Perlombaan Perkhutsy : Saat Alam Menjadi Guru Terbaik Santriwati Perlombaan Perkhutsy : Saat Alam Menjadi Guru Terbaik Santriwati

Perlombaan Perkhutsy : Saat Alam Menjadi Guru Terbaik Santriwati

Bumi Perkemahan Iskandariyah dipenuhi tenda dome selama tiga hari, 26 hingga 28. Seluruh santriwati kelas 1 sampai kelas 6 berkumpul di sana mengikuti Perkemahan Khutbatul Arsy, atau yang akrab disebut Perkhutsy. Kegiatan ini digerakkan oleh Bagian Pengasuhan dengan format perlombaan kepramukaan. Tujuannya mendasar: membantu santriwati mengasah potensi yang mereka miliki di bidang kepramukaan.

Perkhutsy melibatkan santriwati lintas jenjang dalam satu lapangan yang sama. Rentang kelas 1 hingga kelas 6 membuat perkemahan ini menjadi ruang belajar bersama antara santriwati senior dan junior. Bagian Pengasuhan Pesantren Darunnajah 2 Cipining merancangnya sebagai latihan langsung, bukan teori di dalam kelas. Di lapangan, kemampuan kepramukaan diuji oleh situasi nyata.

Tenda dome menjadi penanda yang paling terlihat dari perkemahan tahun ini. Mendirikan tenda sendiri adalah pelajaran pertama sebelum lomba dimulai. Santriwati harus membaca kondisi tanah, membagi tugas dalam regu, dan menyelesaikan pekerjaan sebelum malam tiba. Dari pekerjaan sederhana itu, kemandirian mulai terbentuk tanpa perlu banyak instruksi.

Rangkaian perlombaan menjadi inti dari Perkhutsy. Setiap regu berhadapan dengan tantangan yang menuntut kekompakan, ketelitian, dan ketahanan fisik. Kemenangan memang dicatat, tetapi proses latihan yang mendahuluinya jauh lebih panjang. Di titik inilah santriwati belajar bahwa hasil selalu berdiri di atas persiapan.

Perlombaan Perkhutsy : Saat Alam Menjadi Guru Terbaik Santriwati

Respons peserta tercatat penuh semangat sejak hari pertama. Pihak Pesantren mencatat antusiasme santriwati untuk mencoba hal baru sebagai temuan yang paling menonjol dari kegiatan ini. Keberanian mencoba adalah modal yang sulit diajarkan lewat ceramah. Ia tumbuh ketika santriwati ditempatkan pada situasi yang menuntut mereka mengambil keputusan sendiri.

Kepramukaan di lingkungan pesantren memiliki akar nilai yang dalam. Islam mengajarkan kemandirian, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari akhlak seorang muslim. Regu yang bekerja bersama mendirikan tenda sedang mempraktikkan ta’awun, semangat tolong-menolong yang diperintahkan dalam Al-Qur’an. Alam terbuka menjadi ruang belajar yang mengajarkan bahwa manusia kecil di hadapan ciptaan Allah, namun besar ketika bekerja bersama.

Tiga hari di Iskandariyah juga melatih hal yang jarang tersentuh rutinitas harian. Santriwati belajar mengatur waktu tanpa jadwal kelas, menjaga barang bawaan, dan menyelesaikan konflik kecil di dalam regu. Kemampuan seperti ini terbawa jauh setelah tenda dibongkar dan peserta kembali ke asrama. Nilainya baru terasa bertahun-tahun kemudian, saat mereka menghadapi persoalan yang lebih besar.

Perlombaan Perkhutsy : Saat Alam Menjadi Guru Terbaik Santriwati

Sebagai tindak lanjut, Pesantren menargetkan peningkatan skill kepramukaan santriwati secara berkelanjutan. Perkhutsy diposisikan sebagai titik ukur, bukan garis akhir. Latihan rutin dan pembinaan regu menjadi pekerjaan yang menunggu setelah perkemahan usai. Semangat yang muncul di Iskandariyah perlu dirawat agar tidak berhenti sebagai kenangan tiga hari.

Bagi wali santriwati dan masyarakat, kegiatan seperti ini layak mendapat dukungan nyata. Tanyakan pengalaman putri Anda selama Perkhutsy, dan dorong mereka untuk terus aktif dalam latihan kepramukaan mingguan. Dukungan dari rumah sering menjadi penentu apakah semangat itu bertahan atau padam. Perkemahan telah selesai, namun proses pembentukan karakter santriwati masih terus berjalan.