Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan islam diharapkan mampu mencetak generasi islami yang madani, yakni, yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan teknologi. Generasi Madani adalah generasi yang menjunjung tinggi nilai, norma, dan hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban. Di era yang serba canggih ini, semakin banyak orang yang pintar dalam bidang akademik, namun tidak beradab. Mereka menggunakan kepintaran mereka untuk menyombongkan diri di hadapan orang lain bahkan tidak sedikit yang menggunakan kepintarannya untuk menjatuhkan orang lain. Kalaulah manusia yang dihasilkan seperti itu, berarti ada yang salah dengannya. Padahal seharusnya, semakin pintar seseorang, semakin rendah diri pula ia di hadapan orang lain, bukan malah sebaliknya. Maka kehadiran Pondok Pesantren sangat dibutuhkan di sini. Ada beberapa faktor yang membuat sebuah pondok pesantren memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan model lain. Di antaranya adalah:
Kehidupan Berasrama

Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan bersistem asrama memiliki keunggulan dibanding dengan sistem pendidikan model lain seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Kehidupan santri di pesantren dipantau selama dua puluh empat jam penuh. Dari mulai bangun sampai tertidur kembali. Dalam kesehariannya, santri wajib mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah dicanangkan oleh para pengasuh pondok yang dibantu oleh wakil-wakilnya yang tersebar di beberapa bagian seperti pengasuhan santri, wali asrama, bagian pendidikan, dan lain sebagainya.
Di dalam rutinitasnya, santri hidup berdampingan dengan teman-temannya yang berasal dari daerah yang berbeda-beda, yang juga memiliki watak yang berbeda-beda. Secara tidak langsung, kondisi lingkungan yang demikian, membuat mereka harus beradaptasi dan mencoba untuk hidup rukun meski berasal dari daerah yang berbeda. Hal ini dimaksudkan supaya sekeluarnya mereka dari pondok pesantren mereka tidak lagi canggung jika suatu hari nanti harus hidup jauh dari tanah kelahirannya. Kehidupan berasrama juga mendidik mereka agar menjadi pribadi yang dewasa, yang mau menerima pendapat dari orang lain meski ia tidak setuju dengan pendapat tersebut. Kehidupan berasrama juga mendidik mereka untuk selalu kompak dengan teman sekamarnya demi keberlangsungan hidup yang nyaman dan damai di asrama.
Kegiatan Ekstrakurikuler

Pondok Pesantren memiliki sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas. Bukan hanya ruang kelas untuk kegiatan belajar-mengajar yang harus dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan, tetapi juga sarana untuk kegiatan ekstrakurikuler santri seperti lapangan basket, futsal, voli, sepak bola, dan lain sebagainya. Lapangan untuk esktrakurikuler tersebut sangat dibutuhkan agar para santri tetap sehat dan bugar dalam menjalankan rutinitas hariannya. Sarana ekstrakurikuler dibutuhkan agar semboyan ‘Akal yang sehat terdapat di dalam jiwa yang kuat’ benar-benar terlaksana, bukan hanya sekedar semboyan belaka.
Bimbingan Belajar Malam

Kegiatan belajar malam di pesantren umumnya sangatlah unik. Para santri diawasi dan dibimbing langsung oleh para asatidz dan wali kelas setiap belajar malam. Hal tersebut dimaksudkan agar kegiatan belajar malam tersebut berjalan dengan maksimal. Agar para santri benar-benar memanfaatkan waktu tersebut untuk belajar maupun untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di dalam kelas. Kegiatan belajar malam dibawah pengawasan para asatidz benar-benar terbukti ampuh untuk menumbuhkan semangat belajar para santri.
Membaca Al-Qur’an setelah Subuh dan Ashar

Rutinitas santri setelah shalat subuh dan ashar adalah membaca Al-Qur’an. Agar mereka kelak ketika setelah menjadi alumni terbiasa membaca kitab suci utama umat islam tersebut selain hadits. Sangat penting bagi seorang santri untuk membiasakan diri membaca al-qur’an supaya dalam kesehariannya dan di kehidupannya kelak mereka selalu berpegang teguh kepada kalamullah tersebut. Agar mereka benar-benar menjadi generasi penerus bangsa yang benar-benar mengamalkan apa yang ada di dalam al-qur’an dan al-hadits.
Lari Pagi Berjama’ah

Setiap dua kali dalam seminggu para santri diwajibkan untuk mengikuti lari pagi berjama’ah. Biasanya rute lari pagi di pondok pesantren adalah dengan mengelilingi desa sekitar pondok tersebut berdiri. Kegiatan lari pagi ini dimaksudkan agar setidaknya dalam seminggu para santri benar-benar berolahraga karena tidak semua santri menyukai hal-hal yang berbau olahraga. Dari kegiatan ini diharapkan mereka yang tidak mengikuti ekstrakurikuler olahraga tetap mengeluarkan keringat.
Berkutat dengan Setoran dan Hafalan

Para santri juga diwajibkan untuk menyetor hafalan-hafalan mengenai pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan di dalam kelas. Proses setoran hafalan tersebut bisa dilangsungkan ketika belajar malam atau selepas shalat berjamaah. Bukan hanya pelajaran-pelajaran yang membutuhkan hafalan saja yang wajib disetor, tetapi juga ayat-ayat al-qur’an yang telah disepakati oleh pengurus pesantren. Jika santri tidak menyetorkan hafalan yang telah diwajibkan mereka akan dikenai hukuman sesuai dengan kesepakatan masing-masing wali kelas.
Budaya Mengantri

Sebuah pondok pesantren melangsungkan pendidikan dalam setiap aspek rutinitas yang dijalani santri sehar-harinya. Bahkan nilai pendidikan tersebut di balik budaya mengantri. Ketika makan, mandi, atau sedang membeli sesuatu di koperasi, para santri diharuskan untuk mengantri. Budaya mengantri berfungsi untuk melatih dan menumbuhkan rasa sabar para santri. Meski harus menunggu lama untuk mendapatkan yang diinginkan, para santri tetap terlihat berdiri rapi di dalam antrian.
Berbicara menggunakan 2 bahasa; Arab dan Inggris

Salah satu ciri khas pesantren adalah penggalaan bahasa asing di kalangan santri. Bagian bahasa selaku penanggung jawab keberlangsungan penggunaan bahasa resmi di pesantren selalu memberikan hukuman kepada para pelanggar bahasa. Agar para santri selalu berusaha bercakap-cakap menggunakan bahasa resmi pesantren. Bahasa Arab di asrama adalah untuk pembiasaan para santri agar mereka menjadi lebih paham dan mengerti pelajaran-pelajaran di dalam kelas yang memang lebih banyak menggunakan bahasa arab sebagai pengantarnya. Sedangkan bahasa inggris bermanfaat agar para santri tidak terlalu tinggal dengan perkembangan zaman, yang mana, di zaman era teknologi ini banyak berkiblat kepada negara barat.
Jiwa pondok

Pada akhirnya, pondok pesantren mampu menghasilkan alumni-alumni yang madani, yang bisa berjuang di segala medan pertempuran. Mereka bisa masuk ke segala aspek kehidupan; politik, hukum, pendidikan, dan lain sebagainya. Nilai-nilai falsafah pondok yang tertuang dalam rutinitas santri selama 24 jam mampu membentuk para alumni yang tidak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga mampu membawa angin perubahan yang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi.
https://www.facebook.com/PPDarunnajah/photos/a.10151325975199932.495296.40579544931/10155693052244932/?type=3&theater