Wardan, [15/08/12], Rabu, sore hari yang cerah, kira-kira pukul 17.15 WIB sebanyak 150 orang bergegas ke lapangan basket Darunnajah Cipining.
Mereka terdiri dari karyawan pesantren, tokoh agama dan pemerintahan masyarakat, guru pesantren dan anak asuh Pesantren Darunnajah Cipining.
Sore itu, diadakan acara buka puasa bersama dengan penyandang dana PT. Indosat. Penuturan H. Mustajab Anawar, S.Pd.I, selaku panitia pelaksana, pada kesempatan tersebut pihak Indosat memberikan dana sebesar dua juta rupiah dialokasikan sebanyak 130 orang.
Tepat pukul 17.38 WIB acara dimulai dengan membaca tahlil bersama, langsung dipimpin oleh ketua panitia pelaksana.
Pada kesempatan berbahagia ini juga, beliau menyampaikan sambutan tentang pentingnya jalinan sillaturrahmi antarsesama pesantren dengan masyarakat.
Masih menurutnya, urgensi dari buka puasa bersama bukan sekedar makan barengnya. Tetapi jauh dari itu adalah menghubungkan/menyemarakkan persaudaraan antarummat muslim. Menumbuhkan kepedulian sosial, melahirkan jiwa yang gemar memberi sehingga akan timbul rasa empati dan memperkokoh semangat persatuan dan kesatuan.
Beliau juga menyinggung tentang peranan penting media komunikasi milik PT Indosat. Selayaknya manusia yang kehidupannya saling mengisi, maka sepantasnya disukuri dengan keberadaan tower ini. Betapa tidak, dengan media ini bisa untuk menyambung komunikasi jarak jauh yang selama ini tersendat dengan tidak adanya sinyal.
Untuk itu patutlah kiranya semua pihak peduli untuk saling menjaga, sehingga keamanannya terjamin.
Di penghujung sambutannya beliau ungkapkan, mudah-mudahan Indosat di masa-masa mendatang peduli sosial, bukan sekedar acara buka puasa bersama, tetapi acara-acara lain yang bermanfaat bagi Pesantren Darunnajah Cipining dan lingkungan Desa Argapura sekitarnya.
Acara selanjutnya nasihat agama yang disampaikan oleh Pimpinan Pesantren Darunnajah Cipining.
Dalam uraiannya Bapak Kiyai lebih menekankan pentingnya terus meningkatkan ibadah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Karena memang pelaksanaan dilaksanakan pada waktu sepuluh terakhir.
Pada bulan Ramadhan Rasulullah menggenjot ibadahnya melebihi hari-hari biasa. Bahkan khususnya pada asyrul awâkhir, beliau kencangkan ikat pinggangya dan mengajak sanak familinya, anak-anaknya dan isteri-isterinya untuk hidupkan malam-malamnya.
Dalam al-qur’an Allah firmankan pada surat Al-Qodr ayat 1 s.d. 5 sebagai berikut :
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï’s#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ !$tBur y71u÷r& $tB ä’s#øs9 Íôs)ø9$# ÇËÈ ä’s#øs9 Íôs)ø9$# ×öy{ ô`ÏiB É#ø9r& 9öky ÇÌÈ ãA¨ts? èps3Í´¯»n=yJø9$# ßyr9$#ur $pkÏù ÈbøÎ*Î/ NÍkÍh5u `ÏiB Èe@ä. 9öDr& ÇÍÈ íO»n=y }Ïd 4Ó®Lym Æìn=ôÜtB Ìôfxÿø9$# ÇÎÈ
(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593]. (2). dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? (3). malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4). pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (5). malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.
[1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.
Bahwa pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang ibadahnya lebih baik dari ibadah seribu bulan.
Berkah ini diturunkan secara khusus pada masa Muhammad yang tidak ada pada masa-masa sebelumnya, sebagai jawaban umat Muhammad dengan usia relatif jauh lebih rendah dibandingkan umat-umat sebelumnya yang bisa mencapai usia ratusan tahun.
Tentunya bulan Ramadhan awal dari sebuah pembentukkan akhlakuntuk mencapai tingkat takwa. Maka setiap muslim diharuskan untuk senantiasa mengisi ibadah-ibadah, mendekatkan diri pada Allah.
Memang pada saat-saat itu, tayangan telivisi menarik dan bagus sebagai contoh, tetapi jauh lebih bagus menyibukkan diri dengan beribadah seperti berdzikir, membaca al-qur’an, beri’tikaf, dan lain sebagainya.
Khususnya I’tikaf di bulan Ramadhan, merupakan ibadah yang digemari dan senantiasa dilaksanakan oleh Rasulullah s.a.w. sampai akhir hayatnya sebagai rasa syukur dan penghambaan diri kepada Allah s.w.t.
Pada akhirnya Pak Kiyai himbau kepada jamaah untuk kembali memakmurkan masjid. Memang malam lailatul qodar bisa direngkuh di mana saja, tetapi langkah baiknya kalau umat muslim senantiasa menyemarakkan masjid-masjid sebagai baitullah.
Akhirnya beliau menutup tausiyah dengan berdoa, semoga segala amal perbuatan baik yang telah dilaksanakan pada bulan ini diterima oleh Allah, dan dibalasnya dengan sebaik-baiknya balasan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Semoga jalinan antara Pesantren Darunnajah Cipining dan PT. Indosat tetap terjaga, sehingga yang akan datang kegiatan-kegiatan sosial keagamaan bisa dilaksanakan lebih meriah lagi. [Mr. Song]