Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, pesantren dituntut tidak hanya menjadi tempat menanamkan ilmu agama, tetapi juga membekali santri dengan pemahaman yang benar dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Berangkat dari semangat tersebut, para pendidik mengikuti In House Training Guru Pondok Pesantren Darunnajah dengan kegiatan pelatihan bertajuk “Pentingnya Pendidikan Seksualitas di Pesantren” yang disampaikan oleh Kak Syarief Ahmad, Child Expert and Teenager Psychology Expert sebagai upaya memperkuat peran asatidz dalam mendampingi tumbuh kembang santri.

Materi pelatihan menegaskan bahwa pendidikan seksualitas bukan sekadar membahas aspek biologis, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Tujuannya adalah membantu santri memahami perubahan fisik dan psikologis pada masa pubertas, menjaga kehormatan diri, serta membangun adab pergaulan yang sesuai dengan syariat.
Kebutuhan akan pendidikan seksualitas semakin mendesak seiring meningkatnya rasa ingin tahu remaja, mudahnya akses terhadap berbagai informasi di media digital, serta perubahan hormonal yang menjadi bagian dari proses pertumbuhan. Tanpa pendampingan yang tepat, remaja berisiko memperoleh informasi dari sumber yang tidak benar. Data yang dipaparkan dalam pelatihan menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi salah satu sumber informasi utama bagi remaja mengenai pubertas, sehingga peran orang tua dan pendidik perlu semakin diperkuat.
“Edukasi ini bukan meredam perilaku yang bergejolak, namun merajut koneksi saraf dalam otak. Bimbinglah mereka dengan ilmu dan agama yang berpijak, agar tiap anak tumbuh tangguh dan bijak.”
Pelatihan juga mengingatkan pentingnya membangun lingkungan pesantren yang aman dari segala bentuk kekerasan seksual. Para pendidik diajak memahami bahwa pelecehan tidak selalu berbentuk tindakan fisik, tetapi juga dapat berupa perkataan, gestur, maupun candaan bernuansa seksual yang sering kali dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat berdampak pada kondisi psikologis korban dan berpotensi berkembang menjadi pelanggaran yang lebih serius.
Dalam pembinaan santri, pendekatan komunikasi asertif menjadi salah satu metode yang dianjurkan. Pendidik diharapkan mampu menegur perilaku yang keliru tanpa mempermalukan pelakunya, dengan tetap mengedepankan nilai kasih sayang, pendidikan, dan tanggung jawab. Penanganan setiap kasus pun perlu disesuaikan dengan tingkat keseriusannya, mulai dari pembinaan personal hingga pelibatan pihak Bimbingan Konseling, pimpinan pesantren, dan orang tua apabila diperlukan.
Selain membahas aspek perlindungan santri, pelatihan turut mengulas dampak paparan pornografi terhadap perkembangan otak remaja, khususnya pada bagian prefrontal cortex yang berfungsi mengendalikan perilaku, emosi, dan pengambilan keputusan. Paparan yang berulang dapat menurunkan kemampuan kontrol diri sehingga edukasi, pengawasan, dan pendampingan menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih luas.
“Aset utama perilaku seseorang adalah otaknya, jadi penting banget untuk dijaga agar tidak rusak… Karena otak, dapat mempengaruhi masa depannya.”
Melalui pelatihan ini, para pendidik diharapkan semakin memahami bahwa pendidikan seksualitas merupakan bagian dari ikhtiar menjaga fitrah manusia sekaligus membangun lingkungan pesantren yang aman, sehat, dan bermartabat. Dengan kolaborasi antara pendidik, orang tua, dan seluruh elemen pesantren, santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, mampu menjaga kehormatan diri, serta bertanggung jawab dalam menjalani setiap fase kehidupannya. (Ara Maulidia)
