Di pesantren, ada kebiasaan kecil yang mungkin terlihat aneh bagi orang luar tapi sangat masuk akal bagi siapa pun yang pernah berjuang menghafal kosakata bahasa asing. Setiap pagi, setelah pengumuman mufrodat baru — biasanya lima sampai sepuluh kata dalam Bahasa Arab atau Bahasa Inggris — santri mencatat kata-kata itu di secarik kertas kecil lalu melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku.
Kertas itu menemani mereka sepanjang hari.
Saat antri di kantin, kertas itu dikeluarkan. Saat menunggu giliran masuk kelas, kertas itu dibaca ulang. Saat berjalan dari asrama ke masjid, mulut bergerak pelan mengulangi kata-kata yang masih asing di lidah. Proses itu terjadi tanpa ada guru yang mengawasi. Santri menghafal bukan karena akan diuji hari itu, tapi karena mereka tahu bahwa kosakata yang tidak diulang akan hilang sebelum sore tiba.
Bagaimana tradisi sederhana ini bisa membentuk kemampuan bahasa yang nyata?
Lima kata per hari terdengar sedikit. Tapi dalam sebulan, jumlahnya sudah seratus lima puluh. Dalam satu semester, hampir seribu kata baru sudah melewati saku dan otak mereka. Dalam enam tahun mondok, jumlah kosakata yang dikuasai santri bisa mencapai angka yang membuat banyak orang terkejut. Proses penumpukannya begitu pelan sehingga santri sendiri kadang tidak menyadari berapa banyak yang sudah mereka kuasai.
Kuncinya ada pada pengulangan dan penggunaan langsung.
Mufrodat yang dihafal pagi hari tidak dibiarkan menjadi hafalan pasif. Pesantren memiliki sistem yang memaksa santri menggunakan kosakata baru dalam percakapan sehari-hari. Ketika pekan berbahasa Arab tiba, kata-kata yang baru saja dihafal harus langsung dipakai — di kantin, di lapangan, di lorong asrama. Santri yang belum bisa merangkai kalimat dari kosakata baru biasanya mencampur dengan bahasa isyarat sambil tertawa. Proses yang berantakan itu justru membuat kata-kata itu lebih cepat melekat di memori.
Kakak kelas sering punya cara kreatif untuk membantu adik kelas mengingat mufrodat yang sulit. Ada yang membuat lagu pendek dari kumpulan kata. Ada yang menempelkan kertas berisi kosakata di dinding kamar mandi. Ada yang mengubah mufrodat menjadi teka-teki yang dipecahkan bersama sebelum tidur. Kreativitas itu lahir dari kebutuhan, bukan dari instruksi.
Momen yang paling membanggakan biasanya datang tanpa diduga.
Santri yang enam bulan lalu masih bingung membedakan kata dasar dalam Bahasa Arab tiba-tiba bisa memahami kalimat panjang yang diucapkan ustadz dalam ceramah. Bukan karena ceramahnya menjadi lebih mudah. Tapi karena kosakatanya sudah cukup banyak untuk menangkap makna secara keseluruhan. Momen itu sering terjadi secara tiba-tiba — seperti kabut yang perlahan terangkat dan tiba-tiba semua terlihat jelas.
Tidak perlu satu pun tes formal untuk membuktikannya. Santri itu sendiri yang merasakan perubahannya.
Di Darunnajah 2 Cipining, tradisi mufrodat harian sudah berjalan selama puluhan tahun. banyak santri melewati proses yang sama — dari kertas kecil di saku yang kusut karena terlalu sering dibuka, sampai akhirnya mampu berpidato dalam bahasa asing di depan seluruh asrama.
Kemampuan besar memang selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari tanpa kita sadari sedang menuju ke suatu tempat.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang program pendidikan dan bahasa di pesantren, bisa langsung berkunjung atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.