Menu

Pembukaan Perkuliahan STAIDA

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Wardan [30/08/2013]. Hari ini, Jum’at, 30 Agustus 2013 Pembukaan Perkuliahan Sekolah Tinggi Islam Darunnajah (STAIDA) Pesantren Darunnajah Cipining, Tahun Akademik 2013-2014 dimulai Pukul 13.45 di Aula Kampus 3 Pesantren Darunnajah Cipining.
Ini adalah torehan, catatan lembaran sejarah perjalanan seperempat abad Pesantren Darunnajah Cipining.
Acara dihadiri Dewan Nadzir, Ketua Umum Yayasan Darunnajah, Ketua STAIDA beserta staff, calon mahasiswa baru berjumlah enam puluh tiga orang, kepala-kepala biro, lembaga, madrasah/sekolah dan guru Pesantren Darunnajah Cipinig.
Sebagai pembuka acara, saudara Hedi Fathurrahman (calon mahasiswa) melantunkan beberapa ayat al-qur’an, demi membuat acara khidmah, penuh penghayatan dan kekhusukan.
Untuk meningkatkan fanatisme dan menguatkan keteguhan kepesantren, hadirin secara bersamaan menyanyikan lagu himne pondok, dengan dirijen Ananda Yanuar, santri kelas sebelas Madrasah Aliyah Darunnajah.
Dilanjutkan sambutan Pimpinan Pesantren Darunnajah Cipining, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. Dengan mata berkaca, terharu, bahagia dan bersyukur, dalam usia Darunnajah Cipining ke 25 mendapat kado Istimewa karena cita-cita yang selama ini diidam-idamkan terwujud, yaitu adanya perguruan tinggi di Kampung Cipining, dipelosok ujung Kabupaten Bogor.
Dengan adanya perguruan tinggi, diharapkan mendukung percepatan kemajuan Pesantren Darunnajah Cipining, dengan salah satunya adalah mendapatkan guru-guru berkualitas, sejalan dengan pemikiran dan idealisme para pendiri Pesantren Darunnajah.
Banyak di antara pesantren-pesantren yang belum mempunyai perguruan tinggi, lamban perkembangannya, terpojok di perkampungan. Maka Pesantren Darunnajah Cipining, walau jauh dari perkotaan harus bisa mendirikan Universitas Darunnajah.
Pimpinan pesantren optimis, bahwa STAIDA menjadi universitas Darunnajah Raya akan maju dan berkembang.
Sumberdaya alam di Darunnajah Cipining tersedia untuk Darunnajah Raya, untuk pendanaan, dengan tingginya kepercayaan masyarakat menjadi mudah.
Maka dengan dibukanya STAIDA, menjadi embrio, cikal-bakal terwujudnya Universitas Darunnajah.
Dengan adanya Universitas Darunnajah diharapkan bisa meningkatkan kualitas tenaga pendidik yang terlahir produk dari universitas Darunnajah.
Sekurang-kurangya jebolan STAIDA mampu lancar berbahasa Arab dan Inggris, ilmu agama yang jauh lebih matang dibandingkan lulusan universitas-universitas lainnya.
Para pengelola diwajibkan sepandai mungkin, sekreatif mungkin untuk menciptakan pendidikan berbasis teknologi, memanfaatkan teknologi yang sumberdaya manusianya sudah tersedia dan dimiliki pesantren-pesantren Darunnajah Group.
Darunnajah Cipining dalam pemanfaatan teknologi, guru-guru sudah diarahkan melalui penugasan-penugasan dalam majlis ilmi, penyampaian setelah ashar dan subuh.
Maka STAIDA kedepannya dimanfaatkan selayaknya rujukan menjadi salah satu situs resmi, sebagaimana Google menjadi rujukan dari berbagai kajian dan ilmu.
Sambutan berikutnya dari Ketua Yayasan Darunnajah, pukul 14.17 WIB. Beliau sampaikan, ketika Pendiri Darunnajah membuka Madrasah Ibtidaiyah, tahun 1938 baru tamat Jamiyatul Khair, setara dengan tingkat dasar.
Pada awal pembukaan Pondok Modern Gontor Darussalam Ponorogo Jawa Timur, juga tamatan setara dengan SLTA.
Namun sekarang ini, kalau nggak S-1 atau S-2, maka tidak diperkenankan untuk mengajar. Dengan demikian pendidikan itu berkembang sesuai dengan masa dan kebutuhannya.
Maka guru Pesantren Darunnajah sekurang-kurangnya harus sudah berpendidikan strata satu, dilanjutkan ke depannya ditingkatkan menjadi strata dua dan doktoral.
Dapur Pesantren Darunnajah yang tahu orang dalam, kekurangan dan kelebihannya juga sudah dipahami dan dipelajari, maka dengan demikian mencetak guru-guru harus dari produk sendiri, STAIDA lah harus menjadi garda terdepan mencetak kader dimaksud.
Maka alumni dan guru Darunnajah diwajibkan untuk belajar dan kuliah di STAIDA denga harapan mendapat ilmu mempuni dan lebih efesien dalam memanfaatkan waktu.
Kita generasi mutaakhir, harus berbuat lebih banyak dan lebih baik dari pendiri-pendiri sebelumnya.
Seorang guru harus selalu ingat dan tertancap dalam sanubari, “At Tariqoh ahammu minal maddah, wal Mudarrisu ahammu minal Thoriqoh, wal Himmatu ahammu an kulli syai.
Disambung sambutan berikutnya, Pukul 14.33 WIB Drs. Aenurrofiq, M.Pd. selaku Ketua STAIDA.
Dalam sambutannya, beliau sampaikan mengutiip dari buku Tarbiyah karangan Mahmud Yunus, “Kaifama yakunul mudarris, takunul Madrasah.”, “No Teachers no Education, No Education No Sosial and Economic Development,”
Bahwa kualitas sebuah lembaga pendidikan, banyak faktor yang mendukung, tetapi faktor yang terpenting adalah “Ruh” seorang guru, ujung tombak di tangan guru-gurunya.
Guru merupakan sosok terpenting, terdepan dalam memajukan sebuah lembaga pendidikan. Maka guru tersebut sedianya dipersiapkan sedini mungkin. Maju mundurnya sebuah lembaga pendidikan ada padanya.
Jika baik dan lurus, tulus ikhlas menetapi profesinya, maka akan maju dan berkibarlah lembaga pendidikan, namun bila yang terjadi sebaliknya, maka akan menjadi surut dan padam.
Dalam kesempatan itu, beliau juga perkenalkan dosen-dosen STAIDA yang turut serta, Ustadz Ikhwan (kandidat Doktoral di UNJ), Dr. Muhammad Rofiq dan Dede Abdurrahman (Praktisi IT).
Beliau paparkan, jumlah guru di Indonesia kurang lebih, 3.4 juta, dengan diklasifikasikan menjadi tiga kategori; guru nyasar, guru bayar dan guru sadar (long life learner). “pembelajar seumur hidup.”
Inilah pentingnya lembaga pesantren dan perguruan tinggi di bawah naungan pesantren, adalah melahirkan guru-guru profesional, handal dan masuk dalam kategori guru sadar, belajar setiap saat dan terus belajar.
Memahami arti dari profesinya, sehingga menjalankan kewajiban bukan karena profit orientid semata, melainkan untuk mencerdaskan dan membina akhlak ummat.
Harapan beliau, Mudah-mudahan minggu depan, medio pertengah september perkuliahan sudah aktif, diawali dengan orientasi perguruan tinggi.
Selanjutnya kegiatan pembukaan perkuliahan STAIDA ditutup dengan do’a, yang disampaikan oleh Direktur TMI Darunnajah, Musthofa Kamal, S.Pd.I., M.Ag.
Pada pukul 15.00 WIB , Adam Dewa Wijaya (calon mahasiswa baru) secara resmi menutup acara dengan bersama-sama mengucap hamdalah dan do’a kifaratul majlis.
Menjelang ashar, acara dilanjutkan dengan perkuliahan umum oleh Dr. Muhammad Rofiq dan perfotoan bersama. [Mr. Song]

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait