Di pesantren, ada satu prinsip yang ditanamkan bahkan sebelum santri membuka buku pertamanya — bahwa ilmu yang tidak disertai adab tidak akan membawa kebaikan. Prinsip ini bukan sekadar pepatah yang dipajang di dinding. Ia dijalani setiap hari, di setiap interaksi, di setiap momen kehidupan pesantren.
Kenapa pesantren menempatkan adab lebih tinggi dari ilmu?
Di banyak sistem pendidikan modern, yang diukur adalah seberapa pintar seorang anak. Nilai ujian, peringkat kelas, jumlah prestasi akademik. Semua itu dihargai dan dirayakan. Tapi di pesantren, anak yang nilainya sempurna tapi tidak sopan kepada ustadznya justru mendapat perhatian yang lebih serius — karena di mata pesantren, kepandaian tanpa adab bukan sesuatu yang patut dibanggakan.
Prinsip ini punya akar yang sangat dalam dalam tradisi keilmuan Islam. Guru-guru besar terdahulu selalu menekankan bahwa sebelum menuntut ilmu, seorang murid harus terlebih dahulu memperbaiki akhlaknya. Di pesantren, warisan itu masih dijaga sampai hari ini.
Bagaimana adab diajarkan di pesantren?
Adab di pesantren bukan mata pelajaran. Ia tertanam di setiap detail kehidupan. Cara santri berjalan di depan ustadz — sedikit menunduk sebagai tanda hormat. Cara santri berbicara kepada yang lebih tua — memilih kata yang sopan, mendengarkan tanpa memotong. Cara santri duduk di majelis ilmu — tenang, fokus, dan penuh perhatian.
Saat masuk kelas, santri memberi salam. Saat bertemu wali kamar, santri menyapa lebih dulu. Saat menerima sesuatu, tangan kanan selalu diulurkan. Semua kebiasaan itu tampak kecil, tapi saat dilakukan ribuan kali selama bertahun-tahun, ia menjadi karakter yang melekat sangat kuat.
Di pesantren, santri juga belajar adab terhadap ilmu itu sendiri. Buku tidak diletakkan di lantai. Kitab dibawa dengan hormat. Saat ustadz mengajar, perhatian diberikan sepenuhnya. Ada penghormatan yang dalam terhadap proses belajar — bukan hanya terhadap hasilnya.
Kita mungkin meremehkan hal-hal seperti ini. Tapi justru dari detail-detail kecil itulah, karakter seorang manusia terbentuk.
Apa yang terjadi ketika adab sudah menjadi bagian dari identitas seseorang?
Alumni pesantren sering dikenali bukan dari seberapa banyak ilmu yang mereka tahu — tapi dari cara mereka bersikap. Mereka berbicara dengan sopan tanpa terasa dibuat-buat. Menghormati orang yang lebih tua tanpa perlu diingatkan. Memperlakukan setiap orang dengan penghargaan yang sama, dari atasan sampai petugas parkir.
Di dunia kerja, adab ini menjadi keunggulan yang sangat dihargai. Banyak perusahaan yang lebih menghargai karyawan yang berakhlak baik daripada yang sekadar pintar. Karena kepandaian bisa dipelajari di mana saja — tapi adab butuh pembentukan yang panjang dan konsisten.
Alumni pesantren yang membawa adab ke dalam kehidupan profesional mereka cenderung lebih dihormati, lebih dipercaya, dan lebih mudah membangun hubungan yang baik dengan siapa saja. Bukan karena mereka berusaha menyenangkan semua orang — tapi karena menghormati orang lain sudah menjadi kebiasaan yang tidak perlu lagi dipikirkan.
Kenapa dunia semakin membutuhkan orang yang punya adab?
Di era di mana kecerdasan bisa dipelajari lewat internet dan kemampuan teknis bisa dikuasai lewat kursus singkat, yang semakin langka justru adalah kehalusan budi pekerti. Orang yang pintar ada banyak. Orang yang pintar sekaligus beradab mungkin tidak sebanyak yang kita kira.
Di mana adab masih menjadi fondasi utama pendidikan?
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, dengan tradisi keilmuan yang menempatkan adab sebagai fondasi utama sebelum ilmu, telah mendidik banyak santri untuk menjadi orang-orang yang tidak hanya berilmu — tapi juga berakhlak mulia.
Ilmu yang bermakna bukan hanya soal hafalan. Tapi juga soal bagaimana seseorang memperlakukan orang lain setelahnya.
Kalau ingin mengetahui lebih dalam tentang sistem pendidikan di pesantren, silakan hubungi lewat WhatsApp 0812111180. Percakapan yang dimulai dengan adab selalu berakhir dengan kebaikan.