

Cipanas — Begitu Ustadz Deni Rusman menutup materinya dan menyebut ada tiga tugas yang harus dikerjakan siang itu juga, ruangan langsung riuh. Bukan riuh protes. Peserta buru-buru membuka laptop, sebagian menyalakan hotspot, sebagian lagi menelepon rekannya di pondok untuk menanyakan satu hal yang ternyata bikin repot: password akun media sosial lembaga.
Tugasnya sebenarnya sederhana. Login ke semua akun medsos lembaga masing-masing, susun content planner, lalu data siapa saja yang selama ini pegang akun itu. Selesai. Tapi justru tugas sesederhana itu yang membongkar banyak hal.
Ada akun Facebook yang masih terhubung ke nomor pengurus yang sudah pindah tugas dua tahun lalu. Ada akun Instagram yang emailnya tidak ada yang tahu. Ada juga yang baru sadar ternyata pondoknya punya dua akun TikTok, satu aktif satu tertinggal, dan tidak ada yang ingat siapa yang dulu membuatnya.
Pelatihan Admin Website dan Media Sosial Pusat dan Cabang ini berlangsung 7–9 September 2026 di Darunnajah Learning Center, Cipanas, Cianjur. Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining ikut mengirim utusan, seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sebelum masuk ke praktik, kegiatan dibuka oleh Assoc. Prof. Dr. K.H. Musthafa Zahir, Lc., M.A. Beliau bilang, admin website dan medsos itu ibarat wajah pesantren. Orang di luar sana menilai pondok pertama kali bukan dari gedungnya, tapi dari apa yang mereka lihat di layar ponsel. Kalau tidak ada yang mengabarkan, sebagus apa pun kegiatan di dalam pondok ya berhenti di dalam pondok.
Di materi Manajemen Tim Admin Pengelola, Ustadz Deni menyoroti kebiasaan yang katanya hampir selalu ditemui di banyak lembaga: kerja jalan sendiri-sendiri, tidak ada kalender konten, alur approval kabur, dan grup WhatsApp yang isinya campur aduk antara koordinasi dan kiriman broadcast. Ujungnya, akun ramai sebulan pertama lalu sepi berbulan-bulan.


“Lebih baik sedikit tapi konsisten,” begitu kira-kira intinya.
Buat utusan Cipining, ini bukan pelatihan pertama. Sudah entah yang keberapa. Tapi tidak ada yang datang dengan wajah bosan. Materinya memang tidak pernah sama persis. Tahun ini saja sudah masuk soal keamanan akun, penulisan berita yang SEO friendly, sampai teknik prompting untuk bikin tulisan, gambar, dan video.
Pulang dari sini, pekerjaan rumahnya sudah jelas. Data akun dirapikan, kalender konten disusun ulang, dan pembagian tugas antaradmin dipertegas supaya tidak ada lagi berita kegiatan yang baru terunggah seminggu setelah acaranya selesai.
Tidak ada yang instan. Tapi setidaknya sekarang semua peserta pulang membawa daftar yang sama tentang apa yang harus dibereskan lebih dulu.
