Pondok Pesantren Darunnajah menggelar Apel Tahunan Pekan Khutbatul ‘Arsy dan PORSEKA ke-50 pada Senin, 31 Agustus 2026. Dalam sambutannya, Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, Assoc. Prof. Dr. K. H. Sofwan Manaf, M.Si., mengajak seluruh hadirin mengenang jasa para pendiri, pengasuh, guru, dan alumni yang telah membangun serta menjaga pesantren hingga saat ini.
K.H. Sofwan Manaf menjelaskan bahwa Pekan Khutbatul ‘Arsy merupakan momentum ta’aruf bagi santri baru sekaligus pembaruan niat bagi santri lama dan para pendidik. Menurut beliau, pesantren bukan sekadar tempat mencari ilmu, melainkan tempat untuk hidup dalam pendidikan.
“Pendidikan itu tidak hanya terjadi di ruang kelas. Pendidikan bisa didapatkan dari segala hal yang kalian alami di pesantren ini. Apa yang kalian lihat, dengar, rasakan, kerjakan, dan alami setiap hari, semua itu pendidikan. Jangan hanya memperhatikan apa yang diajarkan kepada kalian. Perhatikan juga apa yang dibiasakan kepada kalian,” tegas K.H. Sofwan Manaf.
Pada kesempatan tersebut, beliau juga memaparkan bagaimana Panca Jiwa Pondok, yaitu jiwa keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan, tercermin nyata dalam persiapan PORSEKA. Panggung dan baliho yang dirancang mandiri oleh santri tanpa membeli barang jadi menjadi bukti konkret dari kesederhanaan dan kemandirian tersebut.
Rangkaian PORSEKA ke-50 diawali dengan Apel Tahunan yang diisi dengan pengibaran Bendera Pusaka, laporan barisan, serta amanat pimpinan. Setelah apel, acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan serta berbagai penampilan santri, seperti seni beladiri Tapak Suci yang membawa pesan ketangkasan dan akhlak, serta penampilan konfigurasi yang menggabungkan kreativitas dan kekompakan.
Mengenai sejarah panjang kegiatan ini, K.H. Sofwan Manaf mengingatkan bahwa PORSEKA telah menempuh perjalanan setengah abad, berawal dari PORSENI sebelum berkembang dengan memasukkan unsur kepramukaan. Dalam konteks perlombaan, beliau berpesan agar semangat berkompetisi tidak mengikis nilai persaudaraan dan akhlak.
“Menang itu prestasi, sportivitas itu nilai. Disiplin, kerjasama, menerima kekalahan dengan lapang dada, dan bangkit lagi setelah gagal, itu semua juga bagian dari proses kalian. Jangan sampai kita memenangkan pertandingan, tetapi kehilangan persaudaraan. Jangan sampai kita membawa pulang piala, tetapi kehilangan akhlak,” pesan beliau.
Beliau turut menyampaikan apresiasi kepada santri kelas 6 TMI Pinnacle Generation selaku panitia PORSEKA ke-50, serta kelas 5 yang telah sukses menyelenggarakan PERKHUTSY. Rangkaian acara akan dilanjutkan dengan Bhinneka Tunggal Ika oleh kelas 4, Art Arena oleh kelas 5, dan ditutup dengan Darunnajah Spectacular oleh kelas 6 TMI.
Di tengah padatnya rangkaian kegiatan, K.H. Sofwan Manaf secara khusus mengingatkan seluruh santri agar tidak melalaikan shalat, karena shalat merupakan pijakan dari segala sesuatu yang dikerjakan. Beliau menutup sambutan dengan pesan agar santri menjadikan Darunnajah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan identitas yang tertanam dalam diri.
“Jangan hanya tinggal di Darunnajah. Biarkan Darunnajah tinggal dalam diri kalian,” tutur beliau seraya mengutip mahfudzot “Man jadda wajada”.
