Setiap tahun, ketika tanggal 27 Rajab mendekat, pesantren mulai bersiap untuk satu malam yang selalu terasa istimewa. Bukan karena acara yang besar atau panggung yang megah. Tapi karena cerita yang dibawakan malam itu punya kekuatan yang membuat banyak santri duduk terdiam selama berjam-jam tanpa merasa bosan — kisah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus tujuh langit menuju Sidratul Muntaha.
Apa yang membuat peringatan Isra Miraj di pesantren terasa begitu berbeda dari yang di tempat lain?
Masjid atau aula yang sudah dihias sederhana dipenuhi santri dari seluruh jenjang. Duduk rapat bersila di atas sajadah atau karpet, berdesakan tapi tidak ada yang mengeluh. Lampu sengaja tidak terlalu terang — menciptakan suasana yang mendukung kekhusyukan. Sebelum ceramah dimulai, ada jeda hening yang terasa penuh harapan. Ustadz yang akan menyampaikan kisah sudah duduk di depan, membuka catatan atau kitab yang akan menjadi panduan ceritanya malam ini. Lalu suaranya mulai mengisi ruangan, dan segalanya berubah.
Narasi dimulai dari kondisi Nabi di malam itu. Beban dakwah yang berat. Penolakan dari kaum Quraisy. Kehilangan istri dan paman tercinta dalam waktu yang berdekatan. Ustadz menceritakan konteks kesedihan itu bukan untuk membuat pendengarnya sedih, tapi untuk membangun pemahaman bahwa undangan langit yang datang setelahnya terjadi di momen paling berat dalam kehidupan Nabi. Pilihan waktu itu bukan kebetulan.
Ketika cerita bergeser ke perjalanan itu sendiri, imajinasi santri mulai bergerak. Buraq yang membawa Nabi melintasi jarak yang mustahil ditempuh manusia biasa. Pertemuan dengan para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa — satu per satu, dengan detail yang membuat pendengar merasa seolah ikut menyaksikan. Dari langit pertama sampai keenam, Nabi bertemu Nabi Adam, Nabi Isa, Nabi Yahya, dan nabi-nabi lainnya, sebelum akhirnya sampai di langit ketujuh. Ustadz yang baik bisa membuat setiap pertemuan itu terasa hidup, bukan sekadar daftar nama yang dibacakan.
Momen paling hening di seluruh acara biasanya terjadi ketika ustadz sampai pada perintah sholat. Bagaimana Nabi menerima perintah lima puluh waktu sholat, lalu atas saran Nabi Musa kembali memohon keringanan berkali-kali, sampai akhirnya menjadi lima waktu. Cerita itu membuat santri melihat sholat lima waktu dari perspektif yang sama sekali baru. Bukan beban yang harus dipikul setiap hari. Tapi pemberian yang sudah diringankan dengan penuh kasih sayang — dari lima puluh menjadi lima, karena Allah tahu kemampuan umat ini. Santri yang biasanya mengeluh soal sholat subuh yang terlalu pagi tiba-tiba terdiam, memikirkan ulang keluhannya.
Hening itu terasa berbeda dari hening biasa.
Setelah ceramah selesai, santri yang keluar dari masjid berjalan lebih pelan dari biasanya. Percakapan yang terjadi di lorong asrama volumenya lebih rendah. Ada momen refleksi kolektif yang terjadi secara natural — semua orang baru saja mendengar cerita yang sama, dan cerita itu meninggalkan sesuatu di dalam dada yang butuh waktu untuk diproses. Kakak kelas yang biasanya langsung bercanda setelah acara selesai malam ini lebih banyak diam. Adik kelas yang biasanya berisik di lorong berjalan tenang tanpa perlu diingatkan.
Dampak malam itu sering terasa di hari-hari berikutnya. Santri yang biasanya terlambat ke masjid untuk sholat subuh datang lebih awal. Yang biasanya asal-asalan dalam gerakan sholatnya tiba-tiba lebih khusyuk. Bukan karena takut dihukum. Tapi karena cerita yang didengar malam itu memberi konteks baru — bahwa sholat bukan sekadar kewajiban, tapi hadiah yang perjalanannya sendiri sudah luar biasa. Perubahan itu kadang bertahan berminggu-minggu. Kadang lebih lama.
Di Darunnajah 2 Cipining, peringatan Isra Miraj sudah menjadi tradisi tahunan yang diisi dengan ceramah berkualitas dari ustadz yang menguasai kisah ini secara mendalam. banyak santri duduk bersama setiap tahunnya, mendengarkan cerita yang sama tapi selalu terasa baru karena setiap tahun mereka mendengarnya dengan pengalaman hidup yang bertambah.
Ada kisah yang memang tidak pernah kehilangan kekuatannya meskipun sudah kita dengar berkali-kali. Isra Miraj adalah salah satunya — dan cara pesantren menceritakannya membuat kisah itu terasa lebih dekat dari yang pernah dibayangkan.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan spiritual santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.