SANTRI PUTRI NON ASRAMA DAN MASYARAKAT DI LOKASI SAFARI DA’WAH “SAMA-SAMA KECEWA”

SANTRI PUTRI NON ASRAMA DAN MASYARAKAT DI LOKASI SAFARI DA’WAH “SAMA-SAMA KECEWA”

Bersilaturahim ke berbagai Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Ahlul Bait, Aparat Pemerintahan,
Menghidupkan Masjid dan Mushollah,
Menggairahkan Pramuka di berbagai SD,
Membantu guru-guru ngaji dan guru-guru SD,
Sholat malam, Jama’ah 5 waktu,
Bakti sosial,
Membaur dalam Majlis Ta’lim Remaja maupun Orang Tua.

Di atas tersebut adalah untaian kegiatan inti santri Darunnajah dalam setiap safari da’wahnya. Durasi safri da’wah sendiri sekitar 3 hari 2 malam. Dengan durasi yang sesingkat itulah bisa jadi banyak menimbulkan kekecewaan bagi kedua belah pihak, baik bagi santri Darunnajah sendiri maupun dari masyarakat di lokasi safari da’wah.

Rupanya hal itu pula lah yang dialami dalam safari da’wah santri putri non asrama kali ini. Tanggal 20 April mereka mendapat briefing dari Biro Humas dan Da’wah Darunnajah, yang saat itu diwakili oleh ust. Muhlisin, S.H.I dan Ustadzah Ela Hulasoh, S.Sos. Tanggal 21 April 2009 tepat pukul 08.00 pagi mereka dilepaskan di Lapangan Basket Darunnajah, dan siap belajar bermasyarakat dan mengabdikan diri untuk masyarakat hingga tanggal 23 April 2009.

Banyak nasihat, petuah dan pesan-pesan moral mereka dapatkan dari berbagai elemen masyarakat di lokasi safari da’wah, merekapun banyak sekali mendapatkan pengalaman dan ilmu bermasyarakat yang belum tentu didapat di lembaga pendidikan non pesantren. Bahkan pengalaman “kaget sekaligus beruntung” dialami oleh kafilah Zainab yang di ketuai oleh Tri Astuti Anjani (kelas VC MA-asal Kp. Naggung), karena salah satu tokoh yang paling dianggap berpengaruh di Kp Sadeng Kec Leuwi liang adalah ustad Hafidz, yang dulunya sempat 12 tahun mengajar di Darunnajah Cipining ketika masih dalam proses merinitis, factor usialah yang menyebabkan belaiau hanya sampai 12 tahun saja. Santripun banyak dibantu oleh beliau. Sekembalinya dari safari da’wah, merekapun diwajibkan memberikaan laporan lisan dan tulisan untuk menjadi masukan dan acuan bagi Pesantren dalam program safari da’wah berikutnya.

Sebagaimana penuturan mereka baik lisan maupun tulisan sekembalinya dari bersafari da’wah, ternyata baik mereka maupun masyarakat kecewa, antara lain : Mengapa safari da’wah hanya 3 hari? Kenapa tidak tiap minggu atau satu bulan penuh?? Mengapa dari asatidz maupun ustadjaat tidak ke lokasi safari da’wah untuk bersilaturahmi dengan kami?? Kenapa safari da’wahnya harus berpindah-pindah?? Kenapa safari da’wahnya satu tahun sekali atau Cuma dua kali?? Kenapa tidak setiap bulan dan tempatnya kalau bisa terus-menerus disini??

Alhasil…sebelum pulang ke rumah masing-masing, santri Draunnajah putri non asrama tersebut BANJIR TAWARAN dari masyarakat, mulai dari TPA yang menawarkan mereka membantu nagajar di TPA-TPA tersebut, tetap mengajar pramuka atau Pembina pramuka seminggu sekali di SD-SD, jika safarai da’wah lagi mereka ingin di tempat tersebut lagi, waktu harus ditambah jangan Cuma 2/3 hari saja, rasa senang dan terbantu adalah kesan masyarakat, dan pesan terakhir masyarakat adalah tetap teruskan safari da’wahnya jangan sampai hilang tapi tingkatkan secara kualitas.

Pendaftaran Santri Baru