Setiap pagi setelah sholat Subuh, sebelum kelas dimulai, ada satu kegiatan yang menjadi rutinitas wajib di pesantren. Santri berdiri berpasangan di halaman asrama, berhadap-hadapan, dan mulai bercakap-cakap dalam Bahasa Arab. Kegiatan ini disebut muhadatsah — latihan percakapan yang berlangsung sekitar lima belas sampai dua puluh menit, tapi dampaknya bertahan jauh lebih lama dari itu.
Bagi santri baru, muhadatsah pertama adalah momen yang tidak akan pernah dilupakan.
Berdiri di hadapan teman yang sama-sama belum bisa apa-apa. Mencoba menyusun kalimat dari kosakata yang baru dihafal semalam. Mulut bergerak tapi yang keluar bukan kalimat utuh — melainkan potongan kata yang dicampur dengan Bahasa Indonesia, bahasa isyarat, dan ekspresi wajah yang berlebihan. Salah ucap terjadi di setiap kalimat. Tawa pecah di setiap sudut halaman.
Tidak ada yang malu. Karena semua orang sedang berjuang di titik yang sama.
Muhadatsah dirancang bukan untuk menghasilkan percakapan yang sempurna. Tujuannya lebih mendasar dari itu — membiasakan mulut dan otak bekerja dalam bahasa asing tanpa harus berpikir terlalu lama. Di kelas, santri belajar tata bahasa dan struktur kalimat secara formal. Di muhadatsah, semua teori itu harus langsung dipraktikkan di lapangan, dengan segala ketidaksempurnaannya.
Bagaimana proses muhadatsah berubah dari minggu ke minggu?
Minggu pertama, percakapan hanya berkisar soal perkenalan. Nama, asal daerah, kelas berapa. Kalimatnya pendek dan terputus-putus. Minggu kedua, topiknya mulai meluas — tentang makanan, tentang pelajaran, tentang cuaca. Kosakata yang dipakai masih terbatas, tapi keberanian untuk bicara sudah mulai tumbuh. Sebulan kemudian, percakapan sudah bisa mengalir lebih natural. Masih banyak kesalahan, tapi jeda antar kata sudah semakin pendek.
Kakak kelas yang mendampingi muhadatsah biasanya berkeliling mendengarkan percakapan adik kelasnya. Koreksi diberikan dengan cara yang ringan — bukan menghakimi tapi menunjukkan cara yang benar sambil tersenyum. Kadang kakak kelas sengaja memulai percakapan lucu untuk mencairkan suasana bagi adik kelas yang masih terlihat tegang.
Momen lucu yang selalu terjadi setiap pagi.
Santri yang salah menggunakan kata dan tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang artinya sama sekali berbeda dari yang dimaksud. Teman di depannya tertawa, menjelaskan artinya yang benar, dan keduanya tertawa lebih keras. Kesalahan itu justru menjadi cara paling efektif untuk mengingat kosakata — karena kata yang pernah membuat kita tertawa hampir tidak mungkin dilupakan.
Ada juga momen ketika santri mencoba menggunakan kosakata baru yang baru saja dihafal dan berhasil menyusun kalimat yang benar untuk pertama kalinya. Wajahnya berubah. Mata sedikit melebar. Ada senyum kecil yang muncul — bukan senyum pamer, tapi senyum seseorang yang baru saja menyadari bahwa dia mampu melakukan sesuatu yang kemarin masih terasa mustahil.
Dampak muhadatsah yang baru terasa setelah bertahun-tahun.
Alumni pesantren sering bercerita bahwa keberanian mereka berbicara dalam bahasa asing — di wawancara kerja, di kampus luar negeri, atau di pertemuan internasional — berakar dari muhadatsah pagi di halaman asrama. Bukan karena muhadatsah menghasilkan kemampuan bicara yang sempurna. Tapi karena muhadatsah mengajarkan satu hal yang lebih fundamental — bahwa tidak apa-apa untuk salah, selama kita tetap mencoba.
Keberanian bicara itu tidak bisa diajarkan lewat buku teks. Harus dipraktikkan langsung, berulang kali, sampai rasa takut salah perlahan menghilang dan digantikan oleh kebiasaan.
Di Darunnajah 2 Cipining, muhadatsah sudah menjadi tradisi pagi yang berjalan selama puluhan tahun. banyak santri melewati proses yang sama — dari percakapan pertama yang berantakan sampai akhirnya mampu berdiskusi dalam Bahasa Arab dengan lancar.
Kadang kemampuan yang paling berharga dimulai dari momen yang paling kacau — dan muhadatsah pagi di pesantren adalah buktinya.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang program bahasa dan kehidupan santri, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.