Persiapan adalah separuh dari kesuksesan. Prinsip ini menjadi pegangan 20 santri Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai yang tengah menjalani latihan intensif. Mereka mempersiapkan diri menghadapi perlombaan pramuka tanggal 4 Oktober mendatang di MTS 1 Kota Dumai.
Setiap sore dan malam, suara komando dan langkah teratur menggema di halaman pesantren. Para santri dengan tekun mengasah kemampuan tali-temali, pioneering, dan Latihan Keterampilan Baris Berbaris. Rutinitas ini bukan sekadar persiapan teknis, melainkan pembentukan karakter disiplin dan tanggung jawab.
Bimbingan langsung diberikan oleh Mabikori Kak Devi LesatarI dan Ustadz Joe Farel. “Latihan ini bukan hanya untuk memenangkan lomba, tetapi membentuk karakter santri yang siap menghadapi tantangan,” ungkap Ustadz Joe Farel. Kedua pembimbing ini memastikan setiap gerakan dan teknik dikuasai dengan sempurna.
Materi latihan mencakup berbagai keterampilan kepramukaan fundamental. Tali-temali menjadi fokus utama, mengingat pentingnya dalam kegiatan outdoor. Pembuatan pioneering melatih kreativitas dan kerja tim, sementara LKBB membentuk kedisiplinan dan kekompakan.
Intensitas latihan semakin meningkat menjelang hari kompetisi. Para santri menunjukkan dedikasi tinggi, tidak pernah absen dari jadwal latihan rutin. Semangat juang mereka mencerminkan nilai-nilai pesantren yang mengutamakan kerja keras dan ketekunan.
Persiapan matang ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya perencanaan. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud: “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ” (Inna Allaha yuhibbu idza ‘amila ahadukum ‘amalan an yutqinahu) – “Sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang di antara kalian bekerja, maka dia mengerjakannya dengan itqan (sempurna).”
Perlombaan ini menjadi ajang pembuktian kualitas pendidikan karakter di Pesantren Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai. Melalui kepramukaan, santri belajar nilai-nilai kepemimpinan, kemandirian, dan cinta tanah air. Perpaduan antara pendidikan agama dan nasionalisme menciptakan generasi yang berkarakter kuat.
Dukungan dari seluruh civitas pesantren semakin memperkuat semangat para kontingen. Doa dan motivasi mengalir dari ustadz, santri senior, hingga pengasuh pesantren. Atmosfer positif ini menjadi energi tambahan bagi para peserta lomba.
Kompetisi tanggal 4 Oktober bukan sekadar ajang adu kemampuan, melainkan manifestasi nilai-nilai luhur kepramukaan. Para santri siap membuktikan bahwa persiapan yang matang akan membuahkan hasil optimal, sesuai dengan prinsip Islam yang mengajarkan kesempurnaan dalam setiap amal perbuatan.




