Ada momen menarik saat kunjungan Syaikh Abdul Aziz al-Thani dari Qatar sore itu. Saat berkeliling di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Matanya menangkap pemandangan yang membuatnya berhenti melangkah: sekelompok santri remaja, mengenakan baju olahraga sedang menyapu halaman asrama dengan khusyuk. Di sudut lain, santri lainnya mengangkut sampah. Yang lain lagi sedang mengepel teras masjid.
“Mengapa anak-anak ini menyapu?” tanyanya kepada pengasuh yang mendampingi, nada suaranya campuran heran dan penasaran. “Bukankah bisa dipekerjakan tukang kebun?”
Sang pengasuh tersenyum. “Ya Syaikh, ini bukan soal kebersihan semata. Ini pendidikan kepemimpinan.”
“Kepemimpinan?” alis Syaikh Abdul Aziz terangkat.
“Sayyidul qoum khodimuhum—pemimpin kaum adalah pelayan mereka. Kami sedang menyiapkan pemimpin sejati. Dan pemimpin sejati harus mengerti rasanya melayani. Mereka tidak sedang melayani saya,” lanjut sang pengasuh, “mereka sedang beribadah kepada Allah dengan melayani kepentingan bersama. Pondok hanya memberi wadah dan arahannya.”
Syaikh Abdul Aziz terdiam. Lalu perlahan mengangguk. Ada kilat pengertian di matanya—seolah ia baru saja menemukan kembali mutiara yang selama ini tersembunyi di balik debu zaman.
Fenomena yang Sama di Belahan Dunia Berbeda
Ribuan kilometer dari pesantren itu, di sebuah sekolah dasar di Tokyo, pemandangan serupa terjadi setiap hari. Pukul 12.30, bel berbunyi. Bukan bel pulang, melainkan bel o-soji—waktu bersih-bersih. Selama 20 menit, seluruh siswa—tanpa kecuali—mengambil sapu, kain pel, dan ember. Mereka membersihkan kelas, koridor, bahkan toilet.
Yutaka Okihara, penulis buku Gakko Soji (School Cleaning), mencatat pesan moral di balik tradisi ini: “Tidak ada pekerjaan, bahkan pekerjaan kotor seperti membersihkan, yang terlalu rendah untuk seorang siswa. Semua harus berbagi secara setara dalam tugas bersama. Pemeliharaan sekolah adalah tanggung jawab semua orang.”
Yang menarik, di Jepang, anak konglomerat dan anak sopir duduk bersama membersihkan toilet yang sama. Anak yang populer menyapu lantai. Anak yang pandai mengepel jendela. Tidak ada yang merasa tugasnya lebih “mulia” dari yang lain.
Fenomena serupa, bahkan lebih intens, terjadi di pesantren-pesantren Indonesia. Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, yang didirikan tahun 1926, tradisi khidmah menjadi tulang punggung pendidikan karakter. Setiap santri—tanpa memandang latar belakang keluarga—wajib mengikuti jadwal piket: menyapu halaman, membersihkan kamar mandi, mencuci piring di dapur umum, hingga menjaga keamanan malam. Tidak ada pengecualian.
Hal yang sama berlaku di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, pesantren yang berdiri setengah abad lalu ini tetap mempertahankan tradisi khidmah sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum pembentukan karakter. Yang menarik, Darunnajah sebagai pesantren kota menerima santri dari berbagai kalangan—termasuk anak-anak pejabat tinggi negara, pengusaha besar, dan tokoh masyarakat. Namun di dalam asrama, semua status sosial itu luruh. Anak seorang menteri menyapu halaman bersama anak pedagang kaki lima. Anak konglomerat mengepel kamar mandi yang sama dengan anak petani dari desa. Putra jenderal mencuci piringnya sendiri di dapur umum.
Tidak ada pelayan pribadi. Tidak ada perlakuan istimewa. Semua santri setara di hadapan tugas dan tanggung jawab bersama.
Catherine C. Lewis, dalam bukunya Educating Hearts and Minds (1995), mengungkapkan bahwa keberhasilan pendidikan Jepang bukan semata karena kurikulum akademik yang ketat, melainkan karena sekolah berhasil memenuhi kebutuhan anak akan rasa memiliki, persahabatan, dan kontribusi. Setiap anak—bukan hanya yang pintar atau berperilaku baik—merasa menjadi bagian berharga dari komunitas sekolah. Prinsip yang persis sama diterapkan di Gontor, Darunnajah, dan mayoritas pesantren lainnya.
Dua Tradisi, Satu Ruh
Di sinilah pesantren dan sekolah Jepang bertemu dalam satu titik filosofis yang mengagumkan.
Tradisi khidmah di pesantren telah berusia ratusan tahun. Namun perlu dipahami dengan benar: khidmah bukanlah pengabdian kepada Kyai secara personal. Khidmah adalah pengabdian kepada Allah SWT dan kemaslahatan sesama, yang diwujudkan melalui tugas-tugas yang diberikan oleh pondok pesantren. Kyai, sebagai pengasuh, adalah fasilitator yang mengarahkan—bukan tujuan dari pengabdian itu sendiri.
Santri menyapu halaman, membersihkan masjid, memasak di dapur umum, menjaga keamanan asrama—semua itu adalah bentuk ibadah dan latihan jiwa. Ada ungkapan masyhur di kalangan pesantren: Al-’ilmu bi al-ta’allum, wa al-barokah bi al-khidmah—ilmu diperoleh dengan belajar, berkah diperoleh dengan mengabdi. Mengabdi di sini bermakna mengabdi kepada Allah melalui pelayanan kepada sesama dan lembaga pendidikan yang menaunginya.
Riset Abdillah dan Maskuri (2022) dalam jurnal Nazhruna menunjukkan bahwa tradisi khidmah di pesantren membentuk karakter santri yang khas: keikhlasan, kemandirian, rasa hormat, kerendahan hati, dan kepekaan sosial. Khidmah bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan “laboratorium karakter” yang memproduksi empati secara otentik. Ketika santri membersihkan kamar mandi yang dipakai ratusan temannya, ia sedang beribadah kepada Allah sambil melayani sesama—bukan melayani satu orang.
Bandingkan dengan temuan dari Jepang: praktik gakko soji menanamkan pada anak-anak bahwa “tidak ada pekerjaan—bahkan membersihkan kamar mandi—yang hina.” Anak-anak tumbuh menjadi warga negara yang selalu memperhatikan kebaikan dan kebahagiaan sesama. Tidak heran sepeda tidak pernah dikunci di Jepang karena tidak akan dicuri. Orang-orang tenang bahkan di metro yang penuh sesak.
Dua tradisi. Dua benua. Dua agama. Tapi satu ruh: kepemimpinan lahir dari pelayanan.
Apa yang Kuliah Tidak Bisa Ajarkan
Ada sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh ceramah, slide PowerPoint, atau buku tebal tentang kepemimpinan: empati somatik—pemahaman yang tertanam dalam tubuh, bukan sekadar di kepala.
Ketika seorang anak memegang gagang sapu dan menyapu halaman yang luas, tubuhnya “belajar” sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh kata-kata. Ia merasakan lelahnya, monotonnya, “rendahnya” pekerjaan itu. Dan pengalaman itu tertanam dalam—menjadi bagian dari cara ia memandang dunia.
Kelak, ketika ia menjadi direktur perusahaan, ia tidak akan memandang rendah cleaning service yang membersihkan kantornya. Ketika ia menjadi pejabat, ia tidak akan menghardik sopir yang mengantarnya. Ketika ia menjadi kyai, ia tidak akan merasa terlalu tinggi untuk mengangkat sampah.
Michael Auslin, mantan guru bahasa Inggris di Jepang yang kini menjadi peneliti di American Enterprise Institute, merangkumnya dengan tepat: “Sekolah bukan hanya untuk belajar dari buku. Sekolah adalah untuk belajar menjadi anggota masyarakat dan bertanggung jawab atas diri sendiri.”
Inilah yang hilang dari banyak model pendidikan modern: kita mengajarkan kepemimpinan melalui teori, bukan melalui praktik pelayanan. Kita bicara tentang “servant leadership” di seminar-seminar mahal, tapi tidak pernah meminta pesertanya menyentuh sapu.
Padahal Rasulullah SAW, pemimpin terbesar sepanjang sejarah, menjahit sandalnya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan tidak pernah merasa pekerjaan rumah tangga “di bawah” kedudukannya.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Pertama, kembalikan khidmah sebagai kurikulum inti, bukan sekadar tradisi sampingan. Di banyak pesantren modern, tradisi khidmah mulai terkikis. Santri datang untuk “sekolah”, bukan untuk “mengabdi”. Orang tua khawatir anaknya “dipekerjakan”. Padahal justru di situlah letak pendidikan yang paling otentik.
Kedua, perkenalkan praktik serupa di sekolah-sekolah umum. Beberapa sekolah di Singapura, Inggris, bahkan Amerika Serikat, mulai mengadopsi model cleaning time ala Jepang. BBC melaporkan bahwa sekolah di Singapura yang menerapkan waktu bersih-bersih mendapat dukungan luas dari orang tua karena anak-anak mengembangkan kebiasaan baik sejak dini.
Ketiga, ubah narasi tentang “pekerjaan rendah”. Selama kita masih bicara tentang pekerjaan “kasar” dan pekerjaan “terhormat”, kita sedang menanamkan benih arogansi di benak anak-anak kita. Setiap pekerjaan yang halal adalah mulia. Dan pemimpin terbaik adalah yang pernah merasakan semua jenis pekerjaan.
Keempat, jadikan pengalaman melayani sebagai syarat kepemimpinan. Di pesantren tradisional, santri tidak bisa menjadi pengurus atau ustadz senior tanpa melewati fase khidmah—mengabdi kepada kepentingan bersama melalui berbagai tugas yang diberikan pesantren. Prinsip ini bisa diadopsi: sebelum seseorang dipromosikan menjadi manajer, ia harus pernah merasakan posisi paling “bawah” di organisasinya.
Dampak yang Kita Rindukan
Bayangkan sebuah generasi yang tumbuh dengan filosofi sayyidul qoum khodimuhum tertanam dalam tulang-tulangnya.
Bayangkan politisi yang memiliki empati karena ia tahu rasanya hidup sederhana. Bayangkan CEO yang tidak semena-mena karena ia pernah menyapu lantai pabrik. Bayangkan kyai yang tidak sombong karena ia pernah mencuci piring di dapur pesantren. Bayangkan guru yang tidak angkuh karena ia pernah membersihkan toilet sekolah.
Ini bukan utopia. Ini adalah produk nyata dari sistem pendidikan yang menempatkan pelayanan sebagai fondasi kepemimpinan.
Jepang membuktikannya: negara dengan tingkat kejahatan terendah, kebersihan publik tertinggi, dan etos kerja yang dikagumi dunia. Pesantren Gontor membuktikannya: melahirkan ulama-ulama besar yang rendah hati, pemimpin-pemimpin yang melayani, dari KH. Hasyim Muzadi hingga Din Syamsuddin.
Syaikh Abdul Aziz al-Thani, tamu dari Qatar itu, mungkin sudah kembali ke Doha. Tapi pertanyaannya masih bergema: “Mengapa anak-anak ini menyapu?”
Jawabannya sederhana: karena kami sedang mencetak pemimpin. Dan pemimpin sejati bukan yang pandai memerintah, melainkan yang mahir melayani.
Sapu di tangan santri itu bukan alat kebersihan. Ia adalah alat pendidikan paling canggih yang pernah diciptakan peradaban manusia.
“Pemimpin kaum adalah pelayan mereka.” — Hikmah Arab
“Tidak ada pekerjaan, bahkan pekerjaan kotor, yang terlalu rendah untuk seorang siswa.” — Yutaka Okihara, Gakko Soji
Ulujami, 19 Januari 2026




