas. Jangan pernah mau diperbudak dengan kemalasan. Lalui hari-harimu dengan semangat produktivitas tanpa batas dan jangan pernah malas ya guys.

5. Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukan buat dirinya sendiri

Cukup menohok memang kalimat di atas. Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa bergantung dengan orang lain. Dari situ juga kita perlu mengingat kembali bahwa bersikap individualis bukanlah hal yang baik dalam hidup ini.

6. Kemunduran negara tidak akan terjadi kalau tidak kemunduran budi dan kekusutan jiwa

Mungkin kalimat di atas harus lebih dicermati oleh para pemimpin yang saat ini sedang memangku jabatan yang besar. Menurut Buya Hamka sebuah negara akan mengalami kemunduran jika mengalami kemunduran budi dan kekusutan jiwa.

Maksudnya adalah ketika kondisi baik pemimpin atau masyarakat tidak memiliki keselarasan tujuan serta inging saling menjatuhkan. Maka bisa dibilang hal tersebut adalah suatu kemunduran bagi negara.

7. Sebesar-besar atau seberat-berat urusan, jangan dihadapi dengan muka berkerut. Kerut muka itu dengan sendirinya menambahkan lagi kerut pekerjaan itu

Ketika menghadapi suatu masalah Buya Hamka berpesan bahwa jangan dihadapi dengan wajah berkerut. Namun cobalah hadapi semampu mungkin masalah itu. Jika sebuah masalah hanya ditimpali dengan wajah berkerut tanda kesulitan. Maka hasilnya bukan sebuah jalan keluar yang didapat namun sebuah masalah yang jauh lebih besar.

Kehidupan tentunya menyimpan sejuta misteri. Yang pasti adalah bagaimana kita harus tetap survive dan terus maju menatap masa depan yang lebih baik.

(Santri Tv/Rafi)

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Rapat Koordinasi Musyrif Kamar Pengasuhan Santri

Ahad (09/08/2020) Biro Pengasuhan Santri melakukan rapat bersama dengan para musyrif kamar seluruh rayon untuk menyampaikan beberapa poin mengenai peran musyrif sebagai pembimbing kamar setiap

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Tadabbur Al Qur’an, Memetik makna hikmah yang sesungguhnya

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.