Dokumen berjudul “Rintisan Darunnajah Dimulai Tahun 1938” merupakan catatan penting tentang awal mula pendirian lembaga pendidikan Islam Darunnajah di Jakarta.
Dokumen ini ditulis berdasarkan tulisan tangan KH Abdul Manaf Mukhayyar dan menjadi saksi bisu perjalanan panjang institusi pendidikan yang kini telah berkembang pesat.
Transkrip Tulisan Tangan KH Abdul Manaf Mukhayyar
Tanggal: 17 Jumadil Akhir 1402 H / 11 April 1982, Wasiat
Berdasarkan dokumen tulisan tangan yang tersimpan, berikut adalah catatan kronologis pendirian Darunnajah:
- Tahun 1938: Saya dan saudara Muchtar Cholil mendirikan Madrasah Islamijah di dekat rumah saya di muka stasiun DKA Palmerah berukuran 4×6 m.
- Tahun 1942: Kami berdua selaku ustadz merobah dan memperluas madrasah tersebut menjadi ukuran 6×10 m.
- Tahun 1944: Madrasah tersebut diperbaharui lagi serta diperluas jadi 8×12 m.
- Tahun 1949: Madrasah tersebut pecah menjadi dua Madrasah Islamijah untuk putri dipimpin oleh saudara Muchtar Cholil dan putera diurus oleh saya.
Tahun 1938: Fondasi Awal
Perjalanan Darunnajah dimulai pada tahun 1938 ketika KH. Abdul Manaf Mukhayyar mendirikan Madrasah Islamijah.
Lokasi awal pendirian berada di dekat rumah mereka di kawasan Depo Kereta Api (DKA) Palmerah.
Pemilihan lokasi ini sangat strategis mengingat kawasan stasiun kereta api merupakan area yang ramai dan mudah diakses oleh masyarakat pada masa itu.
Madrasah yang sederhana ini dimulai dari ruang belajar berukuran 4×6 meter, mencerminkan kesederhanaan namun tekad yang kuat untuk menyebarkan ilmu agama Islam kepada umat.
Tahun 1942: Ekspansi Pertama
Empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1942, madrasah mengalami perkembangan yang signifikan.
KH, Abdul Manaf Mukhayyar dan istrinya mengambil langkah berani dengan memperluas madrasah, mengganti bangunan lama dengan ukuran yang lebih besar, yaitu 6×10 meter.
Ekspansi ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap pendidikan Islam yang mereka tawarkan, terutama dari kalangan keluarga dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.
Tahun 1944: Pembangunan Berkelanjutan
Momentum positif terus berlanjut. Pada tahun 1944, madrasah kembali mengalami perluasan menjadi 8×12 meter.
Pembangunan ini menandai komitmen yang semakin kuat terhadap pengembangan pendidikan Islam di kawasan strategis Palmerah.
Pada tahun yang sama, KH. Abdul Manaf Mukhayyar menikahi Soraja, yang menjadi istri beliau dan turut serta mendukung pengembangan madrasah.
Tahun 1946: Kelahiran Anak Pertama
Pada tahun 1946, pasangan KH. Abdul Manaf Mukhayyar dan Soraja dikaruniai anak pertama mereka, yang diberi nama Suniyati Manaf.
Tahun 1949: Periode Transformasi
Tahun 1949 menjadi momen bersejarah dalam perjalanan institusi ini.
Madrasah yang telah berkembang mengalami pemekaran menjadi dua Madrasah Islamijah yang terpisah.
Satu madrasah tetap dipimpin oleh KH Abdul Manaf Mukhayyar, sementara madrasah kedua dipimpin oleh kakak ipar beliau, Ustadz Muchtar Cholil.
Keputusan ini mencerminkan kebijaksanaan dalam manajemen pendidikan dan upaya regenerasi kepemimpinan yang berkelanjutan.
Makna Historis dan Lokasi Strategis
Dokumen yang ditulis pada 17 Jumadil Akhir 1402 H (11 April 1982) oleh KH. Abdul Manaf Mukhayyar ini menjadi bukti otentik tentang akar historis Darunnajah.
Pemilihan lokasi di kawasan Depo Kereta Api Palmerah menunjukkan visi strategis para pendiri yang memahami pentingnya aksesibilitas dalam penyebaran pendidikan Islam.
Catatan sederhana namun detail ini menunjukkan bahwa dari ruang kecil berukuran 4×6 meter di kawasan stasiun kereta api, sebuah visi besar pendidikan Islam telah tumbuh dan berkembang.
Lokasi strategis ini memungkinkan madrasah menjangkau berbagai kalangan masyarakat yang transit atau beraktivitas di sekitar area transportasi publik.
Warisan yang Berkelanjutan
Perjalanan 11 tahun (1938-1949) yang tercatat dalam dokumen bersejarah ini memperlihatkan dedikasi, ketekunan, dan visi jangka panjang para pendiri.
Dari satu madrasah kecil di kawasan depo kereta api, berkembang menjadi dua institusi yang kemudian menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Darunnajah yang kita kenal saat ini.
Kini, Pondok Pesantren Darunnajah telah berkembang pesat dengan pusat di Ulujami Jakarta dan memiliki 23 kampus yang tersebar di berbagai lokasi di Indonesia.
Semua pencapaian ini bermula dari tekad sederhana sepasang suami istri yang ingin menyebarkan ilmu agama Islam di kawasan Palmerah pada tahun 1938.
*Artikel ini disusun berdasarkan dokumen otentik tulisan tangan KH Abdul Manaf Mukhayyar yang ditulis pada 17 Jumadil Akhir 1402 H (11 April 1982).
Informasi Dokumen:
- Judul: Rintisan Darunnajah dimulai tahun 1938
- Dokumen: Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta
- Nomor registrasi: DN1/YDN/DOK.ASLI.SM/01/28.05.2025
- Penulis: DR. Sofwan Manaf, M.Si
- Dokumen diterbitkan: 5 Mei 2025





