Alumni Berbagi Inspirasi dan Motivasi: Prof. Muhammad Muflih Memotivasi Santri Jadi Guru Besar

Alumni Berbagi Inspirasi dan Motivasi: Prof. Muhammad Muflih Memotivasi Santri Jadi Guru Besar

Auto Draft
Auto Draft

Alhamdulillah, kalimat thayyibah itu meluncur lirih namun penuh syukur dari para panitia dan santri, saat program Alumni Berbagi Inspirasi & Motivasi (AMBISI) akhirnya digelar dengan khidmat dan penuh makna. Kali ini, Senin, 3 Februari 2025,  giliran Prof. Dr. Muhammad Muflih, MA alumnus TMI Darunnajah 2 Cipining angkatan ke-4 lulus tahun 1997 yang naik mimbar di aula kampus satu, bukan untuk mengajar di ruang kuliah, melainkan untuk menyiramkan inspirasi kepada para santri, tempat ia dulu menempa diri dalam sunyi, displin, dan doa. Ia telah dikukuhkan sebagai Guru Besar Politehnik Bandung pada 17 Desember 2024.

Kisah Prof. Muflih yang disampaikan dari pukul 13.00-15.00 wib tersebut, bukan sekadar cerita sukses akademik. Ia adalah narasi tentang kerja keras, istiqamah, dan cinta pada ilmu. Memulai langkahnya sebagai santri kelas 1D TMI pada tahun 1991 di bawah asuhan Ust. Mahfud Siradjudin, ia menempuh kehidupan pesantren dengan ritme ketat: bangun pukul empat pagi, shalat berjamaah, pengajian Tafsir bersama KH. Jamhari Abdul Jalal, dan beragam aktivitas lainnya dari hafalan, sekolah, hingga ekstrakurikuler.

Namun yang menjadikan Muflih muda berbeda bukan hanya rutinitas, melainkan ritus pribadi yang ia bangun sendiri karena mileu pesantren sebagai miniatur masyarakat Islami: puasa Senin-Kamis yang istiqamah, latihan menulis dan pidato mandiri, kajian literatur keislaman secara autodidak, hingga surat-menyurat dengan kedutaan besar luar negeri. “Di situlah saya belajar berpikir lintas batas,” katanya mengenang.

Selain tekun belajar, Muflih juga aktif dalam organisasi. Ia tercatat pernah memimpin Bagian Penggerak Bahasa Organisasi Pelajar Darunnajah Cipining (OPDC), kini Organisasi Santri Darunnajah Cipining (OSDC), red dan mendirikan Ikatan Mubalig Darunnajah (IMDA), komunitas dakwah yang jadi wadah kaderisasi. Gelar santri teladan berbahasa dan sederet trofi pidato menjadi penanda prestasinya.

Namun di balik itu semua, ada sosok yang ia sebut sebagai qudwah sejati: KH. Jamhari Abdul Jalal. “Dari beliau saya belajar bahwa kesederhanaan bukan lawan dari kecendekiaan,” ujarnya. Selepas menamatkan pesantren, Muflih melanjutkan pendidikan tinggi tanpa henti: S1 di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, S2 dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ia meraih gelar doktor pada usia 30, dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik UIN Jakarta 2010. Puncaknya tahun 2024, ia dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ekonomi Islam pada usia 45 tahun.

Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, Prof. Muflih tetap produktif berkarya. Buku-bukunya seperti Menjadi Orator Ulung (Gramedia) dan Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ekonomi Islam (Rajawali Pers) menjadi rujukan, di samping sederet publikasi ilmiah bertaraf internasional yang masuk dalam jurnal bereputasi Scopus.

Kepada para santri, Prof. Muflih berpesan tegas namun lembut. Literasi harus terus ditumbuhkan, bidang yang disukai harus digeluti dalam, dan pendidikan jangan disudahi. “Santri punya modal paling kuat: penguasaan ilmu keislaman yang mendalam. Tinggal bagaimana mengemasnya dalam format keilmuan modern,” ucapnya.

Kunci suksesnya sederhana tapi tajam: man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan menuai hasil. Tapi ia juga menekankan pentingnya menjaga akar: nilai-nilai pesantren harus tetap melekat, sejauh apapun langkah kaki melaju.

Pada Senin malam, bertempat di Aula Al Ghozali, Prof. Muflih secara khusus berbagi pengalaman tahapan mencapai gelar akademik tertinggi, menjadi seorang Profesor, kepada para Dosen Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Darunnajah Bogor, dewan guru dan mahasantri. Tampak hadir juga beberapa alumni yang notabene kawan satu lating dengan Prof. Muflih ketika mesantren.

Prof. Muflih sangat bahagia bisa hadir kembali ke almameter tercintanya. Ia bermalam di Bait Nadzir serta banyak berkomunikasi dengan para asatidz sebagai protokoler atau pendampingnya. Tentu saja, kesempatan emas ini dipergunakannya untuk sowan atau silaturrahmi kepada Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. Juga, berkeliling ke lingkungan pesantren yang sudah banyak perubahan menuju kemajuan.

Kegiatan AMBISI kali ini menjadi bukti bahwa pesantren adalah tempat menimba ilmu agama dan juga kawah candradimuka pemimpin masa depan. Prof. Muflih adalah satu dari sekian bukti, bahwa dari lorong-lorong asrama dan sejuknya masjid pesantren, bisa lahir pemikir kelas dunia asal ada istiqamah, semangat literasi, dan ketekunan yang tak lekang.

Pendaftaran Santri Baru