Dari Anas bin Malik r.a. dia berkata, Rasulullah saw bersabda;

مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّةُ الْأَعْوَرَ الْكَذَّابَ، أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، وَمَكْتُوْبَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: ك ف ر

Tidak ada seorang nabi pun, kecuali dia telah mengingatkan umatnya dari si buta sebelah yang pendusta (Dajjal). Ketahuilah sesungguhnya Dia buta sebelah dan sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah, diantara kedua matanya tertulis; ‘Ka-Fa-Ra’.” (HR Al-Bukhari, No 7131 dan Muslim, No 2933)

Sabda beliau saw “Tidak ada seorang nabi pun kecuali dia telah mengingatkan umatnya dari si buta sebelah yang pendusta (Dajjal)”, maksudnya dia menakut-nakuti mereka dengannya. Dan ini tidak bertentangan dengan hadits yang tsabit bahwa ia (Dajjal) akan dibunuh oleh Nabi Isa as bin Maryam setelah dia turun dan berhukum dengan syariat Muhammad saw, karena tepat waktu keluarnya tidak mereka ketahui ketika mereka mengingatkan kaum mereka. Dan seperti ini juga di pahami hadits yang terdapat pada sebagian jalur periwayatannya,

إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيْكُمْ فَأَنَا حَجِيْجُهُ

Apabila ia keluar dan aku masih hidup ditengah-tengah kalian maka akulah yang melawannya.”

dajjal

Image: Internet

Yang demikian itu beliau ucapkan sebelum mengetahui secara jelas waktu keluarnya serta ciri-cirinya. Kemudian setelah itu beliau diberitahukan waktu keluarnya maka beliau pun mengabarkannya, berdasarkan asumsi bahwasanya ketidakjelasan tersebut disebabkan adanya kemungkinan terjadinya tanda-tanda akan munculnya Dajjal berkaitan erat dengan suatu syarat, sehingga apabila syara itu tidak ada, maka akan tergambarkan keluarnya dajjal tanpa adanya tanda-tanda yang muncul. Sama seperti rasa takut para Nabi dan Rasul dari siksa yang pedih padahal sudah tetap keterjagaan dan keamanan mereka. Seperti itu juga rasa takut (khasyyah) sepuluh sahabat yang telah dijamin masuk surga lewat lisan penghulu para rasul, Muhammad saw;

Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, Rasulullah saw bersabda;

أَلاَ اُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا عَنِ الدَّجَّالِ مَا حَدَّثَ بِهِ نَبِيٌّ قَوْمَهُ؟ أِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّهُ يَجِيْءُ مَعَهُ بِمِثَالِ الْجّنَّةِ وَالنَّارِ، فَالَّتِيْ يَقُوْلُ إِنَّهَا الْجَنَّةُ هِيَ النَّارُ، وَإِنِّيْ أُنْذِرُكُمْ كَمَا أَنْذَرَ بِهِ نُوْحٌ قَوْمَهُ

Maukah aku ceritakan kepada kalian sebuah hadits tentang Dajjal yang telah diceritakan oleh Nabi (sebelumku) kepada kaumnya? Sesungguhnya dia buta sebelah, dan sesungguhnya dia akan datang dan bersamanya permisalan surga dan neraka. Yang dia katakana sebagai surga, pada hakikatnya adalah neraka. Dan sesungguhnya aku memperingatkan kalian sebagaimana nabi Nuh as. memperingatkan kaumnya dengannya.” (HR Bukhari, 7138 dan Muslim, 2936)

Apabila ada yang bertanya “Mengapa beliau hanya menyebutkan Nabi Nuh as.? saya jawab karena Allah swt berfirman;

وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلا يَنْطَلِقُ لِسَانِي فَأَرْسِلْ إِلَى هَارُونَ (١٣)

Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku Maka utuslah (Jibril) kepada Harun.” (QS Asy-Syura: 13)

Ath-Thibi rah.a. menyebutkan, “Dalam hadits diatas terdapat indikasi bahwa ini akan terwujud – jika benar – bahwa semua Nabi sebelum beliau telah memperingatkan kaumnya, sehingga dibiarkan seperti makna zahirnya bahwa Nabi Nuh adalah yang pertama memberikan peringatan itu. Ini diperkuat oleh sebuah hadits,

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ بَعْدَ نُوْحٍ إِلاَّ أَنْذَرَ قَوْمَهُ الدَّجَّالَ

Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun setelah nabi Nuh, kecuali dia pasti memperingatkan kaumnya dari Dajjal

Dan Nabi Nuh didahulukan penyebutannya, karena dia adalah yang pertama kali ada diantara para rasul Ulul Azmi. Karena itu dalam ayat lain Nabi saw didahulukan penyebutannya atas Ulul Azmi yang lain, karena beliau melebihi mereka dalam hal derajat, yaitu firman Allah swt;

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا (٧)

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil Perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka Perjanjian yang teguh.” (QS Al-Ahzab: 7)

Lima Nabi tersebut adalah para rasul Ulul Azmi dan penyebutan mereka terkumpul pada dua ayat diatas. Wallahu A’lam.

[WARDAN/@abuadara]_________________

Disampaikan pada Talim Bakda Maghrib oleh santri kelas 5 TMI di Masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining pada tanggal 20 Februari 2013.