Bagaimana Santri Terbiasa Bicara Arab dan Inggris Setiap Hari?

Pernah dengar santri kelas satu SMP yang baru tiga bulan di pesantren, tiba-tiba menegur temannya dalam bahasa Arab karena lupa mengembalikan sandal ke rak?

Bukan karena dia sudah fasih. Bukan juga karena dia anak yang rajin sejak kecil. Dia melakukannya karena di lingkungan tempat dia tinggal sekarang, bahasa Arab dan bahasa Inggris bukan sekadar pelajaran yang punya jam mulai dan jam selesai. Bahasa asing di sini adalah udara. Dihirup sejak bangun tidur, dipakai saat makan, diucapkan ketika marah, bahkan ketika bercanda di lapangan futsal setelah Ashar.

Kita sering membayangkan pembelajaran bahasa asing itu kaku. Ada kelas, ada papan tulis, ada guru yang mendikte kosakata. Lalu bel berbunyi, semua lupa. Besoknya mulai dari nol lagi. Tapi ada pendekatan lain yang sudah berjalan lebih dari tiga dekade di sebuah pesantren bilingual di kawasan bukit Bogor Barat, Bogor, Jawa Barat. Pendekatan yang tidak memisahkan bahasa dari kehidupan.

Bagaimana sistem bergantian bahasa setiap pekan benar-benar berjalan?

Sistemnya sederhana kalau didengar: satu pekan penuh bahasa Arab, pekan berikutnya bahasa Inggris. Bergantian. Tanpa jeda. Santri yang kedapatan bicara bahasa Indonesia di pekan Arab akan ditegur oleh temannya sendiri, bukan oleh guru. Itu yang membuat sistem ini berbeda. Bahasa menjadi tanggung jawab bersama, bukan beban individu.

Coba bayangkan pagi hari di asrama. Seorang santri baru saja selesai shalat Subuh berjamaah. Dia berjalan ke kamar mandi, berpapasan dengan seniornya. Sapaannya bukan selamat pagi. Kalau pekan ini pekan Arab, sapaan itu menjadi kalimat pendek dalam bahasa Arab. Kadang salah grammar. Kadang tersendat. Tapi tetap diucapkan. Karena di sini, salah itu biasa. Yang tidak biasa adalah diam.

Apa yang membuat metode ini berbeda dari belajar bahasa di sekolah biasa?

Di ruang kelas, metodenya disebut direct method. Guru berbicara langsung dalam bahasa target. Tidak ada terjemahan. Santri dipaksa menangkap makna dari konteks, dari gestur, dari pengulangan. Awalnya membingungkan. Tapi otak manusia punya kemampuan luar biasa untuk beradaptasi ketika tidak diberi jalan pintas. Dalam beberapa pekan, santri mulai memahami pola. Dalam beberapa bulan, mereka mulai berpikir dalam bahasa itu.

Kurikulum bahasa Arab di sini punya kedalaman yang jarang ditemukan di sekolah umum. Ada Nahwu dan Shorof untuk tata bahasa. Ada Balaghah untuk memahami keindahan sastra Arab. Mutholaah untuk membaca intensif. Insya’ untuk menulis esai. Imla’ untuk dikte. Mahfudzat, hafalan peribahasa Arab yang mengasah memori sekaligus pemahaman budaya. Bahkan ada Khat, seni kaligrafi yang mengajarkan kesabaran melalui ujung pena.

Semua itu bukan hanya teori. Ada muhadhoroh, latihan pidato dalam tiga bahasa yang dilakukan rutin. Santri berdiri di depan teman-temannya, kadang gemetar, kadang lupa teks, tapi mereka berdiri. Ada munaqasyah, diskusi ilmiah yang melatih santri berargumen dalam bahasa asing. Dan ada fathul kutub, kemampuan membaca kitab klasik berbahasa Arab tanpa harakat, tanpa terjemahan. Keterampilan yang biasanya butuh bertahun-tahun di lembaga lain.

Apakah ini tidak membebani anak yang juga harus belajar matematika dan sains?

Justru di situlah letak desain sistem ini. Bahasa tidak diposisikan sebagai beban tambahan. Bahasa menjadi medium. Ketika santri berdiskusi tentang sejarah Islam, mereka berdiskusi dalam bahasa Arab. Ketika mereka mempresentasikan proyek sains, mereka mempresentasikannya dalam bahasa Inggris. Bahasa bukan pelajaran terpisah. Bahasa adalah cara mereka menjalani semua pelajaran.

Dan hasilnya bisa dilihat. Lulusan pesantren ini melanjutkan studi ke Al-Azhar Mesir, ke universitas di Maroko, Yordania, Malaysia, bahkan Eropa. Bukan karena mereka jenius sejak lahir. Tapi karena selama bertahun-tahun, mereka terbiasa hidup dalam bahasa yang akan mereka butuhkan di sana. Tidak ada kejutan budaya linguistik. Tidak ada fase adaptasi yang menyiksa. Mereka sudah siap jauh sebelum pesawat mereka mendarat.

Lembaga ini berakreditasi A dengan ijazah yang diakui dua kementerian. Itu penting, karena artinya santri tidak kehilangan jalur akademik formal. Mereka tetap bisa mengikuti ujian nasional, tetap bisa mendaftar ke universitas negeri, tetap punya semua pintu terbuka. Bedanya, mereka punya pintu tambahan yang tidak dimiliki kebanyakan lulusan sekolah umum.

Apa yang terjadi ketika bahasa sudah masuk ke refleks anak?

Ada satu momen yang sering diceritakan alumni. Ketika mereka pulang ke rumah setelah beberapa bulan pertama, orang tua mereka kaget. Bukan karena anaknya berubah drastis. Tapi karena anaknya menjawab telepon, dan tanpa sadar menyisipkan kalimat dalam bahasa Arab. Lalu tertawa sendiri. Lalu menerjemahkannya.

Momen kecil itu bukan pertunjukan. Itu bukti bahwa bahasa sudah menjadi bagian dari cara anak itu berpikir. Sudah masuk ke refleksnya. Sudah bukan lagi sesuatu yang harus diingat, tapi sesuatu yang mengalir.

Pesantren Darunnajah 2 Cipining membangun sistem ini bukan dalam semalam. Lebih dari tiga dekade pengalaman, ribuan alumni, dan penyempurnaan metode yang tidak pernah berhenti. Setiap generasi santri yang datang menemukan lingkungan bahasa yang sedikit lebih baik dari generasi sebelumnya. Karena sistem ini hidup. Bernapas. Berkembang.

Untuk keluarga yang sedang mencari pesantren bilingual di Bogor, Jawa Barat, pertanyaannya bukan lagi apakah anak bisa belajar bahasa asing di pesantren. Pertanyaannya adalah apakah kita mau memberi anak kesempatan untuk hidup dalam bahasa itu setiap hari, bukan hanya mempelajarinya dua jam seminggu.

Kalau jawabannya ya, langkah pertamanya bisa dimulai sekarang. Hubungi wa.me/62812111180 untuk bertanya langsung tentang pendaftaran, sistem pembelajaran, atau apa pun yang ingin diketahui.