Kelas Nihai merupakan kelas tertinggi dalam jenjang pendidikan Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat Al Islamiyyah (TMI) Darunnajah Cipining. Kelas tersebut setara dengan kelas XII SLTA. Para santri kelas akhir ini, juga mengikuti Ujian Nasional disamping, tentunya, Ujian Akhir Madrasah dan Ujian Nihai yang merupakan Ujian Akhir versi pesantren. Jenjang TMI ditempuh selama 6 tahun bagi lulusan SD/MI, dan 4 tahun bagi lulusan SMP/MTs. Bagi santri pindahan diberlakukan ujian lisan dan tulis yang meliputi kemampuan baca Al Qur’an, dasar-dasar pendidikan Agama Islam dan kecakapan dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggirs, lisan dan tulisan.
Di samping disibukkan dengan ujian-ujian tersebut, santri senior tersebut pra dan pasca ujian juga memiliki beberapa progam yang wajib diikuti. Salah satunya adalah Orientasi Perguruan. Terkait dengan Orientasi Perguruan Tinggi ini, kepala Madrasah Aliyah Darunnajah Cipining, Ust. Drs. Abdul Rasyid Sholeh berharap agar kegiatan ini dapat menjadi motivasi dan memberikan pengetahuan yang memadai tentang dunia pendidikan di perguruan tinggi bagi para santri. Diharapkan pula, mereka dapat memilih perguruan tinggi sesuai dengan minat dan bakat, dan tentunya, kemampuan financial keluarga.
Kamis, 14 Mei 2009, pukul 08.30 WIB, dimulai dengan pembukaan dari kepala Madrasah Aliyah, agenda yang berlangsung di aula Darunnajah ini, langsung disambung dengan presentasi dari Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor. Tim presentasi yang terdiri dari dua dosen dan dua mahasiswi ini sudah datang pada malam harnya dan bermalam di guest house Darunnajah. Diawali dengan muqoddimah berbahasa Arab, pimpinan timm Drs. H. Herawan Kosasih, M.Pd, menyampaikan profil dan prospek lembaga tersebut. Pada sesi ini juga dikemukakan pengalaman langsung dalam mengikuti perkulihan yang disampaikan oleh salah-satu mahasiswi.
Pada saat silaturrahmi dengan pimpinan pesantren yang didampingi oleh koordinator kegiatan orientasi, ust. Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I, mereka mendapatkan penjelasan bahwa bapak kyai sangat mendukung para alumni putri untuk dapat melanjutkan kuliah di kebidanan. “Profesi bidan ini bisa tetap eksis selama 24 jam dan dapat bertugas di mana saja!” demikian salah satu argumentasi beliau. Sementara produktifitas kaum Hawa yang memilih profesi lain, terkadang menjadi terkendala dengan usia dan tempat tinggal yang tidak mendukung.
Presentasi kedua disampaikan oleh Miftahus Surur, S.E.I yang notabene alumni dan kepala divisi public relation Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia Bogor. Salah satu pengurus Masyarakat Ekonomi Syari’ah ini banyak menyampaikan urgensi dan peran signifikan ekonomi Islam dalam dunia perekonimian modern. Lembaga pendidikan pimpinan Dr. Antonio Syafi’I ini juga langsung mengadakan try out bagi para calon alumni MA Darunnajah. Bagi yang mencapai nilai standar yang ditentukan, maka akan diberikan beasiswa pendidikan. Sebelum penutupan presentasi, mantan ketua BEM ini, juga memberikan training motivation kepada para kader umat tersebut.
Menjelang pukul 10.30 tim presentasi dari Universitas Islam Djuanda (UNIDA) tiba di pesantren Darunnajah. Setelah transit sebentar di guest house, rombongan yang dipimpin salah satu dekan dan disertai 4 mahasiswa tersebut, segera menuju gedung pertemuan. Sebelum masing-masing mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Study Islam menyampaikan proses perkuliham mereka, terlebih dahulu dijelaskan tentang prototype ‘kampus bertauhid’ tersebut oleh Dr. Syamsuddin Ali Nasution. Alumni International Islamic University Pakistan dan University Malaya Kuala Lumpur ini juga menawarkan progam beasiswa bagi mahasiswa berprestasi. Bagi mereka yang berminat tinggal di asrama dekat kampus, juga sedang disediakan RUSUNMAWA (Rumah Susun Mahasiswa) yang merupakan kerjasama dengan Menteri Perumahan Rakyat.
Menjelang Dzuhur yang bertepatan dengan usainya presentasi dari UNIDA, tim dari Universitas Ibnu Khaldun juga tiba di pesantren. Seusai sholat Dzuhur dan makan siang, Drs. Saefudin Syaf, MA mendapat giliran menyampaikan penjelasan tentang sejarah universitas Islam tertua di Bogor ini. Pembantu Rektor III masa bhakti 2008-2012 memotivasi para calon mahasiswa dan mahasiswi untuk bisa kuliah di Perguruan Tinggi Negeri. Namun, jika karena satu dan lain hal menghalangi mereka untuk belajar di PTN, maka agar mencari Perguruan Tinggi Islam swasta yang sudah berakte dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Usai penjelasan panjang lebar sejarah dan fakultas-fakultas yang ada di Universitas milik para pejuang Islam ini, dilanjutkan dengan motivasi oleh Sekertaris Jurusan Ahwal Syakhshiyah FAI UIKA 2000-2004, Drs. Ahmad hadi Suprapto, MA. Dosen alumni UIKA (1991) dan Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia (2000) yang notabene pimpinan pondok pesantren Al Ghifari Leuwiliang Bogor tersebut, banyak memberikan semangat kepada 106 calon alumni tersebut untuk terus belajar. Alumni Gontor (1975) ini juga memulai presentasinya menggunakan bahasa Arab.
Sebelum penutupan, disampaikan pula sekilas pandang STMIK Pranata Indonesia Parung Panjang Bogor. Salah-satu pengajar Darunnajah yang sedang belajar di lembaga tersebut, ust. Asmari Ichsan Al Hafidz mengungkapkan, lembaga pendidikan Teknologi Informasi dan Komputer ini bisa menjadi alternatif bagi para santri yang berasal dari sekitar pesantren.