Perjuangan Mendirikan Pesantren Darunnajah
Menu

Perjuangan Mendirikan Pesantren Darunnajah

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Dalam buku Serba-serbi Penyerahan Piagam Wakaf Tanah dan Pesantren Darunnajah, ada tiga tokoh yang mendapat keistimewaan dan disebut pendiri pondok pesantren ini. Meski sebetulnya melibatkan banyak orang, tetapi tiga tokoh tersebut memiliki peran dominan mewujudkan ide pendirian pesantren menjadi lembaga pendidikan berpengaruh seperti saat ini. Ketiganya adalah K.H. Abdul Manaf, Drs. H. Kamaruzzaman dan K.H. Drs. Mahrus Amin.

K.H. Abdul Manaf adalah wakif yaitu orang yang telah mewakafkan tanahnya untuk lokasi pembangunan Darunnajah. Ia juga membelanjakan hartanya untuk menggaji guru, membelanjakan uangnya untuk membangun madrasah, dan menutup biaya operasional pada saat awal mula pendirian pesantren ini. K.H. Abdul Manaf juga penggagas ide pendirian lembaga pendidikan yang mengajarkan agama Islam dan mencetak kader-kader ulama.

Drs. H. Kamaruzzaman adalah tokoh penggagas ide pembentukan pondok pesantren modern. Ide-idenya yang maju sesuai dengan gelar kesarjanaannya saat itu, memberi andil utama dalam menentukan arah dan bentuk Darunnajah.

Sedangkan K.H. Drs. Mahrus Amin, adalah tokoh yang bisa menerjemahkan visi K.H. Abdul Manaf dan K.H. Kamaruzzaman.

Mahrus adalah alumni KMI Gontor. Di usianya yang masih sangat muda (bergabung dengan YKMI pada umur 21 tahun) ia sudah berhasil mendapatkan kepercayaan penuh memimpin madrasah Darunnajah di Petukangan pada 1961, ia menunjukkan kapasitas dan kelebihan memimpin lembaga pendidikan. Beliau juga yang menjadi motor penggerak utama mengembalikan ide pendirian pesantren ke Ulujami.

Mahrus Amin mulai tinggal di Jakarta sejak 2 Februari 1961. Ia tinggal di kantor PB Makmur bersama Hasyim Munib. K.H. Abdul Manaf lantas menawarkan Mahrus untuk mengelola madrasah. K.H. Abdul Manaf pun menunjukkan lokasi tanah kepada Mahrus Amin. Hubungan ini pun terus meningkat dan makin erat di kemudian hari.

Keras Mahrus dan latar belakang Gontor yang dibawanya memikat hati K.H. Abdul Manaf . Sikap itu adalah bentuk penghargaan K.H. Abdul Manaf terhadap Gontor dan para alumninya. Sikap itu juga diwujudkan dengan mengirim semua anak lelakinya ke Gontor.

Hubungan K.H. Abdul Manaf dengan Mahrus Amin yang semula antara dua kolega dalam kepengurusan YKMI (Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia), kelak makin dekat dan berubah menjadi hubungan kekerabatan. Mahrus dinikahkan dengan putri tertua K.H. Abdul Manaf bernama Suniyati. Resepsi pernikahan ini terjadi tepat saat peristiwa G30S/PKI meletus.

Pada tahun 1975, saat pesantren mulai berjalan K.H. Abdul Manaf masih menunggu kiai yang akan memimpin pesantren Darunnajah. Saat itu pesantren yang masih sangat muda usianya, hanya memiliki santri 9 orang—jumlah yang sangat sedikit di banding lembaga sejenis saat itu. Sedikit banyak hal ini membuat banyak pihak pesimis terhadap kelangsungan pesantren.

Mahrus Amin sendiri mengakui, setelah berjalan 3 tahun dan santri yang dimiliki Darunnajah amat sedikit, sebagian besar temannya menyarankan untuk membubarkan pondok pesantren. Mereka menganggap usaha pendirian pondok adalah percuma. Dalam bercita-cita berpijaklah pada kenyataan, demikian kata teman-teman Mahrus saat itu.

Ketika itu, Mahrus Amin masih kuliah di IAIN Jakarta dan menjadi asisten dosen. Mahrus dipanggil oleh K.H. Abdul Manaf dan diminta untuk terjun total ke Darunnajah. Sebagai bukti keseriusannya, pada tahun itu juga K.H. Abdul Manaf mulai menetap di Ulujami dan bersama-sama Mahrus Amin membina pondok pesantren Darunnajah.

Mahrus dalam bukunya Dakwah Melalui Pondok Pesantren, menjelaskan bahwa dirinya memang berinisiatif untuk mengembalikan rencana pembangunan pondok pesantren ke Ulujami. Sebagai wakif sekaligus ketua YKMI, K.H. Abdul Manaf memberi restu bagi Mahrus Amin untuk bertindak. Mahrus sendiri menyadari usahanya tak akan berhasil tanpa dukungan K.H. Abdul Manaf .

Mahrus menunjukkan kesungguhannya mewujudkan rencana pembangunan pesantren dengan menetap di Ulujami sejak tahun 1973. Ia meninggalkan bisnis toko bahan bangunan yang terletak di Kaliraya (sekarang sebelah barat Pasar Cipulir).

Ketiadaan dana pada awal pembangunan pesantren di Ulujami tak menyurutkan langkah K.H. Abdul Manaf maupun Mahrus Amin. Pada tahun itu juga, K.H. Abdul Manaf mendapat pemberian rumah-rumah bekas di Jalan Setiabudi milik Haji Asmuni dari Kemandoran Palmerah yang menghibahkan rumahnya untuk dipakai sebagai modal pesantren. Rumah-rumah lantas dibongkar dan materialnya dipakai untuk membangun asrama di Ulujami.

Sedangkan untuk pembangunan masjid, Mahrus mendatangkan ayahnya Jasim Amin. Karena ketiadaan dana, Jasim Amin harus membuat batu bata sendiri dibantu beberapa pekerja dari Cirebon demi membantu mewujudkan pesantren. Dalam ingatan Abdul Ghofur (salah satu putra K.H. K.H. Abdul Manaf ), kondisi waktu itu memang sangat sulit. Selain ketiadaan dana, daerah Ulujami juga susah dijangkau dengan kendaraan.

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait