Peradaban yang Menolak Runtuh: Pelajaran dari Iran untuk Ketahanan Organisme Pesantren Peradaban yang Menolak Runtuh: Pelajaran dari Iran untuk Ketahanan Organisme Pesantren

Peradaban yang Menolak Runtuh: Pelajaran dari Iran untuk Ketahanan Organisme Pesantren

Dua pekan terakhir, dunia dikejutkan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan terhadap kepemimpinan Iran yang dilancarkan Amerika Serikat telah memicu gelombang analisis di berbagai media internasional. Boston Globe menyebutnya sebagai “perang yang sia-sia” . Media Hong Kong, HK01, bahkan merilis analisis panjang tentang 22 kesalahan perhitungan Trump dalam perang ini .

Tapi sekian banyak analisa ada satu hal yang membuat saya lebih heran. Sebuah analisis dari Strategic Culture Foundation yang menulis bahwa Iran adalah “keajaiban intelektual dan strategis”, sebuah negara yang dibangun bukan di atas ideologi sesaat, tetapi di atas kesinambungan peradaban dan kedalaman filosofis.

Mengapa Iran tidak runtuh meski kepemimpinan mereka diserang? Mengapa rezim yang oleh banyak pengamat Barat sudah “diprediksi” akan tumbang ini justru bertahan dan mengorganisir diri kembali?

Pertanyaan-pertanyaan itu pantas untuk kita diskusikan. Dan sebagai seseorang yang sehari-hari bergelut dengan dunia pesantren, bahwa pesantren kita juga begitu? Pesantren juga punya kedalaman institusional dan warisan peradaban yang membuatnya tidak mudah tumbang.

Ketika Amerika Salah Membaca Iran

Dalam analisisnya, seorang pengamat dari Hong Kong, memaparkan dengan gamblang bagaimana Trump dan para jenderalnya melakukan kesalahan perhitungan fundamental .

Mereka mengira dengan menyerang kepemimpinan, Iran akan runtuh. Asumsinya sederhana: jika kepala dipenggal, tubuh akan mati. Tapi mereka lupa bahwa Iran bukan sekadar negara biasa. Ia adalah peradaban.

Trump meyakini bahwa dengan membunuh Ali Khamenei dan mengancam akan membunuh penerusnya, ia bisa memicu kekacauan internal, memecah belah elite politik, dan mendorong rakyat Iran untuk “berontak” terhadap rezimnya sendiri .

Itu tidak terjadi. Justru sebaliknya. Rakyat Iran, dari berbagai lapisan, bersatu di belakang pemimpinnya. Serangan itu justru memperkuat legitimasi pemerintah dan meningkatkan dukungan publik. Gerakan protes internal yang sebelumnya ada, mendadak menghilang, digantikan oleh solidaritas nasional menghadapi agresi asing .

Mengapa? Karena Amerika lupa bahwa Iran telah ada selama lebih dari 2.500 tahun. Ia telah melewati invasi Alexander Agung, penaklukan Arab, serangan Mongol, dan terus bangkit kembali . Sebuah peradaban tidak bisa dihancurkan hanya dengan membunuh beberapa tokohnya.

Kedalaman Institusional: Bukan Sekadar Figur

Boston Globe menulis analisis yang tajam: “Sistem politik Iran tidak didasarkan pada pemimpin individu, tetapi pada matriks institusi yang kompleks dan saling terkait yang berakar dalam di masyarakat. Bahkan membunuh pemimpin tertinggi, setiap menteri kabinet, setiap anggota parlemen, dan setiap jenderal pun tidak akan cukup untuk menjatuhkan rezim” .

Ini yang disebut kedalaman institusional. Keputusan tidak hanya berada di tangan satu orang, tapi tersebar di berbagai badan nasional hingga struktur lokal. Ketika pemimpin senior gugur, aparatur negara tetap berfungsi. Ada mekanisme, ada sistem, ada nilai-nilai yang mengikat.

Sistem politik Iran, dengan doktrin Wilayat al-Faqih-nya, bukan sekadar teokrasi seperti yang disederhanakan oleh pengamat Barat. Ia adalah perpaduan antara kedaulatan rakyat dan kompas jalan etik yang lebih tinggi. Pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama yang dipilih oleh rakyat. Presiden dipilih melalui pemilu langsung dengan kekuasaan eksekutif yang nyata .

Ada lapisan-lapisan institusi yang saling menopang: Dewan Wali yang mengawasi legislasi, Dewan Penentu Kebijakan yang menyelesaikan sengketa antar lembaga, Dewan Keamanan Nasional yang merumuskan strategi menghadapi ancaman asing .

Ketika satu bagian terserang, bagian lain tetap bekerja. Inilah yang membuat Iran tidak runtuh.

Persamaan dengan Pesantren

Ketika membaca analisis-analisis itu dan teringat pada pesantren-pesantren besar di Nusantara. Gontor, misalnya, tidak bergantung pada satu figur. Trimurti mewakafkan pesantren dan membangun sistem Badan Wakaf. Ketika KH Imam Zarkasyi wafat, pesantren tetap jalan. Ketika KH Abdullah Syukri berpulang, Badan Wakaf bergerak cepat memilih pengganti.

Yang membuat pesantren bertahan bukan siapa yang memimpin, tapi bagaimana sistemnya dibangun. KH Hasan Abdullah Sahal pernah berkata, “Pondok sebesar ini tidak mungkin saya pimpin sendirian. Hanya dengan kebersamaan yang besar, hanya dengan pengorbanan yang besar.”

Di Darunnajah, kita punya falsafah pohon pisang yang diajarkan KH Mahrus Amin. Induk boleh mati, tapi tunas akan terus tumbuh. Dan tunas-tunas itu, ketika dipisahkan dan ditanam di tanah baru, tetap membawa DNA yang sama. Mereka tidak bergantung pada satu figur, tapi pada nilai dan sistem yang diwariskan.

Penelitian akademik tentang pendidikan Islam di masa kolonial Belanda menunjukkan bahwa pesantren berfungsi sebagai “benteng budaya” dan tempat perlawanan non-kekerasan terhadap penjajahan . Pesantren bertahan bukan karena melawan secara frontal, tapi karena membangun sistem pendidikan yang kokoh, menanamkan nilai-nilai kebangsaan, dan mencetak kader-kader pejuang yang kelak akan meneruskan perjuangan.

Inilah yang disebut kedalaman institusional versi pesantren.

Hauzah dan Pesantren: Dua Saudara dari Peradaban Berbeda

Yang menarik, Iran juga memiliki lembaga pendidikan tradisional yang mirip dengan pesantren kita. Mereka menyebutnya Hauzah. Sama seperti pesantren, Hauzah lahir dari kesadaran untuk berjuang melalui ilmu, bukan melalui kekerasan .

Dalam buku “Pesantren, Nalar dan Tradisi” karya Badrut Tamam, dijelaskan bagaimana setelah kekalahan politik, kaum Syiah memilih untuk berhenti mengangkat senjata. Mereka lebih memilih berperang dengan pena. Para imam dan syekh yang alim kemudian membuat semacam asrama atau pondok sebagai tempat menginap para pengembara ilmu. Dari situlah cikal bakal Hauzah lahir .

Hauzah dan pesantren punya karakter yang sama: sistem tradisional sebagai fondasi, fokus pada ilmu agama, tapi kemudian berkembang dan membuka diri pada ilmu-ilmu lain. Hauzah memasukkan teori filsafat, tasawuf, dan pemikiran kontemporer. Pesantren modern kita juga mulai mengajarkan ilmu umum, teknologi, dan kewirausahaan .

Di Universitas Darunnajah, misalnya, kita tidak hanya memiliki fakultas-fakultas keagamaan, tapi juga Fakultas Sains dan Teknologi dengan prodi Aktuaria, Rekayasa Perangkat Lunak, dan Sistem Teknologi Informasi, serta Fakultas Bisnis dengan prodi Administrasi Bisnis, Bisnis Digital, dan Kewirausahaan. Ini adalah bentuk adaptasi tanpa kehilangan akar.

Yang Membuat Peradaban Bertahan

Apa yang bisa kita pelajari dari Iran dan pesantren?

Pertama, kedalaman institusional. Organisme yang sehat tidak bergantung pada satu figur. Ia punya sistem, punya lapisan-lapisan yang saling menopang. Ketika satu bagian terguncang, bagian lain tetap bekerja.

Kedua, warisan peradaban. Iran bertahan karena ia punya sejarah ribuan tahun. Pesantren bertahan karena ia punya tradisi berabad-abad. Nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun menjadi akar yang membuatnya tidak mudah tumbang.

Ketiga, kemampuan beradaptasi. Iran tidak kaku. Sistem politiknya memungkinkan pergantian kepemimpinan melalui mekanisme yang jelas. Pesantren juga tidak kaku. Ia mampu mengadopsi hal-hal baru tanpa kehilangan jati diri.

Keempat, solidaritas kolektif. Saat diserang dari luar, rakyat Iran bersatu. Saat pesantren menghadapi tekanan, para alumni, wali santri, dan masyarakat sekitar bahu-membahu. Inilah jaringan yang menjadi sistem peredaran darah organisme.

KH Mahrus Amin mengajarkan falsafah pohon pisang. Induk boleh mati, tapi tunas akan terus tumbuh. Itulah yang membuat pesantren, seperti Iran, adalah peradaban yang menolak runtuh. Selama akarnya masih kuat, selama tunasnya terus tumbuh, selama nilai-nilainya dirawat, ia akan tetap hidup. Melintasi generasi. Melampaui zaman.

Trump dan para jenderalnya salah perhitungan karena mereka hanya melihat Iran sebagai negara, tidak sebagai peradaban. Mereka hanya melihat pucuk, tidak melihat akar.

Seringkali pesantren juga diremehkan seperti itu. Orang melihat bangunan tua, melihat kiai sepuh, lalu meramalkan bahwa pesantren akan segera mati tergilas zaman. Tapi mereka lupa, pesantren juga punya akar. Akar yang menjangkau berabad-abad, akar yang terus menghidupkan tunas-tunas baru.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan organisme pesantren. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, dan Menjejaki Alam Filsafat.