Profesor Doktor Adil bin Ibrahim bin Muhammad Rifai, pakar ilmu qira’at dari Universitas Islam Madinah, menyampaikan kuliah umum di hadapan seluruh santri dan guru Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor pada Kamis (14/11/2024). Kunjungan bersejarah ini menandai pertama kalinya pesantren kedatangan tiga syekh besar sekaligus.
Setelah memimpin shalat subuh berjamaah di Masjid Jami’ Kampus 1, Prof. Adil menyampaikan kuliah singkat kepada para guru tahfidzul Qur’an. Agenda setelah Shalat Dzuhur, rombongan syekh meninjau lokasi pembangunan Masjid Raya Darunnajah di Kampus 3, beliau didampingi oleh pimpinan pesantren, wakil pengasuh dan guru-guru.
Di lokasi pembangunan masjid, Prof. Adil memimpin doa bersama selama 15 menit untuk keberkahan dan kelancaran pembangunan Masjid Raya yang akan menjadi pusat kegiatan pendidikan Islam. “Semoga Allah melipatgandakan pahala bagi setiap yang berkontribusi dalam pembangunan rumah Allah ini,” ucap beliau dalam doanya.
Dalam ceramah utamanya di Aula Kampus 1, Prof. Adil menekankan bahwa Al-Qur’an dan bahasa Arab bisa dipelajari siapa saja dengan kesungguhan. “Al-Qur’an itu mudah dan mempelajari bahasa Arab itu mudah. Setiap orang yang mengucapkan bahasa Arab maka dia adalah orang Arab,” ujar guru besar ilmu qira’at Universitas Islam Madinah tersebut.
Prof. Adil mengapresiasi perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya Pesantren Darunnajah yang kini memiliki 22 cabang. Khusus di Darunnajah 2 Cipining terdapat 1.300 santri, sedangkan total santri di seluruh cabang Darunnajah mencapai 13.000 orang.
“Ini pencapaian luar biasa. Saya melihat semangat besar dalam mempelajari Al-Qur’an dan bahasa Arab di pesantren ini,” puji profesor yang telah membimbing ratusan mahasiswa dari berbagai negara di Fakultas Al-Qur’an Universitas Islam Madinah tersebut.
Setelah memberikan kuliah umum, Prof. Adil dan rombongan melanjutkan kunjungan ke Darunnajah 14. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dalam konferensi Taysir Ilmu Qira’at yang diselenggarakan melalui kerjasama IAIN, Universitas Tunisia, dan Universitas Pasundan.
Sebagai bentuk penghormatan kepada tamu istimewa ini, pesantren menyelenggarakan penyambutan khusus. Seluruh guru mengenakan seragam koko putih dan peci hitam untuk guru putra, serta gamis hitam dan kerudung krem untuk guru putri. Sementara para santri mengenakan koko putih dan gamis hitam sesuai gender masing-masing.

