Mengawali pembukaan program beasiswa pendidikan untuk santri tahfidzul Al-Qur’an, tahun ini pesantren memiliki 15 peserta putra dan putri. Kelima belas santri tersebut berpacu melawan waktu guna mengejar target setoran yang harus dihapalnya untuk setiap semester. Karena, dalam kebijakan yang tengah diberlakukan adalah santri beasiswa harus mencapai target bila ingin tetap melanjutkan pendidikannya di kelas formal. Apabila pencapaian hapalannya kurang dari target, mereka akan diberhentikan sementara. Setelah hapalannya terkejar, baru dipersilahkan kembali melanjutkan kelas formalnya.

“Beasiswa santri tahfidzul Qur’an adalah beasiswa bagi mereka yang serius, bukan keluarga tidak mampu atau alasan lain. Pesantren juga tidak menginginkan, menghapal Al-Qur’an ini sifatnya coba-coba atau motif lain. Nanti kalau tidak hapal baru pindah haluan menjadi santri biasa, seperti ini tidak boleh” ungkap pimpinan pesantren dalam sebuah kesempatan rapat Jumat bersama dewan guru.
Untuk itu, secara serius, Darunnajah Cipining menyiapkan 9 guru putra dan 5 guru putri yang bertugas menangani program ini. Sebagai upaya pencapaian target hapalan, peserta beasiswa juga tidak dilibatkan secara penuh program kegiatan santri lain. Namun, mereka mendapatkan penanganan khusus yang memberi kesempatan seluas-luasnya untuk menghapal.
Metode hapalan yang digunakan adalah para santri menghapalkan bacaan-Al-Qur’an yang telah dibacanya dengan baik. Jadi, sebelum mereka menghapal, mereka harus membaca terlebih dahulu di depan guru pembimbingnya. Setelah dinyatakan baik, baru diperbolehkan menghapal. Juga merupakan risiko apabila pesantren siap menerima peserta yang belum baik dalam bacaan Al-Qur’annya. Sehingga, metode hapalannya harus dibimbing dan dituntun oleh para guru.

Sementara itu, penanggung jawab dari program ini adalah biro pengkaderan yang dikepalai oleh Ustadz Isa Abdillah, S.E. Secara berkala perkembangan dan kondisi para santri dilaporkan kepada pimpinan pesantren. “Kita berharap, semoga program ini dapat sukses sehingga membawa berkah untuk pesantren” harap Ustadz Isa pasti.
“Saya yakin dengan janji Allah. Apabila penghapal Al-Qur’an bertaburan di pesantren ini, saya tidak pernah takut. Allah pasti akan bantu kita. Makanya, saya bebaskan mereka, karena pesantren ini menyenangi mereka yang menjaga dan menghapal Al-Qur’an sebagaimana Allah dan Rasulnya sayang kepada mereka” papar Pak Kyai mantap. (Wardan/Billah)