Ada satu momen yang hampir semua santri ingat. Minggu pertama. Berdiri di antrian wudhu. Seseorang di belakang bertanya sesuatu dalam bahasa Arab. Kita diam. Bukan karena tidak dengar. Kita benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya seperti berdiri di negara asing tanpa peta.
Kebingungan itu nyata. Dan justru dari situ semuanya bermula.
Kenapa bahasa Arab terasa begitu jauh dari keseharian kita?
Sebagian besar dari kita mengenal bahasa Arab sebagai bahasa kitab. Bahasa yang dibaca, bukan diucapkan. Di rumah, tidak ada yang mengajak kita berbahasa Arab. Di sekolah umum, pelajaran bahasa Arab hadir seminggu sekali, dua jam, lalu hilang dari kepala begitu bel berbunyi.
Maka wajar kalau hari pertama di pesantren terasa seperti dinding tinggi. Semua orang bicara. Kita hanya mendengar bunyi tanpa makna. Tapi ada satu hal yang tidak kita sadari waktu itu. Ketidakmampuan kita bukan masalah. Ketidakmampuan itu justru titik mulai yang paling jujur.
Bagaimana cara belajar bahasa tanpa merasa sedang belajar?
Di pesantren, bahasa Arab bukan mata pelajaran. Bahasa Arab adalah udara. Mau makan? Bahasa Arab. Mau izin ke kamar mandi? Bahasa Arab. Tidak ada pilihan lain. Dan justru karena tidak ada pilihan, otak kita mulai bekerja dengan cara yang berbeda.
Kakak kelas menunjuk gelas dan berkata ku’b. Besok kita lupa. Lusa seseorang menunjuk gelas lagi. Kali ini kita ingat. Bukan karena kita jenius. Karena pengulangan itu terjadi di momen nyata.
Satu minggu berlalu. Kita mulai bisa menjawab sapaan. Dua minggu, kita berani bertanya meski dengan tata bahasa yang berantakan. Sebulan, kita menyadari sesuatu yang aneh. Kita sedang berpikir dalam bahasa Arab dan tidak tahu kapan itu dimulai.
Kapan percakapan bahasa Arab berubah dari beban menjadi kebiasaan?
Tidak ada satu momen dramatis. Yang ada adalah akumulasi kecil yang menumpuk tanpa kita hitung.
Suatu sore, saat bermain bola, kita berteriak haat al-kurah tanpa berpikir. Kalimat itu keluar begitu saja. Seperti refleks.
Atau saat piket menyapu halaman. Teman di sebelah bertanya dalam bahasa Arab, dan kita menjawab sambil terus menyapu. Tidak berhenti. Tidak menerjemahkan dulu di kepala. Mengalir saja.
Ada satu percakapan yang mungkin tidak akan pernah kita lupakan. Percakapan pertama di mana kita benar-benar memahami setiap kata yang diucapkan lawan bicara, dan merespons tanpa jeda. Entah itu hanya bertanya soal jadwal makan. Tapi di dada, ada sesuatu yang bergetar.
Kita bisa.
Apa yang sebenarnya kita dapatkan selain kemampuan berbahasa?
Bahasa Arab memberi kita sesuatu yang lebih besar dari kosakata. Bahasa Arab memberi kita keberanian untuk tampak tidak sempurna di depan orang lain.
Setiap kali kita salah mengucapkan kata dan ditertawakan, kita belajar bahwa malu itu tidak mematikan. Setiap kali kita nekat bicara dengan kalimat yang separuh benar, kita membangun otot mental yang tidak bisa dilatih di tempat lain.
Di Darunnajah 2 Cipining, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah cara kita membuktikan pada diri sendiri bahwa batas kemampuan kita selalu lebih jauh dari yang kita kira.
Santri yang dulu diam di antrian wudhu kini bisa berpidato di depan ratusan orang. Dalam bahasa Arab. Perjalanan dari diam ke lantang itu tidak terjadi dalam semalam. Tapi terjadi. Dan itu yang penting.
Bahasa Arab bukan bakat. Bahasa Arab adalah kebiasaan. Dan kebiasaan dimulai dari satu hari pertama yang terasa mustahil.
Hubungi WhatsApp 0812111180. Satu pesan singkat bisa jadi awal dari percakapan yang mengubah segalanya.