Kalimat pertama itu keluar waktu antri makan siang. Bukan kalimat sempurna. Yang keluar dari mulut santri kelas tujuh itu cuma dua kata: give me. Sambil menunjuk lauk tempe goreng. Temannya yang sudah setahun lebih senior langsung mengoreksi dengan santai, please, tambah please. Lalu mereka berdua tertawa.
Begitulah bahasa Inggris tumbuh di pesantren. Bukan dari buku teks. Bukan dari ujian. Tapi dari tempe goreng dan tawa canggung di kantin.
Kenapa bicara bahasa Inggris terasa begitu menakutkan di awal?
Kita semua pernah ada di titik itu. Tahu kata-katanya, tahu susunannya, tapi begitu harus membuka mulut, rasanya seperti ada yang menahan. Takut salah grammar. Takut ditertawakan.
Yang membedakan adalah lingkungan. Di tempat yang salah, kesalahan berbahasa bisa jadi bahan ejekan berhari-hari. Di tempat yang tepat, kesalahan itu jadi bahan belajar yang dikenang sambil tersenyum bertahun-tahun kemudian.
Ada cerita yang sering beredar di kalangan santri. Seorang anak baru ingin minta izin ke kamar mandi. Dia berdiri, menarik napas, lalu berkata keras-keras, I want to go to bathroom for take a bath. Padahal dia cuma mau buang air kecil. Satu ruangan hening sedetik, lalu pecah tertawa. Kakak kelasnya langsung bilang, it’s okay, just say I need to go to the restroom. Besoknya dia sudah berani bicara lagi. Kalimatnya masih berantakan. Tapi dia bicara.
Itu yang paling penting. Dia bicara.
Bagaimana budaya bilingual membentuk keberanian sehari-hari?
Di lingkungan pesantren yang menerapkan dua bahasa, bahasa Inggris bukan mata pelajaran. Bahasa Inggris adalah udara. Ketika semua orang sama-sama belajar, sama-sama canggung, sama-sama pernah salah, rasa malu itu perlahan menguap.
Bayangkan lapangan olahraga sore hari. Anak-anak bermain bola sambil berteriak, pass to me. Ada yang salah bilang shoot padahal maksudnya kick. Tidak ada yang peduli. Yang penting bolanya sampai dan permainan terus berlanjut.
Di lorong asrama, dua santri berdebat soal giliran menyapu. Today is your turn. No, yesterday I already sweep. Swept. Okay, swept. But still your turn. Percakapan itu tidak akan dapat nilai A di kelas mana pun. Tapi percakapan itu nyata dan spontan.
Apa yang terjadi ketika anak dibiasakan tidak takut salah?
Setelah beberapa bulan, anak-anak yang tadinya diam membeku mulai berubah. Bukan tiba-tiba fasih. Tapi mereka mulai tidak lagi memikirkan kesalahan sebelum membuka mulut. Mereka bicara dulu, koreksi kemudian.
Kakak kelas punya peran besar. Mereka bukan guru. Mereka adalah teman yang kebetulan sudah lebih dulu melewati fase canggung itu. Koreksi yang datang sambil jalan, sambil makan, sambil main jauh lebih mudah diserap daripada koreksi yang datang dengan spidol merah.
Dan yang paling menarik, keberanian berbahasa ini merembet ke hal lain. Anak yang sudah tidak takut salah bicara bahasa Inggris cenderung lebih berani bertanya di kelas, lebih berani tampil di depan, lebih berani mengambil tanggung jawab.
Mungkinkah anak kita juga bisa seperti itu?
Kalau kita pernah melihat anak kita diam seribu bahasa saat diminta memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, kita tahu rasanya.
Di Darunnajah 2 Cipining, ruang untuk mencoba tanpa dihakimi ada setiap hari. Bukan ruang kelas. Tapi kantin, lorong, lapangan, dan setiap sudut asrama. Bahasa Inggris dan bahasa Arab berjalan beriringan dengan semua pelajaran, membentuk satu kesatuan pendidikan yang utuh.
Seorang santri kelas sembilan pernah bilang, dulu saya pikir bahasa Inggris itu pelajaran, sekarang saya tahu bahasa Inggris itu kebiasaan. Kalimat sederhana. Tapi coba renungkan apa artinya bagi anak yang empat tahun lalu bahkan belum berani bilang give me di kantin.
Langkah pertama tidak harus besar. Kadang cukup dua kata di antrian makan siang. Lalu seseorang mengingatkan untuk menambah please. Lalu tawa. Lalu besoknya, kalimat yang sedikit lebih panjang. Lalu setahun kemudian, percaya diri yang tidak bisa dibeli dengan kursus mana pun.
Hubungi WhatsApp 0812111180 untuk tahu lebih banyak tentang bagaimana anak-anak belajar berani di lingkungan pesantren bilingual.