Peringatan Isra Mi’raj di Pesantren dan Tradisi yang Sering Tidak Diketahui Wali Santri
Ada satu malam yang sangat istimewa di pesantren saat seluruh komunitas berkumpul untuk peringatan Isra Mi’raj dengan suasana yang sangat khusyuk dan reflektif. Suasana malam itu sangat berbeda dari malam-malam biasa di asrama. Tidak ada keributan, tidak ada percakapan ringan, tidak ada kegiatan rutin yang biasa berlangsung. Yang ada adalah ribuan santri yang duduk dengan tenang di masjid utama untuk mendengarkan kajian tentang perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian naik ke langit ketujuh menerima perintah sholat lima waktu.
Bagi keluarga Muslim Jabodetabek yang anaknya baru pertama kali mondok, banyak orang tua yang baru menyadari adanya tradisi peringatan Isra Mi’raj ini setelah anak pulang dan menceritakan pengalamannya. Tradisi yang dijalankan dengan khidmat ini sering tidak banyak dipublikasikan karena sifatnya yang sangat internal dan reflektif. Padahal makna spiritual dari peringatan Isra Mi’raj di pesantren sangat dalam dan menjadi pondasi pemahaman santri tentang sholat lima waktu yang dibawa sampai dewasa.
Bagaimana kalau peringatan Isra Mi’raj di pesantren menjadi salah satu pengalaman spiritual paling membekas yang membentuk pemahaman santri tentang sholat? Pesantren untuk membentuk karakter anak yang serius pada dimensi spiritual biasanya merancang peringatan Isra Mi’raj dengan rangkaian acara yang membantu santri menginternalisasi makna sebenarnya dari perintah sholat sebagai oleh-oleh dari perjalanan luar biasa Nabi.
Rangkaian Tradisi Peringatan Isra Mi’raj di Pesantren
Persiapan peringatan Isra Mi’raj biasanya dimulai beberapa hari sebelum tanggal 27 Rajab. Pengasuh dan ustadz menyampaikan kajian-kajian pengantar tentang konteks turunnya peristiwa Isra Mi’raj, kondisi Nabi yang sedang dalam keadaan berduka dan tertekan secara emosional, dan hikmah Allah memberikan mukjizat ini sebagai bentuk penghibur dan penguat untuk Nabi. Persiapan ini membantu santri memahami konteks emosional dari peristiwa yang akan dirayakan.
Pada malam tanggal 27 Rajab atau malam yang ditetapkan untuk peringatan, kegiatan dimulai setelah sholat magrib dengan persiapan suasana yang khusyuk di masjid utama. Para santri datang dengan pakaian yang rapi, mengisi shaf-shaf masjid dengan teratur. Pembukaan acara dengan bacaan Al-Quran oleh santri yang menjadi qari terbaik menjadi momen pertama yang menyentuh hati. Bacaan tartil yang tenang mengisi masjid dan membantu menciptakan atmosfer reflektif.
Kajian utama tentang Isra Mi’raj biasanya disampaikan oleh pengasuh utama pesantren atau ustadz senior yang ahli di bidang hadits dan sirah. Kajian disampaikan dengan sangat detail mencakup kronologi perjalanan Nabi, tempat-tempat yang dilewati, percakapan dengan para Nabi terdahulu di setiap langit, dialog dengan Allah tentang jumlah sholat yang awalnya lima puluh kali kemudian dikurangi menjadi lima waktu, dan hikmah-hikmah spiritual yang bisa ditarik dari peristiwa tersebut.
Banyak santri yang menangis tenang selama kajian ini karena merasakan dimensi spiritual yang sangat dalam. Kisah perjalanan Nabi yang penuh keajaiban, percakapan beliau dengan para Nabi sebelumnya, dan momen menerima perintah sholat menjadi narasi yang membentuk pemahaman baru tentang ibadah sholat yang biasanya hanya dijalani sebagai rutinitas harian.
Setelah kajian utama, biasanya ada sholat sunnah berjamaah seperti tahajud awal malam dan doa bersama yang panjang. Doa mencakup permohonan agar Allah memberi kekuatan untuk menjaga sholat lima waktu dengan kualitas yang baik, syafaat Nabi di akhirat, dan kemampuan menjalankan ibadah dengan khusyuk seumur hidup. Ribuan santri mengaminkan doa dengan suara serempak yang menggetarkan hati.
Pemahaman Sholat yang Terbentuk dari Pengalaman Peringatan
Salah satu dampak paling signifikan dari peringatan Isra Mi’raj di pesantren adalah perubahan pemahaman santri tentang sholat lima waktu. Sebelum benar-benar memahami konteks turunnya perintah sholat, banyak santri menjalankan sholat sebagai rutinitas yang harus dijalani. Setelah kajian yang dalam tentang Isra Mi’raj, pemahaman bahwa sholat adalah oleh-oleh paling istimewa dari perjalanan luar biasa Nabi mengubah cara mereka menjalankan ibadah ini.
Banyak alumni pesantren yang mengatakan bahwa pemahaman tentang sholat ini menjadi pondasi yang menjaga kualitas ibadah mereka sampai dewasa. Saat lelah, malas, atau menghadapi tekanan hidup yang berat, mengingat kisah Isra Mi’raj membantu menjaga komitmen untuk tetap menjalankan sholat dengan baik. Kesadaran bahwa sholat lima waktu adalah hadiah istimewa dari Allah lewat Nabi menjadi pengingat yang sulit dilupakan.
Tradisi peringatan ini juga membentuk pemahaman santri tentang dimensi historis dan teologis Islam yang dalam. Mereka memahami bahwa setiap ibadah memiliki konteks sejarah yang kaya, tidak hanya aturan teknis yang harus dipatuhi. Pemahaman holistik seperti ini membantu santri menjalankan ibadah dengan kesadaran yang lebih dalam dan apresiasi yang lebih tulus.
Untuk santri yang menjadi hafidz atau penghafal Al-Quran, peringatan Isra Mi’raj juga memperdalam pemahaman ayat-ayat tentang peristiwa ini di surat Al-Isra dan surat An-Najm. Hafalan menjadi lebih bermakna karena disertai pemahaman konteks dan hikmahnya. Banyak alumni hafidz yang mengatakan bahwa peringatan Isra Mi’raj di pesantren menjadi momen yang sangat memperkaya pengalaman mereka dengan Al-Quran.
Pengaruh pada Kebiasaan Setelah Dewasa
Memori malam peringatan Isra Mi’raj di pesantren biasanya bertahan kuat sampai alumni dewasa. Banyak alumni yang tetap memperingati Isra Mi’raj setiap tahun sebagai bentuk kontinuitas tradisi yang dijalani saat mondok. Mereka mengikuti kajian di masjid kompleks, mengajak keluarga untuk membaca ulang kisah Isra Mi’raj, atau membaca surat Al-Isra di malam peringatan sebagai bentuk personal mengingat peristiwa tersebut.
Beberapa alumni juga aktif menjadi pemateri kajian Isra Mi’raj di masjid komunitas mereka. Pengalaman mengikuti tradisi ini di pesantren memberi mereka kedalaman pemahaman yang dibagikan ke jamaah masjid lingkungan. Kontribusi sosial seperti ini menjadi bentuk panjang dari investasi pendidikan pesantren yang manfaatnya melampaui anak sendiri.
Bagi keluarga Muslim Jabodetabek yang ingin anaknya tumbuh dengan pemahaman dalam tentang ibadah sholat dan sejarah Islam, pesantren modern dengan tradisi peringatan Isra Mi’raj yang dijalankan dengan khidmat menjadi pilihan yang sangat patut dipertimbangkan. Investasi pendidikan menengah ini memberi anak pengalaman spiritual yang membentuk pondasi ibadah seumur hidup.
Tradisi peringatan Isra Mi’raj di pesantren seperti yang dibahas di sini memang lebih dari sekadar acara religi tahunan biasa. Yang efektif adalah lingkungan yang menjalankan tradisi dengan khidmat dan konsisten setiap tahun, sehingga membangun pemahaman spiritual yang dijaga sampai dewasa. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan tradisi tersebut bagi santri yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga juga punya cara sendiri untuk membantu anak mendalami sejarah dan makna ibadah dalam Islam.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.