Anak Pesantren Sering Lebih Dipercaya dalam Diskusi Kelompok — Bukan Karena Banyak Tahu, tapi Karena Berani Mengakui Tidak Tahu
Ada satu sifat halus yang sering muncul dalam diskusi kelompok yang sehat — keberanian seseorang untuk berkata, “Saya tidak tahu hal itu.” Sifat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya tidak banyak yang memilikinya secara konsisten. Kebanyakan orang lebih nyaman menebak, mengarang, atau setidaknya memberi jawaban yang ambigu daripada mengakui terus terang bahwa ia tidak tahu.
Padahal, dalam dinamika diskusi yang sebenarnya, orang yang paling dipercaya biasanya bukan yang punya jawaban untuk semua pertanyaan. Tetapi yang berani membatasi pengetahuannya sendiri dengan jujur. Ketika ia memberi jawaban, peserta diskusi tahu jawaban itu memang punya dasar. Ketika ia bilang tidak tahu, peserta diskusi tahu jawaban berikutnya layak dicari di tempat lain.
Sifat ini ternyata sering muncul pada orang yang sempat menjalani pendidikan di pesantren. Bukan karena pesantren mengajarkan kerendahan hati intelektual sebagai mata pelajaran terpisah, melainkan karena budaya akademik pesantren memang sengaja membentuk sikap seperti itu sejak hari pertama santri masuk.
Kenapa Banyak Orang Sulit Mengakui Tidak Tahu?
Ada beberapa alasan yang menjelaskan kenapa mengakui ketidaktahuan terasa sulit bagi banyak orang dewasa. Pertama, sistem pendidikan formal sering mengaitkan nilai diri dengan kemampuan menjawab. Sejak anak masih di sekolah dasar, ujian dirancang untuk mengukur seberapa banyak yang diketahui. Anak yang sering bilang “saya tidak tahu” sering mendapat penilaian rendah, walaupun jawaban tersebut sebenarnya yang paling jujur.
Akumulasi pengalaman seperti itu selama belasan tahun membuat banyak orang dewasa membawa refleks defensif terhadap pertanyaan yang mereka tidak tahu jawabannya. Lebih nyaman menebak atau mengarang, bahkan membelokkan ke topik yang dikuasai, daripada mengaku tidak tahu.
Alasan lain adalah dinamika sosial yang sering memberi penghargaan pada orang yang tampak serba tahu. Dalam rapat kerja, orang yang banyak bicara cenderung dianggap lebih kompeten, walaupun isi pembicaraannya tidak selalu mendalam. Pengaruh seperti ini membuat banyak orang sulit menahan diri untuk mengakui keterbatasan, karena khawatir dianggap kurang berbobot.
Bagaimana Pesantren Membangun Budaya yang Berbeda?
Di lingkungan asrama, ada beberapa praktik akademik yang secara halus melatih kerendahan hati intelektual.
Salah satu yang paling konsisten adalah tradisi munaqasyah — debat akademik terkonsep yang menjadi bagian dari kurikulum TMI. Dalam munaqasyah, santri dari berbagai angkatan berhadapan untuk membahas satu topik dengan argumen yang harus disertai sumber. Yang menarik dari tradisi ini, peserta yang dianggap menang biasanya bukan yang paling banyak bicara, melainkan yang paling jujur tentang batas pengetahuannya. Saat ditanya hal yang ia tidak tahu, peserta yang baik akan mengakui dan menyebut sumber yang bisa dirujuk lebih lanjut. Sikap ini lebih dihargai daripada jawaban yang tampak meyakinkan namun tidak memiliki dasar.
Tradisi lain adalah fathul kutub — sesi membaca kitab klasik bersama yang dipandu kakak kelas atau ustadz. Dalam sesi ini, santri sering menemui istilah, kaidah, atau konsep yang belum mereka pahami. Norma yang sengaja dibangun adalah jangan pura-pura paham. Saat ada bagian yang tidak dimengerti, santri diminta untuk berhenti, bertanya, dan mencatat. Pengulangan praktik seperti ini selama bertahun-tahun membentuk kebiasaan otomatis untuk membatasi diri pada hal yang benar-benar dipahami, dan jujur saat ada hal yang belum dikuasai.
Selain itu, gaya nasihat dari ustadz dan kakak kelas juga ikut membentuk pola pikir. Saat ada santri bertanya hal yang sangat dasar, ustadz biasanya menjawab dengan tenang tanpa menertawakan. Saat ada kakak kelas ditanya hal yang ia juga tidak tahu, biasanya ia mengakui dan mengajak adik kelas mencari bersama. Tidak ada budaya menyombongkan pengetahuan. Yang ada justru budaya saling melengkapi.
Apa yang Terjadi Saat Anak Membawa Sikap Ini ke Diskusi Lain?
Setelah anak lulus dan masuk universitas atau dunia kerja, sikap berani mengakui tidak tahu sering memberi keuntungan halus yang tidak disadari pemiliknya.
Di kampus, dosen biasanya lebih senang dengan mahasiswa yang berkata terus terang, “Saya belum baca bagian itu, Pak. Saya akan cek dan kembali dengan jawaban yang lebih lengkap.” Daripada mahasiswa yang menebak-nebak dan akhirnya memberi jawaban yang setengah salah. Mahasiswa pertama biasanya mendapat kepercayaan untuk tugas yang lebih berat di semester berikutnya.
Di tempat kerja, atasan lebih nyaman menugaskan proyek penting kepada karyawan yang berani bilang, “Saya belum pernah mengerjakan ini, tapi saya akan pelajari dan minta bantuan dari yang lebih senior.” Daripada karyawan yang langsung mengiyakan tanpa benar-benar paham scope pekerjaannya. Yang pertama mungkin terdengar kurang percaya diri di awal, tetapi biasanya menyelesaikan tugas dengan kualitas yang lebih baik karena sudah jujur tentang gap pengetahuan sejak awal.
Dalam diskusi keluarga atau pertemanan dewasa, orang yang berani mengakui tidak tahu juga sering menjadi tempat bertanya yang paling diandalkan. Karena setiap jawabannya bisa dipercaya. Tidak ada keraguan apakah ia hanya menebak atau benar-benar tahu. Reputasi seperti ini terbangun pelan-pelan selama bertahun-tahun, dan biasanya tidak bisa dipercepat dengan cara apapun selain konsistensi sikap.
Pendidikan karakter halus seperti yang dibahas di sini sulit dibangun lewat ceramah singkat. Yang lebih efektif adalah lingkungan yang memungkinkan kebiasaan kecil tumbuh dari pengulangan harian. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan ritme tersebut bagi anak-anak yang dititipkan di sana, walaupun tentu setiap keluarga punya jalan masing-masing yang juga bisa membentuk karakter serupa di rumah.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.