Oleh: Assoc. Prof. Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si, Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah – Presiden Universitas Darunnajah.
darunnajah.com – Pada Khutbatul Arsy tahun 1447 H / 2025 M ini, mari kita merenungkan perjalanan panjang Pondok Pesantren Darunnajah, sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah memberikan kontribusi besar bagi umat. Dari rintisan sederhana, Darunnajah kini menjadi lembaga pendidikan Islam terpadu dengan universitas yang diakui. Perjalanan ini adalah bukti keteguhan hati, pengorbanan, dan visi para pendirinya.
Kronologi Sejarah Darunnajah: Tonggak-Tonggak Bersejarah
Era Perintisan dan Fondasi (1938-1961)
- 1938: Darunnajah dimulai oleh K.H. Abdul Manaf, yang memulai perjuangannya dengan niat tulus untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam.
- 1959: Tanah seluas 600 meter yang dibeli K.H. Abdul Manaf dari dana pribadinya dan cincin berlian istri tercinta, Hj. Soraya, harus digusur dalam program Asian Games. Meski begitu, beliau tidak menyerah dan membeli tanah baru di Ulujami Peninggaran.
- 1960: Pembentukan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI) sebagai payung hukum institusi.
- 1961: Nama “Madrasah Islamiah” diubah menjadi Pondok Pesantren Darunnajah melalui musyawarah, dengan kehadiran KH Mahrus Amin sebagai salah satu tokoh penting setelah menyelesaikan studinya di KMI Gontor.
Era Pembentukan dan Pengembangan (1974-1994)
- 1974: Pondok Pesantren Darunnajah resmi didirikan di Ulujami, menandai era baru pendidikan pesantren modern.
- 1980: K.H. Abdul Manaf dan Hj. Soraya mengikrarkan wakaf di KUA Kebayoran Lama, sebuah pengorbanan besar untuk pendidikan Islam.
- 1986: Pembentukan Institut Agama Islam Darunnajah (IAID), sebagai langkah awal ekspansi ke pendidikan tinggi.
- 1988: Berdirinya cabang pertama Darunnajah 2 di Cipining Cigudeg, Bogor, menunjukkan kepercayaan masyarakat yang terus berkembang.
- 1994: Pembentukan Dewan Nazir Darunnajah yang menjadi badan tertinggi pembina yayasan, sebuah tonggak penting dalam tata kelola lembaga.
Era Transisi dan Kehilangan (2001-2021)
- 2001: Kepergian K.H. Qomaruzzaman, pendiri Darunnajah, menguji keberlangsungan institusi.
- 2005: K.H. Abdul Manaf Mukhayyar, pendiri utama, berpulang, meninggalkan warisan yang tak ternilai.
- 2021: K.H. Mahrus Amin, yang telah mengabdikan diri selama lebih dari 60 tahun, berpulang. Kepemimpinan beliau sangat berpengaruh dalam mengarahkan lembaga ini ke arah yang lebih baik.
Era Kejayaan Modern (2022)
- 2022: Setelah 36 tahun beroperasi sebagai STAIDA, Universitas Darunnajah berdiri sebagai puncak dari cita-cita para pendiri. Ini menandai transformasi Darunnajah dari pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan tinggi yang diakui.
Refleksi dalam Khutbatul Arsy 1447 H / 2025 M
Perjalanan 87 tahun Darunnajah (1938-2025) memberikan banyak pelajaran berharga:
- Keteguhan dalam Ujian: Meskipun menghadapi penggusuran pada tahun 1959 dan berbagai tantangan lainnya, Darunnajah tetap teguh berdiri.
- Pengorbanan yang Ikhlas: Pengorbanan besar K.H. Abdul Manaf dan Hj. Soraya, dengan wakaf dan cincin berlian, menunjukkan ketulusan mereka dalam berjuang untuk pendidikan Islam.
- Visi Jangka Panjang: Perjalanan Darunnajah dari madrasah sederhana hingga universitas membuktikan bahwa visi jauh ke depan adalah kunci sukses.
- Tata Kelola yang Matang: Pembentukan Dewan Nazir pada 1994 menunjukkan kesadaran akan pentingnya struktur organisasi yang kuat untuk menjaga keberlanjutan yayasan.
- Regenerasi Kepemimpinan: Estafet kepemimpinan dari KH Abdul Manaf, KH Qomaruzzaman, hingga KH Mahrus Amin menjadi contoh suksesi yang terencana dan menginspirasi.
- Adaptasi dan Inovasi: Darunnajah berhasil bertransformasi dari madrasah tradisional menjadi lembaga pendidikan modern yang tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
Melalui Khutbatul Arsy tahun 1447 H / 2025 M ini, kita diingatkan bahwa cita-cita yang diperjuangkan dengan ketulusan dan keteguhan akan menghasilkan warisan yang berkelanjutan. Keberadaan Dewan Nazir sebagai badan tertinggi pembina yayasan menjamin kelangsungan visi dan misi Darunnajah yang telah dirintis sejak 1938. Dari rintisan sederhana hingga Universitas Darunnajah pada 2022, perjalanan ini membuktikan bahwa “man jadda wa jada” – siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.
Mari kita lanjutkan perjuangan para pendiri, agar Darunnajah terus menjadi mercusuar pendidikan Islam yang menerangi generasi mendatang.
Wallahu a’lam bishawab.
