Pondok Pesantren Darunnajah Sambut Santri Baru, Tumbuhkan Semangat Belajar dan Mandiri Pondok Pesantren Darunnajah Sambut Santri Baru, Tumbuhkan Semangat Belajar dan Mandiri

Pondok Pesantren Darunnajah Sambut Santri Baru, Tumbuhkan Semangat Belajar dan Mandiri

Jakarta, 21 Juli 2025 – Sebuah momen haru dan penuh makna tersaji pagi ini di Pondok Pesantren Darunajah, saat ratusan orang tua mengantarkan anak-anaknya untuk memulai perjalanan baru. Bukan sekadar masuk sekolah, tapi memasuki fase kehidupan yang akan membentuk jiwa, akhlak, dan masa depan mereka.

Acara Orientasi Santri dan Wali Santri Baru Tahun Ajaran 2025–2026 ini dibuka langsung oleh salah satu pimpinan pesantren, K.H. Dr. Sofwan Manaf, M.Si., dengan sambutan yang menyentuh hati dan membakar semangat. “Ahlan wa sahlan. Selamat datang di keluarga besar Pondok Pesantren Darunajah. Mari kita jadikan niat ini sebagai ibadah,” ujarnya, disambut anggukan penuh harap dari para wali santri.

Pendidikan Dimulai dari Hati: Anak Bukan Hanya Titipan, Tapi Amanah

Dalam sambutannya, Kyai Sofwan mengajak para orang tua untuk memahami tiga posisi anak dalam pandangan Islam:

  1. Fitnah – cobaan yang bisa menjadi beban jika tidak dibimbing dengan benar.
  2. Zinatun Hayah – perhiasan dunia, kebanggaan bagi orang tua.
  3. Waladun Shalih – anak yang menjadi pahala jariyah, bahkan setelah orang tua wafat. “Usia 11 sampai 15 tahun adalah masa krusial. Anak tidak hanya perlu disekolahkan, tapi dibimbing dengan cinta, disemangati dengan doa, dan diarahkan dengan keteladanan,” pesannya menyentuh.

Lebih dari Sekolah: Darunajah adalah Rumah Wakaf untuk Peradaban

Darunajah bukan lembaga pendidikan biasa. Didirikan sejak 1938 dan diwakafkan pada 1983, pesantren ini berdiri di atas 1.102 hektare tanah wakaf. Bukan hanya kampus dan asrama, tapi juga kebun, usaha ekonomi, dan pusat pembelajaran Islam. “Hasil usaha kami gunakan untuk memberikan beasiswa kepada 1.800 siswa tiap tahun, dari TK hingga S3. Ini bukan bisnis, ini amanah umat,” tegas Kyai Sofwan, membuat banyak wali santri mengangguk bangga. Darunajah mengadopsi sistem pendidikan modern dari Pondok Gontor, dengan tujuan mencetak santri yang bukan hanya cerdas, tapi juga paham agama, bisa hidup di tengah masyarakat, dan punya jiwa kepemimpinan.

Belajar Disiplin dan Kepemimpinan Sejak Dini

Pendidikan di Darunajah diawali dengan sistem “poin” kedisiplinan – santri memulai dengan 100 poin, dan akan belajar bertanggung jawab atas setiap tindakan. Selain itu, tersedia program tahfidz Al-Qur’an, pelatihan kepemimpinan santri, dan program kemandirian yang dirancang agar anak tidak hanya pintar, tapi juga tangguh dan siap menghadapi tantangan zaman.

Bukan Tentang Larangan, Tapi Tentang Nilai

Salah satu hal yang ditegaskan dalam orientasi adalah aturan tanpa handphone untuk santri. “Bukan karena kami anti-teknologi, tapi kami ingin anak-anak belajar berinteraksi secara nyata, membangun karakter, dan tidak tergantung pada dunia maya,” jelas beliau. Orang tua pun dihimbau untuk tidak menanyakan “betah atau tidak” kepada anak selama masa awal pendidikan. “Percayalah, anak-anak butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Jangan goyahkan mental mereka dengan pertanyaan yang membuat rindu berubah jadi ragu,” tutur Kyai Sofwan, disambut senyum dan haru para ibu di bangku depan.

Kampus Luas, Lingkungan Aman, dan Fasilitas Lengkap

Dengan luas area 7,5 hektar, pesantren ini menyediakan sarana belajar yang lengkap dari SD hingga SMA. Lingkungan dijaga ketat, kendaraan umum dibatasi agar santri bisa belajar, bermain, dan berolahraga dengan nyaman dan aman.

Mengakhiri sambutan, Kyai Sofwan memohon doa untuk para pendiri Darunajah dan mengajak semua orang tua untuk bersinergi dalam proses pendidikan ini. “Kami siap mendidik anak-anak Anda dengan sebaik mungkin. Kami mohon dukungan, doa, dan kepercayaan. Semoga kelak anak-anak ini menjadi pemimpin yang saleh, cerdas, dan bermanfaat bagi umat.”

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, pengenalan wali asrama, dan tur singkat ke fasilitas pondok. Banyak wali santri tampak menahan haru saat berpamitan dengan putra-putrinya – bukan karena sedih, tapi karena yakin: anak-anak mereka sedang dipersiapkan menjadi generasi terbaik. (aulia)