
Sorak-sorai bersahutan dari tepi danau pada Kamis, 26 Agustus 2026. Seluruh santri, dari kelas 1 hingga kelas 6, turun ke arena Perlombaan Perkemahan Khutbatul Arsy atau PERKUTSY. Mereka berlomba di sekitar danau dan bumi perkemahan, ditemani para guru dan wali santri yang ikut menyaksikan. Satu pesan besar dibawa hari itu: arena kepramukaan terbuka bagi siapa saja, bukan milik segelintir kelompok terlatih.
PERKUTSY menghadirkan rangkaian lomba yang menguji ketangkasan, ketelitian, sekaligus kekompakan regu. Sebagian besar mata lomba justru belum pernah dijajal oleh peserta sebelumnya. Di sinilah letak tantangan sekaligus daya tariknya. Beberapa mata lomba yang dipertandingkan antara lain:
- Semaphore — komunikasi isyarat menggunakan bendera
- Step up — ketangkasan dan kekompakan gerak
- Baris-berbaris — kedisiplinan dan keserasian barisan
- Sandi-sandi — pemecahan kode kepramukaan
Selama ini, lomba semacam itu identik dengan pasukan khusus DUT yang memang terlatih secara berkala. Tahun ini pintunya dibuka lebar. Santri dari seluruh jenjang diberi ruang yang sama untuk mencoba, gagal, lalu memperbaiki diri. Keputusan itu mengubah suasana perkemahan menjadi jauh lebih hidup.


Kegiatan ini digelar sebagai wujud penerapan nilai kepramukaan yang berbunyi scout is a jolly game — kepramukaan sebagai permainan yang menggembirakan. Prinsip tersebut sejalan dengan tradisi pendidikan Islam yang menempatkan kegembiraan sebagai pintu masuk ilmu. Rasa senang membuat pelajaran melekat lebih lama daripada paksaan. Di lapangan, prinsip itu terlihat nyata pada wajah-wajah yang tertawa meski kalah.
Upacara pembukaan dipimpin oleh Al Ustadz Muhammad Abdul Hakim Firanda selaku pembina upacara. Kehadirannya menandai dimulainya rangkaian perlombaan yang berlangsung sepanjang hari. Panitia menilai jalannya acara berlangsung lancar dan terkondisi. Antusiasme peserta menjadi catatan paling menonjol dari penyelenggaraan tahun ini.
Persiapan PERKUTSY sendiri menyimpan pekerjaan rumah yang tidak ringan. Tantangan terbesar terletak pada penyusunan jadwal perlombaan. Panitia harus menata alur agar satu mata lomba tidak berbenturan dengan mata lomba lain, sementara jumlah peserta mencakup seluruh santri. Ketelitian menyusun rundown menjadi kunci agar peserta bisa berpindah arena tanpa kehilangan giliran.
Hasil kerja itu terbayar. Dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya, perlombaan tahun ini dinilai lebih menarik dan mampu menarik keterlibatan yang lebih luas. Seluruh unsur yang hadir, mulai dari santri, guru, hingga wali santri, tercatat aktif mengikuti rangkaian acara. Suasana kompetisi tetap terjaga tanpa kehilangan nuansa kebersamaan.
Di balik peluit dan bendera semaphore, tersimpan pelajaran yang lebih dalam. Kepramukaan mengajarkan bahwa kemampuan bukan warisan, melainkan hasil latihan dan keberanian mencoba. Islam pun memandang proses ikhtiar sebagai nilai tersendiri, terlepas dari hasil akhirnya. Santri yang berani maju ke arena baru sesungguhnya sedang belajar mengalahkan keraguan pada dirinya sendiri.


Pelajaran itulah yang akan dirawat sesudah tenda dibongkar. Rencana tindak lanjut yang disiapkan Pesantren Darunnajah 2 Cipining adalah menanamkan kesadaran bahwa santri umum memiliki peluang yang setara dengan pasukan khusus dalam kompetisi kepramukaan. Pesantren berharap keberanian yang tumbuh di lapangan hari itu berlanjut menjadi kebiasaan berlatih. Semangat berlomba diharapkan tetap menyala hingga agenda berikutnya.
Bagi santri, momentum ini layak dijadikan titik awal. Manfaatkan latihan rutin regu, kuasai satu keterampilan kepramukaan yang belum dikuasai, dan siapkan diri untuk PERKUTSY tahun depan. Bagi wali santri dan alumni, dukungan berupa kehadiran dan pembinaan akan sangat berarti bagi keberlanjutan kegiatan ini. Sebab kemenangan sejati dalam perkemahan bukan piala yang dibawa pulang, melainkan keberanian yang dibawa kembali ke asrama.
