Pimpinan Pesantren sekaligus Presiden Universitas Darunnajah, Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si., bersama Rektor Universitas Darunnajah, Dr. Hasan Darojat, menghadiri Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) Jakarta dengan Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia (P2I), Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG), dan Universitas Darunnajah pada Selasa, (21/04), di Kampus UHAMKA Jakarta.
Acara dibuka Rektor UHAMKA Prof. Dr. Gunawan Suryo Putro, M.Pd., dan dihadiri Ketua Umum FPAG Dr. K.H. Zulkifli Muhadli, S.H., M.M., Ketua Umum P2I Dr. K.H. M. Tata Taufik, M.Ag., Sekjen FPAG Dr. K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D., serta sekitar 40 pimpinan pondok pesantren, baik salafiyah maupun ashriyah dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Darunnajah Dr. Hasan Darojat menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif UHAMKA yang membuka pintu kolaborasi seluas-luasnya bagi dunia pesantren.
Ia menegaskan bahwa kerja sama ini berpijak pada nilai luhur ta’āwun ‘ala al-birri wa at-taqwā, saling menopang dalam kebaikan dan ketakwaan, yang menjadi fondasi peradaban Islam sejak masa Rasulullah ﷺ.
“Kolaborasi ini bukan sekadar penandatanganan dokumen, melainkan ikrar moral untuk saling menguatkan. Pesantren tidak mungkin berjalan sendiri di tengah derasnya arus perubahan zaman, dan perguruan tinggi pun akan kehilangan ruhnya tanpa sentuhan nilai-nilai kepesantrenan,” ujar Dr. Hasan Darojat.
Beliau menyoroti realitas bahwa baru 34 dari sekitar 1.300 pesantren alumni Gontor yang memiliki perguruan tinggi, sehingga sinergi lintas lembaga menjadi keniscayaan untuk menjawab tantangan zaman tanpa menggerus jati diri kepesantrenan.

Prof. Gunawan Suryoputro menyampaikan bahwa MoU kerja sama Uhamka dengan FPAG dan P2I serta Universitas Darunnajah, merupakan langkah sinergi Uhamka, sebagai perguruan tinggi Islam, dalam membentuk SDM unggul melalui pendidikan dan kaderisasi di lingkungan kampus.
“Uhamka hari ini menandatangani MoU dengan FPAG dan Perhimpunan P2I yang merupakan Forum Pesantren dari seluruh Indonesia, sekitar 25 pesantren dan 2 universitas akan berkerja sama dengan Uhamka dibawah naungan FPAG dan P2I dalam mewujudkan peningkatan kualitas SDM, dari para santri yang akan menempuh kuliah di Uhamka,” ucap Prof. Gunawan.
Kerja sama ini membuka manfaat konkret: pengiriman tenaga pendidik dari kalangan pesantren untuk menempuh S2 melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) UHAMKA, pembukaan jalur kolaborasi S2 Farmasi, inisiasi konsentrasi Psikologi Pesantren pertama di Indonesia, serta studi banding smart campus multilokasi.
Seluruhnya dirangkai dalam Grand Design Pengembangan SDM Pesantren 10 tahun menuju peringatan 100 Tahun Kemerdekaan RI.
Dr. Hasan juga menekankan bahwa tantangan zaman, mulai dari disrupsi teknologi, arus globalisasi, hingga pergeseran nilai yang menuntut pesantren untuk adaptif tanpa kehilangan jati diri.
Menurutnya, pesantren harus tampil sebagai institusi yang kokoh akarnya dalam tradisi keilmuan Islam klasik, namun luas cakrawalanya dalam merespons kebutuhan umat kontemporer.
“Tantangan zaman tidak boleh menggerus jati diri kepesantrenan. Justru di tengah deras arus perubahan, pesantren harus hadir sebagai penjaga nilai sekaligus pelopor pembaruan. Kita menjaga yang klasik dan baik, serta mengambil yang baru dan lebih maslahat,” imbuhnya, merujuk pada kaidah al-muḥāfaẓatu ‘ala al-qadīm aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīd al-aṣlaḥ. (Humas Darunnajah)
