Santri Kelas 4 TMI Putri Lantik Bantara di Kawah Ratu Pamijahan Bogor Santri Kelas 4 TMI Putri Lantik Bantara di Kawah Ratu Pamijahan Bogor

Santri Kelas 4 TMI Putri Lantik Bantara di Kawah Ratu Pamijahan Bogor

Sebanyak 123 Santri Putri kelas 4 Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI) Pesantren Darunnajah 2 Cipining menempuh jalur pendakian Kawah Ratu di Pamijahan, Bogor, pada Kamis, 16 April 2026. Perjalanan ini menjadi rangkaian utama kegiatan Pengembaraan dan Pelantikan Bantara yang diselenggarakan oleh KGP.

Kawah Ratu dipilih bukan tanpa alasan. Medan gunung ini menawarkan pengalaman alam yang kerap disamakan dengan Gunung Papandayan, tetapi dengan biaya yang lebih terjangkau. Perbandingan itu bukan sekadar soal pemandangan. Jalur pendakian yang mereka tempuh ternyata jauh dari kata mudah.

Kondisi trek yang becek dan licin memaksa setiap rombongan memperlambat langkah. Setiap pijakan harus diperhitungkan agar tidak tergelincir atau cedera. Perjalanan pun memakan waktu lebih lama dari perkiraan awal. Tantangan fisik ini sejatinya sudah diantisipasi — para santri telah menjalani latihan fisik sejak jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Namun medan sesungguhnya tetap berbeda dari latihan di lapangan pesantren.

Di situlah inti dari pengembaraan ini terletak. Pelantikan Bantara dalam kepramukaan Penegak memang dirancang bukan sebagai seremoni semata. Prosesnya menuntut peserta membuktikan kesiapan mental dan fisik secara langsung di lapangan. Trek berlumpur Kawah Ratu menjadi arena pembuktian apakah nilai-nilai yang selama ini dipelajari di kelas dan asrama — kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab, kekompakan — benar-benar tertanam atau baru sebatas hafalan.

Santri Kelas 4 TMI Putri Lantik Bantara di Kawah Ratu Pamijahan Bogor

Ketika satu anggota rombongan terpeleset di jalur licin, yang lain harus sigap membantu. Ketika kelelahan mendera, solidaritas kelompok diuji. Situasi semacam ini tidak bisa disimulasikan di dalam ruangan.

Para peserta sendiri merespons kegiatan ini dengan antusias. Meski medan berat, mereka mengaku senang bisa menjalani pengalaman yang berbeda dari rutinitas harian di pesantren. Ke depan, pengurus KGP akan memantau perkembangan para Bantara baru ini dalam menjalankan tanggung jawab kepramukaan mereka sehari-hari.