Di era digital yang sarat tantangan, nama Dr. Toto A Atmojo, M.Kom, M.Si, MBA dikenal sebagai salah satu praktisi dan pakar keamanan siber Indonesia. Namun di balik kiprahnya sebagai pendiri perusahaan keamanan siber, konsultan teknologi informasi, dan pembicara di berbagai forum nasional, terdapat jejak pendidikan pesantren yang turut membentuk karakter dan perjalanan hidupnya.
Toto pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor. Meskipun tidak menyelesaikan seluruh masa pendidikan di sana, pengalaman selama kurang lebih dua tahun sebagai santri meninggalkan kesan dan pengaruh yang kuat dalam kehidupannya hingga saat ini. Ia tercatat sebagai anggota Ikatan keluarga Pesantren Darunnajah angkatan 6 (Assu’ada).
Hal tersebut tampak ketika Wakil Pengasuh Pesantren, Ustadz Nasihun Sugik, S.E., M.M., berkesempatan bersilaturahmi ke kantornya di bilangan Semanggi Jakarta. Sambutan hangat, bahasa yang santun khas santri, serta suasana kekeluargaan segera terasa sejak awal pertemuan. Bahkan ketika waktu Maghrib tiba, Toto berkenan menjadi imam shalat berjamaah. Sebuah pemandangan yang mengingatkan bahwa identitas kesantrian tidak selalu ditentukan oleh profesi seseorang, melainkan oleh nilai-nilai yang terus hidup dalam kesehariannya.
Salah satu hal yang menonjol dari sosok beliau adalah kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan. Jika sebagian orang menganggap pendidikan formal berakhir setelah memperoleh gelar tertentu, Toto justru menjadikan belajar sebagai bagian dari gaya hidup. Semangat inilah yang mengingatkan kita pada pesan para ulama tentang pentingnya menuntut ilmu sepanjang hayat.
Perjalanan akademiknya terbilang panjang dan mengesankan. Setelah menempuh pendidikan tinggi di bidang teknologi informasi, ia melanjutkan studi Magister Komputer di Universitas Budi Luhur. Tidak berhenti di sana, ia kemudian meraih gelar Magister Komunikasi dari London School of Public Relations (LSPR), dilanjutkan dengan gelar Master of Business Administration (MBA) dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kehausannya terhadap ilmu terus berlanjut melalui berbagai program pengembangan profesional, termasuk Accelerated Management Program di National University of Singapore (NUS), salah satu perguruan tinggi terbaik di Asia. Puncaknya, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral (Ph.D.) di bidang Strategic Management di BINUS University.
Selain pendidikan formal, Toto juga aktif memperkuat kompetensinya melalui berbagai sertifikasi internasional bergengsi. Di antaranya adalah Certified Information Systems Security Professional (CISSP) dan Certified Information Systems Auditor (CISA), dua sertifikasi yang diakui secara global dalam bidang keamanan informasi dan audit sistem informasi.
Melihat perjalanan tersebut, tidak berlebihan jika semangat belajar menjadi salah satu ciri utama dirinya. Seolah membuktikan bahwa prinsip thalabul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Semakin tinggi pencapaiannya, semakin besar pula keinginannya untuk terus belajar.
Kesuksesan profesionalnya kemudian mengantarkan Toto menjadi salah satu tokoh yang diperhitungkan dalam dunia keamanan siber nasional. Ia mendirikan perusahaan Defenxor yang bergerak di bidang keamanan informasi dan pengelolaan Security Operation Center (SOC), serta aktif memberikan edukasi kepada berbagai kalangan tentang pentingnya menjaga keamanan data dan sistem digital.
Pada forum internasional, Toto berkesempatan berbagi pengetahuan pada event Blackhat Europe tahun 2019 di London, yang merupakan konvensi keamanan siber global tempat para peretas dan peneliti dunia membongkar celah digital serta merumuskan strategi pertahanan mutakhir. Pada tahun 2023, ia kembali diundang untuk berbagi pengalaman mendirikan dan menjalankan SOC pada konferensi internasional ASEAN-JAPAN Cybersecurity Community di Tokyo.
Yang menarik, kecintaannya terhadap pendidikan pesantren juga terus berlanjut dalam kehidupan keluarga. Sebagai bentuk keyakinan terhadap pentingnya pembinaan karakter dan akhlak, beliau memilih untuk memesantrenkan anaknya di salah satu pesantren ternama di Indonesia. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa di tengah kemajuan teknologi dan modernisasi, pesantren tetap memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.
Kisah Toto menjadi bukti bahwa pesantren mampu melahirkan alumni yang berkiprah di berbagai bidang strategis. Dari lingkungan asrama sederhana di Cipining hingga menjadi pakar keamanan siber yang dikenal secara nasional, perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa nilai-nilai pesantren dan semangat menuntut ilmu dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi perubahan zaman.
Kepeduliannya terhadap almameter Pesantren Darunnajah 2 Cipining antara lain diwujudkan dengan beberapa kali donasi untuk pembangunan Masjid Raya Darunnajah 2 Cipining. Belum lama ini, di bulan Mei 2026 ia kembali berdedikasi dengan wakaf Al Qur’an berjumlah 1.000 eksemplar lebih. Oleh Departemen Pengasuhan Santri via Divisi Peribadatan, Al Qur’an tersebut sudah diposisikan serta dimanfaatkan di masjid kampus 1, masjid kampus 2 dan masjid kampus 3.

Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang jabatan, gelar, atau pencapaian profesional. Lebih dari itu, keberhasilan adalah kemampuan menjaga adab, mempertahankan semangat belajar serta tetap terhubung dengan nilai-nilai yang pernah ditanamkan oleh pesantren, yang pada akhirnya menjadi bekal agar kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Dan pada sosok Toto, hal-hal tersebut tampak berjalan beriringan dengan sangat baik.