Dalam perhelatan akbar yang mengusung semangat persaudaraan lintas benua, Dr. KH. Sofwan Manaf, M. Si. dan Dr. Much Hasan Darojat, selaku Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah dan Rektor Universitas Darunnajah, melangkahkan kaki di tanah Amerika Serikat. Mereka bergabung dalam International Observer Program (IOP) yang diselenggarakan oleh Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF) di Maryland, Amerika Serikat.
Acara ini berlangsung selama 12 hari penuh, dari 5 hingga 17 Oktober 2024, menjadi wadah untuk memperluas cakrawala dan membangun jembatan pemahaman antara Timur dan Barat. Layaknya burung-burung yang terbang melintasi samudera, rombongan pimpinan pondok pesantren dari Indonesia siap menyebarkan kearifan dan kekayaan budaya pesantren di tanah Amerika.
Kehadiran mereka bukan sekadar seremonial, melainkan membawa misi suci untuk memperkenalkan wajah pendidikan Islam yang ramah, inklusif, dan moderat. Mereka siap berbagi ilmu dan pengalaman dalam forum internasional yang menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman, sekaligus membuka cakrawala dunia terhadap peran pesantren dalam membina generasi yang berjiwa toleran dan cinta damai.
Program CECF ini ibarat jendela besar yang terbuka lebar, mempertemukan dua dunia yang kerap kali dianggap berbeda. Para peserta diajak menyusuri berbagai pusat pengetahuan, mengunjungi lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, hingga institusi pemerintahan. Beberapa institusi bergengsi yang menjadi tujuan kunjungan meliputi al-Basheer Seminary, George Washington University, US Naval Academy, Adams Center, Georgetown University, Al Madinah School, Jamaica Muslim Center, Nusantara Foundation, Hartford International University, Harvard University, dan Boston University.
Setiap kunjungan menjadi kesempatan berharga untuk bertukar gagasan, memperkaya wawasan, dan menjalin ikatan persaudaraan. Para peserta akan berinteraksi langsung dengan para akademisi dan tokoh masyarakat di Amerika Serikat, merasakan bagaimana nilai-nilai Islam bisa berbaur dengan kehidupan modern di negara yang beragam seperti Amerika.
Tujuan utama dari program ini adalah membangun jembatan pemahaman antarperadaban, serta mempererat kerja sama antarbangsa melalui dialog yang mendalam. Dengan pengalaman langsung yang mereka dapatkan, para delegasi diharapkan mampu membawa pulang wawasan baru tentang nilai-nilai universal kemanusiaan dan keberagaman. Wawasan ini akan diaplikasikan di lingkungan pesantren, menciptakan model pendidikan yang lebih inklusif dan berwawasan global.
Di balik gemerlap dan hiruk-pikuk kota-kota besar Amerika, para peserta akan menemukan esensi sejati dari persaudaraan global. Mereka akan pulang bukan hanya dengan kenangan indah, tetapi juga dengan visi baru tentang peran strategis pesantren dalam kancah internasional. Ini adalah bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan pelangi indah yang memperkaya peradaban umat manusia.
Melalui program ini, pesantren-pesantren di Indonesia menunjukkan bahwa mereka mampu berperan aktif dalam diskursus global dan membina generasi yang tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki perspektif luas tentang dunia dan kemanusiaan. Keterlibatan mereka dalam program internasional ini menegaskan bahwa pendidikan Islam dapat berkontribusi signifikan dalam membentuk dunia yang lebih damai, inklusif, dan saling memahami.