Kebiasaan Mencampur Bahasa Arab dalam Percakapan Sehari-Hari Tanpa Sadar

Alumni pesantren punya satu kebiasaan yang sering muncul tanpa disadari — mencampur kata-kata Bahasa Arab ke dalam percakapan Bahasa Indonesia sehari-hari. Bukan Arab formal yang kaku. Tapi kata-kata yang sudah menjadi bagian dari kosakata harian selama bertahun-tahun dan keluar secara refleks di momen-momen tertentu. Mumtaz saat sesuatu terasa bagus. Syukron saat berterima kasih. Afwan saat minta maaf. Isytaqqo saat rindu. Kata-kata itu meluncur dari mulut tanpa berpikir — dan baru terasa aneh saat lawan bicara memberikan tatapan bingung.

Kebiasaan mencampur bahasa ini terbentuk dari lingkungan pesantren yang mewajibkan penggunaan Bahasa Arab secara bergantian setiap pekan. Selama bertahun-tahun, otak santri memproses dua bahasa secara bersamaan — Bahasa Indonesia sebagai bahasa alami dan Bahasa Arab sebagai bahasa yang harus digunakan di waktu tertentu. Lama-kelamaan, batas antara dua bahasa itu menjadi kabur. Kata-kata Arab yang sering dipakai tidak lagi terasa sebagai bahasa asing — sudah menjadi bagian dari cara berpikir dan berbicara sehari-hari.

Kita yang pernah mondok tahu bahwa ada kata-kata Arab tertentu yang memang tidak punya padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia — atau padanan yang tersedia terasa kurang pas dibandingkan kata Arabnya. Istiqomah lebih dalam dari sekadar konsisten. Tawadhu lebih lembut dari sekadar rendah hati. Ukhuwah lebih hangat dari sekadar persaudaraan. Setiap kata Arab itu membawa nuansa makna yang terbentuk dari konteks kehidupan pesantren — dan nuansa itu hilang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Momen paling lucu tentang kebiasaan ini biasanya terjadi di lingkungan yang sama sekali tidak terkait pesantren. Di kantor, saat alumni tanpa sadar mengucapkan jazakallah kepada rekan kerja non-Muslim yang baru saja membantu. Di minimarket, saat bilang syukron ke kasir yang jelas-jelas tidak mengerti. Di rumah, saat pasangan yang tidak pernah mondok bertanya — kamu bicara apa barusan? Momen-momen itu selalu menjadi bahan tawa — tapi juga menjadi pengingat betapa dalamnya bahasa Arab sudah meresap ke dalam cara kita berkomunikasi.

Kebiasaan mencampur bahasa ini juga menjadi penanda identitas yang sangat kuat di kalangan sesama alumni. Dua alumni pesantren yang bertemu untuk pertama kali dan langsung menyelipkan kata-kata Arab dalam percakapan mereka mengalami momen pengenalan instan — seperti kode rahasia yang hanya dipahami oleh orang-orang dari komunitas yang sama. Kata-kata itu menjadi jembatan yang langsung mempersingkat proses berkenalan dari orang asing menjadi saudara.

Dari perspektif linguistik, kebiasaan ini sebenarnya menunjukkan sesuatu yang positif tentang kemampuan berbahasa alumni pesantren. Code-switching — kemampuan berpindah antar bahasa secara lancar dalam satu percakapan — adalah tanda dari otak yang terbiasa mengoperasikan lebih dari satu sistem bahasa secara bersamaan. Kemampuan itu sangat dihargai di lingkungan profesional yang multibahasa.

Di Darunnajah 2 Cipining, program bilingual yang mewajibkan penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris secara bergantian setiap pekan membentuk kemampuan berbahasa yang terinternalisasi sangat dalam. Ribuan alumni membawa kemampuan itu ke kehidupan sehari-hari — kadang dalam bentuk percakapan formal yang lancar, kadang dalam bentuk kata-kata yang terselip tanpa sadar di obrolan santai.

Bahasa yang sudah menjadi bagian dari diri memang tidak bisa dimatikan. Kata-kata Arab yang terselip di percakapan sehari-hari alumni pesantren bukan kebiasaan yang perlu dihilangkan — itu adalah bukti bahwa bertahun-tahun belajar bahasa asing tidak sia-sia. Buktinya hidup di setiap kata yang keluar tanpa perlu dipikirkan.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang program bahasa di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.