Banyak orang membayangkan pesantren sebagai tempat yang jauh dari layar, jauh dari kabel, jauh dari apa pun yang berbau digital. Wajar. Gambaran itu sudah bertahun-tahun melekat. Tapi kalau kita datang langsung dan melihat sendiri, ada satu ruangan yang mungkin bikin kening terangkat. Lab komputer. Lengkap dengan unit yang berjalan, koneksi yang hidup, dan jadwal pemakaian yang teratur.
Tunggu dulu. Bukannya pesantren itu melarang teknologi?
Kenapa pesantren membatasi gadget tapi bukan teknologi?
Ini bagian yang sering tertukar. Yang dibatasi di lingkungan pesantren adalah gadget pribadi. Bukan teknologi itu sendiri. Dua hal ini berbeda jauh. Gadget pribadi punya potensi membawa konten tanpa filter, notifikasi tanpa henti, dan distraksi yang sulit dikontrol bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Tapi teknologi sebagai alat belajar? Itu cerita lain.
Di pesantren yang sudah berdiri lebih dari tiga dekade, pendekatan terhadap teknologi bukan soal menolak atau menerima mentah-mentah. Ada jalan tengah yang dipilih dengan sadar. Santri tidak memegang smartphone sendiri, tapi mereka punya akses ke laboratorium komputer untuk belajar perangkat lunak, mengetik, dan memahami dasar-dasar dunia digital. Ada jadwalnya. Ada pendampingnya. Ada tujuannya.
Fasilitas teknologi apa saja yang tersedia?
Kalau kita bicara soal fasilitas, yang tersedia bukan hanya satu ruang dengan deretan komputer. Ada unit multimedia tempat santri belajar mengenal dunia audio dan video. Ada ekskul fotografi yang mengajarkan komposisi, pencahayaan, dan cara bercerita lewat gambar. Ada desain grafis yang membuka pintu kreativitas visual. Bahkan ada ekskul kartun dan manga, tempat imajinasi bertemu keterampilan teknis. Semua ini berjalan berdampingan dengan hafalan, kajian kitab, dan salat berjamaah.
Mungkin yang paling menarik bukan daftar fasilitasnya, tapi cara semuanya diatur.
Bayangkan seorang anak yang di rumah terbiasa menghabiskan empat sampai lima jam sehari di depan layar ponsel. Sebagian besar waktunya habis untuk konten yang tidak dia pilih secara sadar. Algoritma yang memilihkan. Di pesantren, waktu di depan layar memang berkurang drastis. Tapi waktu yang tersisa diisi dengan interaksi nyata. Dan ketika mereka akhirnya duduk di depan komputer, ada niat yang jelas. Mau belajar editing. Mau bikin desain untuk majalah dinding. Mau eksplorasi software presentasi untuk tugas kelas.
Perbedaannya bukan di banyak atau sedikitnya teknologi. Perbedaannya di kesadaran saat menggunakannya.
Apakah anak pesantren tidak ketinggalan zaman?
Keluarga yang sedang mencari tempat pendidikan untuk anaknya sering kali punya satu kekhawatiran diam-diam. Kalau anak masuk pesantren, apa dia tidak ketinggalan zaman?
Pertanyaan itu wajar. Tapi mari kita balik sebentar. Berapa banyak anak yang akrab dengan gadget sejak kecil, tapi tidak bisa membuat satu dokumen presentasi yang rapi? Berapa banyak yang punya akun media sosial tujuh macam, tapi tidak tahu cara menulis email formal? Akrab dengan layar tidak otomatis berarti melek teknologi. Kadang justru yang terjadi adalah konsumsi pasif. Bukan penguasaan.
Di pesantren, pendekatan yang diambil adalah memperkenalkan teknologi sebagai alat produksi, bukan alat konsumsi. Santri belajar membuat, bukan sekadar menonton. Mereka belajar mengedit, bukan sekadar scroll. Mereka belajar menyusun, bukan sekadar menyimpan.
Kakak kelas yang sudah lebih dulu menguasai software tertentu biasanya menjadi tutor bagi adik kelas. Proses belajar mengalir secara organik, dan itu menciptakan budaya berbagi pengetahuan yang jarang ditemukan di tempat lain.
Ada momen yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh seorang santri. Saat pertama kali hasil desainnya dipajang. Saat foto yang dia ambil dipilih untuk publikasi internal. Saat video pendek yang dia edit ditonton bersama-sama di aula. Momen-momen kecil itu membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar keterampilan teknis. Kepercayaan diri bahwa dia mampu berkarya dengan tangannya sendiri.
Dan semua itu terjadi tanpa satu pun smartphone pribadi di saku.
Darunnajah 2 Cipining, yang berdiri di area perbukitan Bogor Barat Bogor, menjalankan pendekatan ini bukan sebagai eksperimen baru, tapi sebagai bagian dari filosofi pendidikan yang sudah teruji. Keseimbangan antara pembentukan karakter dan penguasaan keterampilan praktis.
Kalau selama ini ada bayangan bahwa memilih pesantren berarti memilih ketinggalan, mungkin sudah waktunya bayangan itu diperbarui. Yang terjadi di dalam sana lebih terukur dan lebih manusiawi dari yang kita kira.
Untuk keluarga yang ingin melihat langsung, percakapan bisa dimulai dari WhatsApp 0812111180. Kadang satu kunjungan singkat mengubah seluruh cara pandang.