Mufrodat Baru Setiap Hari dan Kosakata yang Tanpa Sadar Sudah Ribuan Jumlahnya

Lima kata. Setiap pagi, hanya lima kata baru yang diumumkan di depan seluruh santri sebelum kegiatan dimulai. Lima kata dalam Bahasa Arab. Lima kata dalam Bahasa Inggris. Jumlah itu terdengar kecil — hampir tidak terasa. Tapi di situlah letak kekuatannya.

Mufrodat harian adalah salah satu tradisi paling sederhana di pesantren, tapi dampaknya paling besar.

Cara kerjanya tidak rumit. Setiap pagi, pengurus bahasa membacakan kata-kata baru beserta artinya di hadapan seluruh santri. Kata-kata itu biasanya dipilih berdasarkan tema tertentu — pekan ini tentang makanan, pekan depan tentang cuaca, pekan setelahnya tentang perasaan. Santri mendengarkan, mengulangi pengucapannya bersama-sama, lalu mencatatnya di buku kecil masing-masing.

Prosesnya tidak lebih dari lima menit. Setelah itu, kehidupan pesantren berjalan seperti biasa.

Tapi kata-kata itu tidak berhenti di situ. Di pesantren, ada aturan bahasa yang mewajibkan santri menggunakan Bahasa Arab atau Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Kosakata yang baru saja dihafal langsung dibutuhkan — untuk memesan makanan di kantin, untuk bertanya kepada teman, untuk menyampaikan sesuatu kepada kakak kelas. Tidak ada waktu untuk membiarkan hafalan itu menjadi pengetahuan pasif. Harus langsung dipakai.

Apa yang terjadi ketika proses kecil ini berlangsung setiap hari selama bertahun-tahun?

Hitungannya sederhana tapi hasilnya mengejutkan. Lima kata per hari berarti sekitar seratus lima puluh kata per bulan. Dalam satu tahun, jumlahnya hampir dua ribu kata. Dalam enam tahun masa mondok, santri yang konsisten mencatat dan menggunakan mufrodat hariannya bisa menguasai lebih dari sepuluh ribu kata dalam dua bahasa asing. Angka itu setara dengan kemampuan bahasa tingkat menengah atas di standar internasional.

Santri sendiri biasanya tidak menyadari berapa banyak yang sudah mereka kuasai. Penumpukan kosakata terjadi begitu pelan sehingga tidak terasa. Baru ketika mereka membaca teks Bahasa Arab yang cukup panjang dan menyadari bahwa mereka bisa memahami sebagian besar isinya tanpa membuka kamus, kesadaran itu datang. Momen itu selalu mengejutkan.

Bukan cuma soal menghafal kata. Tapi soal memahami bagaimana bahasa bekerja.

Santri yang sudah terbiasa dengan mufrodat harian mulai mengenali pola dalam bahasa Arab — akar kata yang sama bisa membentuk puluhan kata berbeda hanya dengan mengubah bentuknya. Pemahaman ini tidak diajarkan secara teori di kelas mufrodat. Tapi otak yang sudah terpapar ribuan kata secara natural mulai melihat pola-pola itu dengan sendirinya. Proses yang oleh ahli bahasa disebut sebagai akuisisi bahasa alami — dan pesantren sudah mempraktikkannya jauh sebelum istilah itu populer di dunia akademik.

Tradisi mufrodat juga menciptakan budaya belajar yang unik di kalangan santri.

Buku mufrodat menjadi benda paling pribadi di asrama. Setiap santri punya caranya sendiri untuk mencatat — ada yang rapi dengan warna berbeda untuk kata benda dan kata kerja, ada yang acak tapi padat, ada yang menambahkan gambar kecil di sebelah kata untuk membantu mengingat. Buku itu sering dibawa ke mana-mana — ke kantin, ke masjid, bahkan ke kamar mandi. Momen-momen jeda digunakan untuk membuka halaman dan mengulangi kata yang belum dikuasai.

Kebiasaan kecil itu membentuk disiplin belajar yang bertahan jauh melampaui masa mondok.

Di Darunnajah 2 Cipining, tradisi mufrodat harian sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program bahasa selama puluhan tahun. Ribuan alumni membawa kemampuan bahasa yang dibangun dari lima kata per hari itu ke kampus, ke dunia kerja, dan ke berbagai negara di dunia.

Lima kata per hari terdengar kecil. Tapi konsistensi punya kekuatan yang sering kita remehkan — dan hasilnya baru terlihat ketika kita berhenti menghitung dan mulai menggunakannya.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang program bahasa dan pendidikan di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.