Kebiasaan Anak Pesantren yang Sering Mengambil Bagian Paling Sedikit Saat Pembagian — Bukan Karena Lambat, tapi Karena Sesuatu yang Lebih Halus
Ada satu pengamatan kecil yang sering muncul dalam acara keluarga atau pertemuan dengan banyak anak. Saat ada makanan, oleh-oleh, atau hadiah yang dibagikan, biasanya ada beragam reaksi dari setiap anak. Sebagian langsung mengambil bagian terbesar tanpa ragu. Sebagian menunggu giliran sambil menghitung-hitung. Tetapi ada satu kelompok anak yang sering memilih bagian paling sedikit, atau bahkan menunggu sampai semua mendapat sebelum mengambil giliran sendiri.
Yang menarik, anak-anak dalam kelompok terakhir ini biasanya bukan anak yang penakut atau lambat. Beberapa di antaranya justru anak yang paling aktif dalam permainan, paling kreatif dalam ide, dan paling lincah dalam berbicara. Mereka mengambil bagian paling sedikit bukan karena tidak bisa, melainkan karena sesuatu yang lebih halus dan jarang dipahami orang dewasa di sekitarnya.
Pola ini cukup sering muncul pada anak yang sempat tinggal beberapa tahun di pesantren. Pengamatan dari beberapa orang tua santri yang sudah lulus dari pesantren menunjukkan bahwa anak mereka sering memiliki refleks tertentu saat berhadapan dengan situasi pembagian. Bukan refleks malu. Bukan juga refleks pasif. Tetapi refleks mendahulukan orang lain yang biasanya tampak alami, tanpa harus diingatkan orang tua sebelum berangkat ke acara.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Kebiasaan Ini?
Sikap mendahulukan orang lain dalam pembagian dikenal dalam tradisi keagamaan dengan istilah itsar — sebuah konsep yang lebih dalam dari sekadar sopan santun. Itsar adalah kemampuan untuk merasa cukup dengan apa yang ada, sehingga ada ruang batin untuk memberi prioritas kepada orang lain.
Konsep ini terdengar abstrak bila hanya dibaca dari buku. Tetapi dalam praktik harian asrama, ia menjadi sangat konkret. Saat ada makanan terbatas di ruang makan, anak harus belajar membaca seberapa lapar teman di sebelahnya, lalu menyesuaikan porsi yang ia ambil agar semua kebagian. Pola serupa berlaku ketika ada barang sumbangan dari donatur yang jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah santri — anak yang lebih lama tinggal di asrama biasanya mengalah lebih dulu. Bahkan dalam kesempatan tampil di acara tertentu, anak yang sudah pernah tampil di acara serupa biasanya merelakan giliran kepada teman yang belum pernah.
Pengulangan situasi seperti ini selama bertahun-tahun membentuk semacam kalibrasi internal pada anak. Tubuhnya otomatis tahu kapan harus mengambil sedikit dan kapan boleh mengambil banyak. Pikirannya tidak lagi melihat pembagian sebagai kompetisi, melainkan sebagai koordinasi antar anggota komunitas yang sama-sama berhak.
Kenapa Sikap Ini Terlihat Langka di Anak Modern?
Lingkungan modern sering memberi pesan yang berlawanan. Anak diajarkan untuk berani mengambil hak, tidak takut bersaing, dan memperjuangkan apa yang menjadi miliknya. Pesan-pesan tersebut sebenarnya tidak salah dalam konteks tertentu — anak memang perlu belajar tegas, terutama dalam menghadapi ketidakadilan. Tetapi ketika konteks pembagian bukan ketidakadilan, melainkan kesempatan saling memberi, refleks bersaing yang sudah terlatih sering tidak bisa dimatikan dengan mudah.
Anak yang tumbuh di rumah dengan satu atau dua saudara biasanya jarang berhadapan dengan situasi pembagian dalam kelompok besar. Pembagian di rumah biasanya sudah otomatis adil — orang tua memastikan setiap anak mendapat bagian yang sesuai. Anak tidak memiliki banyak kesempatan untuk berlatih merelakan giliran dalam konteks yang variatif.
Lingkungan sekolah pun sering tidak menyediakan latihan ini. Saat ada hadiah dibagikan, biasanya jumlahnya sudah disesuaikan dengan jumlah anak. Saat ada kesempatan tampil, biasanya semua anak diberi giliran yang setara. Tidak ada kondisi langka yang memaksa anak untuk membaca kebutuhan teman dan menyesuaikan diri.
Bagaimana Asrama Pesantren Memberi Latihan Itu Secara Alami?
Di lingkungan asrama, situasi pembagian dengan jumlah yang tidak selalu cukup adalah bagian dari keseharian.
Bukan karena pesantren kekurangan, melainkan karena hidup berdampingan dengan ribuan orang membuat sumber daya selalu harus dibagi dengan kesadaran. Air panas untuk mandi pagi diatur giliran, tempat di shaf depan masjid pesantren saat sholat berjamaah memiliki kapasitas terbatas, dan akses ke komputer di laboratorium juga harus bergantian. Bahkan oleh-oleh dari orang tua yang berkunjung, yang biasanya dibagi-bagi ke teman sekamar, tidak selalu sebanding dengan jumlah anak yang ada.
Dalam suasana seperti itu, anak yang ngotot mengambil bagian terbesar lama-lama akan kehilangan teman. Sebaliknya, anak yang konsisten merelakan giliran biasanya mendapatkan loyalitas teman yang lebih dalam. Ada hukum sosial halus yang sengaja tidak ditulis tetapi sangat efektif dalam membentuk perilaku. Kakak kelas yang lebih lama tinggal di asrama biasanya menjadi teladan utama. Adik kelas mengamati bagaimana kakak kelas mengambil makanan terakhir yang tersisa, atau bagaimana mereka memberikan tempat duduk yang lebih baik kepada teman yang baru datang. Lama-lama, perilaku tersebut menjadi norma yang dianggap wajar.
Ada juga konteks keagamaan yang ikut memperkuat. Konsep itsar diperkenalkan dalam pelajaran akhlak dengan cerita-cerita historis tentang sahabat Nabi yang sering mendahulukan tamu walaupun keluarganya sendiri sedang lapar. Cerita seperti ini bukan dipaksakan sebagai dogma, tetapi sebagai inspirasi yang menunjukkan bahwa kebiasaan mendahulukan orang lain memiliki tradisi yang panjang dan terhormat.
Pendidikan karakter halus seperti yang dibahas di sini sulit dibangun lewat ceramah singkat. Yang lebih efektif adalah lingkungan yang memungkinkan kebiasaan kecil tumbuh dari pengulangan harian. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan ritme tersebut bagi anak-anak yang dititipkan di sana, walaupun tentu setiap keluarga punya jalan masing-masing yang juga bisa membentuk karakter serupa di rumah.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.