
Dua puluh santri berdiri di barisan terdepan pada Senin, 31 Agustus 2026. Mereka adalah kontingen pramuka yang bersiap berangkat menuju Tangerang. Di hadapan mereka, seluruh santri hadir untuk melepas keberangkatan tersebut menuju ajang Al Mizan Galang Kreasi atau AGRASI. Sore itu, perjalanan sekelompok kecil santri menjadi urusan bersama seluruh penghuni asrama. Barisan yang rapat itu menjadi tanda bahwa keberangkatan mereka membawa nama besar sebuah keluarga.
Kontingen yang dilepas berjumlah 20 orang dengan komposisi yang berimbang dari dua jenjang kepramukaan. Pembagian ini memungkinkan santri senior dan junior berjalan dalam satu tim yang sama. Berikut susunan kontingen yang diberangkatkan:
- 10 anggota Pramuka Penegak
- 10 anggota Pramuka Penggalang
Ajang AGRASI diselenggarakan oleh Pondok Al Mizan dan berlangsung di kompleks pondok tersebut di Tangerang. Perlombaan ini mempertemukan kontingen dari berbagai lembaga pendidikan dalam kegiatan kepramukaan atau scouting yang menguji keterampilan sekaligus kekompakan regu. Pesantren Darunnajah 2 Cipining mengirimkan kontingennya sebagai peserta dalam ajang tersebut. Persiapan dilakukan jauh sebelum hari keberangkatan tiba. Kegiatan pelepasan menjadi penanda resmi bahwa kontingen telah siap diberangkatkan.


Pelepasan dipimpin oleh Al Ustadz Solehudin, Direktur Departemen Pengasuhan Santri. Ia menyampaikan bahwa kegiatan pelepasan digelar sebagai wujud penghargaan dan dukungan Pesantren kepada para santri yang akan berlomba. Menurutnya, keberangkatan kontingen perlu diketahui dan didukung oleh seluruh santri, bukan diserahkan kepada peserta saja. Kehadiran seluruh santri di lapangan menjadi bentuk dukungan yang paling sederhana sekaligus paling terasa. Dari mimbar itulah pesan keberangkatan disampaikan kepada seluruh warga Pesantren.
Majlis Pembibimbing Koordinator Harian (MABIKORI) menyebut tantangan terbesar justru terletak pada tahap persiapan. Latihan harus disusun sedemikian rupa agar target yang diharapkan benar-benar dapat diwujudkan di arena perlombaan. Setiap regu dituntut menyeimbangkan waktu belajar di kelas dengan jadwal latihan menjelang keberangkatan. Proses panjang itu menuntut kesabaran dari pelatih maupun peserta. Hasil dari kerja panjang tersebut akan diuji di Tangerang.
Kegiatan pelepasan sendiri berjalan lancar dan terkondisi dengan baik. Para santri menunjukkan antusiasme selama kegiatan berlangsung, mulai dari barisan hingga sesi pengarahan. Seluruh pihak yang terlibat disebut aktif mengambil peran masing-masing dalam kegiatan tersebut. Suasana lapangan berubah menjadi ruang penyemangat bagi kontingen yang akan berangkat. Momentum itu memberi bekal keberanian sebelum mereka meninggalkan Pesantren.
Dukungan bagi kontingen berlanjut setelah upacara pelepasan usai. Pesantren berencana terus mendorong dan menguatkan para peserta melalui doa yang dipanjatkan pada setiap salat. Doa bersama itu menjadi bentuk dukungan yang menembus jarak antara Cipining dan Tangerang. Dengan cara ini, santri yang tinggal di asrama tetap merasa terlibat dalam perjuangan kontingen. Ikhtiar di lapangan dan doa di masjid berjalan beriringan.
Di balik seremoni sederhana itu tersimpan pelajaran yang layak direnungkan. Islam mengajarkan bahwa usaha maksimal perlu disempurnakan dengan doa dan tawakal kepada Allah. Latihan keras menyiapkan keterampilan, sementara doa menjaga hati agar tetap tenang menghadapi hasil apa pun. Kepramukaan pun mendidik santri tentang kedisiplinan, kemandirian, dan kesetiaan pada regu. Nilai-nilai inilah yang akan tetap melekat setelah medali dan piala selesai dibagikan.
Perjalanan kontingen ke Tangerang baru saja dimulai dan hasilnya masih menunggu di depan. Seluruh santri, guru, dan wali santri diajak mengiringi langkah mereka dengan doa pada setiap salat lima waktu. Dukungan juga dapat diberikan dengan menjaga semangat latihan kepramukaan di lingkungan asrama masing-masing. Mari rawat kebiasaan mengantar saudara dengan doa, karena di sanalah kekuatan sebuah kebersamaan diuji. Kabar dari arena AGRASI akan ditunggu bersama.
