Ada sebuah ruangan di pesantren yang suaranya selalu paling ramai setiap Kamis sore. Bukan karena ada yang bertengkar, tapi karena puluhan santri saling beradu argumen dalam bahasa Inggris — dan semangat mereka kadang membuat ustadz pembimbingnya harus mengingatkan agar volume diturunkan sedikit.
Apa yang terjadi di ruang debat setiap Kamis sore?
Dua kelompok berdiri berhadapan. Satu membela, satu menentang. Topiknya bisa apa saja — pendidikan, teknologi, lingkungan, sampai isu sosial yang sedang hangat di berbagai belahan dunia. Yang menarik bukan topiknya, tapi wajah-wajah yang berdiri di sana. Sebagian dari mereka, enam bulan lalu, masih gemetar saat diminta memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris di depan kelas.
Sekarang mereka berdebat. Kalimat demi kalimat mengalir, kadang terbata, kadang lancar, tapi selalu berani. Ada yang tangannya masih sedikit berkeringat, tapi mulutnya tidak lagi berhenti. Ada yang suaranya kecil di kalimat pertama, lalu menggelegar di kalimat penutup.
Ekspresi mereka setelah sesi selesai adalah campuran antara lega, bangga, dan tidak sabar untuk maju lagi pekan depan.
Bagaimana keberanian itu bisa tumbuh begitu alami?
Jawabannya bukan di kelas debat itu sendiri. Jawabannya ada jauh sebelum sesi debat dimulai — di setiap pagi ketika seluruh santri diwajibkan bercakap dalam bahasa Inggris selama satu pekan penuh, lalu berganti bahasa Arab di pekan berikutnya. Sistem bilingual ini berjalan tanpa jeda, dari bangun tidur sampai lampu asrama dipadamkan.
Di sana, diam justru lebih canggung daripada salah bicara.
Seperti apa ketika bahasa asing menjadi bahasa sehari-hari?
Di kantin, santri memesan makanan dalam bahasa Inggris. Di lapangan, mereka berteriak menyemangati teman dalam bahasa Inggris. Di depan cermin kamar mandi, ada yang diam-diam berlatih pelafalan kata yang baru dipelajari pagi tadi. Meminjam sandal teman sekamar pun kalimatnya harus dalam bahasa yang sedang berlaku pekan itu.
Dari situlah semuanya dimulai.
Ketika bahasa asing menjadi bahasa keseharian, sesuatu yang awalnya terasa mustahil perlahan berubah menjadi kebiasaan. Vocabulary bertambah bukan dari menghafal daftar kata, tapi dari percakapan nyata yang terjadi puluhan kali sehari. Grammar membaik bukan dari mengerjakan soal latihan, tapi dari koreksi natural antar teman yang saling mengingatkan tanpa harus merasa digurui.
Pesantren dengan kurikulum TMI memadukan tradisi keilmuan dan metode modern dalam satu sistem. Salah satu metode yang paling berperan adalah direct method — santri belajar bahasa asing dengan cara langsung menggunakannya, bukan menerjemahkan dari bahasa Indonesia terlebih dahulu. Otak dipaksa bekerja dalam bahasa target, dan hasilnya terasa saat berdebat.
Muhadharah tiga bahasa menjadi jenjang pertama. Setiap pekan, santri bergiliran berpidato di depan teman-temannya — dalam bahasa Indonesia, Arab, atau Inggris secara bergantian. Di awal, banyak yang membaca teks hafalan. Setelah beberapa bulan, teks itu mulai dilipat dan dimasukkan ke saku. Setelah setahun, beberapa santri berpidato tanpa catatan sama sekali.
Debat adalah kelanjutan natural dari muhadharah. Setelah terbiasa berbicara satu arah di depan pendengar yang diam, santri dilatih berbicara dua arah — dengan lawan yang aktif menantang setiap argumen.
Apa yang terbentuk di balik setiap sesi debat?
Debat bukan sekadar soal kemampuan berbicara dalam bahasa asing. Di balik setiap sesi ada keterampilan berpikir kritis yang terbentuk tanpa perlu dijelaskan secara teori. Santri belajar menyusun argumen yang logis, mencari bukti untuk mendukung pendapatnya, membaca sudut pandang lawan, dan merespons dengan tepat — semua dalam hitungan detik.
Ada satu keterampilan yang jarang disadari. Ketika santri berlatih debat, mereka sedang belajar mendengarkan. Bukan mendengarkan sambil menunggu giliran bicara, tapi mendengarkan untuk benar-benar memahami apa yang disampaikan orang lain. Keterampilan ini semakin langka di dunia yang semuanya bergerak cepat.
Santri juga belajar menerima kekalahan dengan bermartabat. Tidak semua debat dimenangkan. Justru dari kekalahan itulah motivasi untuk berlatih lebih keras muncul dengan sendirinya. Mereka pulang ke asrama, membuka kamus, mencari argumen yang lebih kuat, dan menunggu Kamis berikutnya dengan semangat baru.
Siapa saja yang berdiri di podium debat itu?
Bukan hanya santri yang sejak kecil sudah fasih berbahasa asing. Justru sebagian besar dari mereka datang dari keluarga yang di rumahnya tidak ada satu pun yang berbicara bahasa Inggris. Ada yang dari desa kecil di Kalimantan. Ada yang dari gang sempit di Jakarta Timur. Ada yang ibunya pedagang sayur di pasar tradisional.
Mereka semua berdiri di podium yang sama.
Tidak ada yang lebih diistimewakan karena latar belakangnya. Sistem di pesantren memperlakukan semua santri dengan standar yang sama — dan justru kesetaraan itulah yang membangun keberanian. Ketika semua orang sedang sama-sama belajar, rasa malu kehilangan alasan untuk bertahan.
Kakak kelas yang sudah lebih dulu fasih menjadi pembimbing natural bagi adik-adik kelasnya. Mereka tidak mengejek kesalahan grammar atau pelafalan yang masih berantakan, karena mereka ingat persis bagaimana rasanya berdiri di posisi itu setahun sebelumnya. Rantai ini berputar terus dari angkatan ke angkatan, menciptakan budaya belajar yang saling mengangkat tanpa perlu dipaksakan.
Apa yang dibawa santri setelah ruang debat ditutup?
Keberanian berbicara di depan umum dalam bahasa asing. Itu yang paling terlihat. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam — kepercayaan diri yang tenang. Bukan jenis yang keras dan memaksa, tapi jenis yang membuat seseorang bisa masuk ke ruangan mana pun dan merasa ia punya sesuatu untuk disampaikan.
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, tradisi debat bahasa Inggris ini sudah berjalan bertahun-tahun dan menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu setiap pekan. Bukan karena ada hadiah atau nilai tambahan, tapi karena di situlah santri merasakan pertumbuhan diri yang nyata — momen ketika mereka mendengar suaranya sendiri mengalir dalam bahasa asing dan menyadari bahwa ia ternyata mampu.
Alumni yang dulu gemetar saat debat pertamanya kini tersebar di berbagai universitas dan tempat kerja di dalam maupun luar negeri. Beberapa memimpin presentasi di forum internasional, beberapa menjadi negosiator yang diandalkan. Semua bermula dari Kamis sore di sebuah ruangan sederhana, ketika mereka pertama kali memberanikan diri membuka mulut dan menemukan bahwa suaranya ternyata layak didengar.
Buat yang penasaran seperti apa suasana belajar dan kegiatan santri lebih dekat, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Tidak perlu sungkan bertanya apa pun — tim di sana selalu senang mendengar cerita setiap keluarga.