Upacara Pembukaan PERKHUTSY, Awal Santri Menempa Diri di Alam Upacara Pembukaan PERKHUTSY, Awal Santri Menempa Diri di Alam

Upacara Pembukaan PERKHUTSY, Awal Santri Menempa Diri di Alam

Upacara Pembukaan PERKHUTSY, Awal Santri Menempa Diri di Alam

Pagi itu barisan santri berdiri rapat di Lapangan Utama. Rabu, 26 Agustus 2026, Perkemahan Khutbatul ‘Arsy ke-39 resmi dibuka. Seluruh santri kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti prosesi yang digelar Bidang Pengasuhan itu dengan seragam pramuka lengkap. Aba-aba bergema, panji regu berkibar, dan wajah-wajah muda menatap satu arah. Upacara berjalan khidmat dari awal hingga akhir.

PERKHUTSY merupakan bagian dari rangkaian Khutbatul ‘Arsy, agenda yang menandai fase awal kehidupan santri di tahun ajaran baru. Upacara pembukaan menjadi pintu masuknya. Di titik inilah santri diperkenalkan pada ritme baru: hidup bersama, bergerak bersama, dan belajar dari alam terbuka.

Kegiatan ini diarahkan untuk membantu santri menemukan hobi sekaligus mengasah keterampilan yang mereka miliki di bidang kepramukaan. Kepramukaan dipilih karena menyentuh banyak sisi sekaligus: ketangkasan fisik, ketelitian, kerja tim, dan keberanian mengambil keputusan. Semua itu sulit diajarkan lewat papan tulis semata.

Berikut catatan ringkas pelaksanaannya:

  • Nama kegiatan: Perkemahan Khutbatul ‘Arsy (PERKHUTSY) ke-39
  • Waktu: Rabu, 26 Agustus 2026
  • Tempat: Lapangan Utama, Kampus 1
  • Peserta: seluruh santri kelas 1–6
  • Penyelenggara: Bidang Pengasuhan

Dalam amanatnya, pembina upacara membuka dengan serangkaian pertanyaan yang menggugah barisan. Mengapa santri harus berdiri di bawah terik mentari? Mengapa harus meninggalkan kenyamanan asrama untuk hidup beralaskan bumi perkemahan? Mengapa tradisi ini dijaga hingga penyelenggaraan ke-39?

Jawabannya, menurut pembina, terletak pada kebutuhan zaman. Umat dan bangsa menantikan generasi berakhlak karimah yang tangguh memimpin dan tahan menghadapi perubahan. Perkemahan dirancang sebagai kawah candradimuka, tempat teori adab, fikih, dan ukhuwah yang dipelajari di kelas diuji langsung di medan terbuka.

Pembina menekankan internalisasi Panca Jiwa Pondok selama perkemahan berlangsung: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah, dan kebebasan terpimpin. Di samping itu ditanamkan falsafah siap memimpin dan siap dipimpin. Pratama dan ambalan dilatih menjadi nakhoda yang adil, sementara anggota regu dididik menjadi pribadi yang loyal dan cepat bergerak.

Empat wasiat kemudian disampaikan kepada santri sebagai bekal menjalani hari-hari penempaan:

  • Memandang lelah sebagai tarbiyah yang mematangkan mental
  • Menghilangkan ego dan merawat kekuatan ukhuwah dalam regu
  • Menjaga sportivitas dan akhlak karimah dalam setiap perlombaan
  • Menjadikan ibadah sebagai mahkota tertinggi di tengah padatnya jadwal

“Emas murni yang berkilau tidak akan pernah ada tanpa proses pembakaran dalam api yang membara,” ujar pembina upacara. Ia mengingatkan bahwa keletihan hari ini adalah cara Allah mematangkan mental santri agar tidak mudah patah arang menghadapi kerasnya kehidupan di masa depan.

Pada bagian ukhuwah, pesan yang disampaikan terasa tegas. “Di bumi perkemahan ini, tidak ada yang namanya pahlawan individu,” tegasnya. Kehebatan sebuah regu diukur dari seberapa tanggap tangan saling merangkul ketika ada kawan satu barisan yang mulai letih dan tertinggal.

Amanat juga menyinggung jejak panjang para pimpinan dalam dunia kepanduan. Beberapa penghargaan yang disampaikan dalam upacara antara lain:

  • KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. menerima Lencana Darma Bakti dari Kwartir Nasional
  • Associate Prof. Dr. KH. Sofwan Manaf, M.Si. menerima anugerah Lencana Melati dari Presiden Republik Indonesia ke-7
  • KH. Drs. Mahrus Amin menerima anugerah Lencana Melati dan Dharma Bakti dari Presiden Republik Indonesia ke-6 sebagai Tokoh Kepanduan Pramuka Asia-Pasifik

Pembina turut berpesan agar Mahfudzat Kasyaf dihafalkan dan dijadikan pedoman oleh seluruh Anak Didik Pramuka (Andika). Bait-baitnya menegaskan identitas seorang pandu muda: ia bertugas menolong, bersungguh-sungguh melayani sesama, dan memandang pengabdian kepada tanah air sebagai bagian dari kewajiban kemanusiaan.

مَحْفُوظَاتُ الْكَشَّافِ

أَنَا الْفَتَى الْكَشَّافُ # مِنْ وَاجِبِي الْإِسْعَافُ

أَسْعَى بِكُلِّ جُهْدِي # لِخِدْمَةِ الْعِبَادِ

أَخْدُمُ كُلَّ أَهْلٍ # بِلَا انْتِظَارِ مَهَلٍ

فَخِدْمَةُ الْأَوْطَانِ # مِنْ وَاجِبِ الْإِنْسَانِ

Bagi Pesantren Darunnajah 2 Cipining, kepramukaan telah lama menjadi ruang pembentukan karakter. Di lapangan dan di bawah tenda, santri belajar hal-hal yang tidak selalu tercatat dalam nilai rapor: kesabaran menunggu giliran, keberanian memimpin regu, dan kerelaan berbagi bekal dengan teman satu kelompok.

Di sinilah letak makna yang lebih dalam. Islam mengajarkan bahwa manusia dibentuk melalui proses, bukan melalui pengakuan sesaat. Rasulullah menempa para sahabat lewat perjalanan panjang. Perkemahan meniru pola itu dalam skala kecil: santri diuji, lelah, lalu tumbuh.

Antusiasme peserta terlihat sejak barisan pertama terbentuk. Santri mengikuti seluruh rangkaian dengan baik dan tertib. Kemampuan bekerja sama, membaca situasi, dan bertahan dalam ketidaknyamanan adalah soft skill yang tetap relevan di ruang mana pun kelak.

Upacara telah usai, namun perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Santri diharapkan menjalani setiap tahapan dengan disiplin, menjaga kekompakan regu, dan menghafalkan Mahfudzat Kasyaf sebagai pegangan. Wali santri pun diharapkan menguatkan dari kejauhan lewat doa dan dukungan. Sebab yang dibawa pulang dari sebuah perkemahan adalah versi diri yang lebih tangguh.