Pesantren Darunnajah menerima kunjungan istimewa dari ulama terkemuka Prof. Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni, beliau merupakan Guru Besar Ushul Fikih dan Ilmu Dakwah sekaligus Pembina Umum Akademi Seni Dakwah Kanada, sosok yang dikenal luas di dunia akademik Islam internasional.
Prof. Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni menyampaikan kuliah umum di hadapan para santri pada Jumat (1/5). Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan tentang bahaya kelalaian (al-ghaflah) dan ketidakpercayaan (kufr) terhadap nikmat Allah SWT yang menjadi penyakit umat Islam di zaman sekarang.
Prof. Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni mengajak para santri untuk memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT serta mengirimkan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Beliau menekankan keutamaan berkumpul di masjid sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, bahwa orang-orang yang berkumpul di rumah Allah untuk membaca kitab-Nya akan diturunkan ketenangan (sakinah) oleh Allah SWT.
Beliau juga menyampaikan rasa syukur atas pembangunan masjid-masjid di negara-negara Islam yang menjadi sarana penting bagi pembinaan umat. “Tanpa adanya masjid-masjid ini, umat Islam akan kehilangan banyak hal yang berharga,” ujar beliau.
Dalam inti pembahasannya, Prof. Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni mengidentifikasi tiga bentuk kekufuran (kufr) yang harus diwaspadai oleh umat Islam:
Pertama, kufur terhadap Allah SWT. Kedua, kufur terhadap Al-Quran dan syariah. Ketiga, kufur terhadap nikmat (al-ni’mah) dan kewajiban bersyukur (al-shukr). Beliau menegaskan bahwa ketiga bentuk kekufuran ini merupakan ancaman serius yang dapat merusak keimanan umat.
Selain kekufuran, Prof. Bayanuni juga memaparkan tiga bentuk kelalaian yang menyebabkan umat Islam masa kini:
Pertama, lalai dalam berdzikir kepada Allah SWT. Kedua, lalai dalam menaati hukum-hukum Allah. Ketiga, lalai dalam bersyukur atas nikmat-Nya.
“Penyakit kelalaian ini menyebabkan seluruh lapisan masyarakat baik yang tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, bahkan para ulama dan budayawan. Tingkatan ujian melupakan Allah SWT pada masing-masing golongan ini berbeda-beda,” jelas beliau.

Untuk menggugah kesadaran para santri, Prof. Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni menceritakan kisah masyhur di masa Khalifah Umar bin Khattab. Dikisahkan seorang ibu menyuruh anaknya mencampur susu dengan air agar mendapat keuntungan lebih banyak saat menjualnya. Sang anak menjawab, “Wahai ibu, bukankah Khalifah Umar telah melarang hal ini?”
Ibu itu menjawab dengan lalai, “Di mana Umar sekarang? Ia tidak melihat kita.”
Namun sang anak yang shalih menjawab, “Jika Umar tidak melihat kita, sesungguhnya Tuhan Umar (Allah SWT) senantiasa melihat kita.”
Sayyidina Umar yang kebetulan mendengar percakapan tersebut sangat terkesan dan kelak menjadikan anak gadis itu sebagai menantu. “Cerita ini mengingatkan kita agar senantiasa merasa diawasi dan dilihat oleh Allah SWT dalam setiap perbuatan kita,” ungkap Prof. Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni
Prof. Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni juga menceritakan pengalaman seorang sheikh yang sakit dan dirujuk kepada seorang dokter terkenal di negeri yang jauh. Setelah menempuh perjalanan panjang, ketika bertemu dengan dokter tersebut, sang sheikh menyaksikan dokter itu berperilaku tidak adil dan tidak baik. Sheikh pun memutuskan untuk pulang tanpa berobat.
“Bagaimana kita bisa berobat kepada dokter yang berperilaku tidak baik? Seandainya kita seperti biasa berdzikir mengingat Allah SWT, maka urusan kita akan semakin baik. Orang-orang yang lalai mengingat Allah akan diganggu oleh setan,” tutur beliau menyampaikan pesan dari kisah tersebut.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu santri bertanya tentang bagaimana manusia bisa mendapatkan kedekatan dengan Allah SWT. Prof. Bayanuni menjelaskan bahwa hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah. “Siapa pun yang dikehendaki Allah untuk mendapat hidayah, Allah akan melapangkan hatinya untuk Islam. Beberapa orang kafir bisa menjadi orang shalih, sebaliknya beberapa muslim yang tidak berhati-hati bisa tergelincir.”
Pertanyaan lanjutan diajukan: jika hidayah seluruhnya dari Allah, lalu apa tugas kita? Prof. Bayanuni menjawab bahwa di sinilah pentingnya ilmu dakwah yaitu menyebarkan hidayah kepada orang yang belum mendapatkannya. “Mari kita bersama-sama bertafakur, bahwa ilmu dakwah ini sangat penting karena merupakan implementasi dari penyebaran hidayah.”
Mengakhiri kuliahnya, Prof. Bayanuni mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 70-71:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.”
Beliau menjelaskan bahwa apabila kita senantiasa menjaga ketaqwaan kepada Allah SWT dan menjaga perkataan, maka perbuatan kita di dunia akan diperbaiki oleh Allah, dan di akhirat dosa-dosa kita akan diampuni.
“Berusahalah agar kita istiqomah senantiasa bertaqwa dan senantiasa berkata-kata dengan perkataan yang baik dan sopan, sebagaimana akhlak seorang muslim sejati,” pesan beliau menutup kuliahnya.
Kuliah umum yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh seluruh santri Pesantren Darunnajah Jakarta dari berbagai jenjang dan menjadi momentum berharga untuk memperdalam pemahaman keagamaan para santri.
