Pak Kiyai Sapa Santri

Wardan [06/09/2013]. Pagi hari selepas subuh, Jumat, 06 September 2013, saat hiruk-pikuk dan gegap-gempita santri dalam ajang Jamrana XXVI, tetap laksanakan kegiatan rutin ngaji bareng Pak Kiyai.
Tidak lupa, awali sapaan pagi, Pak Kiyai cerahkan suasana dengan senandungkan kalimat-kalimat tayyibah. Dimaksudkan ajarkan kepada santri untuk membiasakan kebaikan secara terus-menerus, walau kecil dan sedikit. Sebab itu Allah lebih suka, bila dibanding pekerjaan banyak, namun sangat jarang aplikasinya. “Dan Sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.”
Barangkali, kalau kita bisa ambil istilah melayunya, “dikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Untuk menjadi sebuah bukit, tidak mustahil dari debu, atau segumpal tanah yang terus tiap saat, tiap waktu ditumpuk.
Pekerjaan menjadi ringan, tidak terasa berat, tidak membebani. Coba bandingkan, bila pekerjaan tersebut langsung dikumpulkan dan dipikul dengan banyak, bisa mungkin terangkat, meskipun sekali setelah itu hari-hari berikutnya enggan karena terasa bebannya.
Tema pagi ini, hemat saya (selaku pendengar sapaan jumat pagi) adalah “Memaknai Hidup untuk lebih berarti.”
Beliau sampaikan, bahwa hidup di dunia ini sesaat, sebentar, hanya menurut perhitungan jam saja. meskipun demikian, tidak jarang manusia mendamba hidup selama-lamanya, esok hari, minggu depan, bulan depan, tahun depan, bahkan seribu tahun lagi menginginkannya.
Pendek kata, sebagian besar di antara manusia ingin hidup sepanjang-panjangnya, selama-lamanya, bebas, tanpa batas.
Ada pula sedari buaian, “tufulah” sudah dipersiapkan oleh kedua orangtuanya. Diajarkan ilmu pengetahuan untuk penunjang kehidupan kelak saat dewasa, sehingga harapannya adalah mampu dan bisa meni’mati hidup, atau hidup lebih hidup (taste).
Pandangan orang yang kufur, tujuan hidup adalah untuk dinikmati, dihabiskan, berfoya-foya di dunia. Maka mereka berlomba-lomba untuk memulai membangkitkan generasi sejak awal meraih dan menggapai dunia.
Sementara orang beriman memandang, hidup adalah ujian, tantangan, cobaan, yang kenikmatannya sementara “fana”. Memang boleh menikmatinya, bahkan harus pula bercita-cita untuk mejadi sejahtera di dunia, “sa’adah fid dunnya”, tetapi pula tidak mengabaikan kesejahteraan hari berikutnya, “sa’adah fil akhirah.”
Hakikatnya kekayaan, kelezatan, keberkahan adalah titipan yang patut disyukuri. Syukur harta adalah membelanjakan di jalan Allah SWT, syukur ilmu adalah mengajarkannya, syukur sehat adalah membuktikan ketaatan, syukur kesempitan dengan kesabaran, dan seterusnya.
Coba kita perhatikan, kian hari seseorang kian menua dari segi usia dan melemah dari segi fisiknya.
Apabila yang diharapkan hanya kebahagiaan di dunia, kelezatannya, maka yang didapatkan adalah sia-sia. Bukanlah makin tua makin enak makanannya, tetapi makanan enak makin dilarang, makanan yang menggoyang lidah makin harus dihindari. Sebaliknya, makanan yang terkadang dibenci, malah harus menjadi menu utama.
Makin tua, fisik makin melemah, semakin memilih menu yang sesuai dengan hardware tubuhnya. Banyak organ menolak dengan sembarang makanan.
Ini pulalah kiranya yang harus diperhatikan setiap insan, semakin dewasa umurnya, maka harus semakin memilih, memaknai kehidupan sebenarnya.
Bukan malah mengerjakan sesuatu yang sia-sia, serampangan dalam menginsulin dirinya tanpa harus terscreaning lebih dahulu, sehingga tercap baginya “tua-tua keladi, makin tua makin jadi.”
Mereka kira, kehidupan di dunia adalah akhir dari segalanya. Serta-merta mencari kenikmatan, kelezatan fatamorgana.
Anjuran dalam Islam, hidup harus zuhud. Harus memaknainya dengan mengamalkan kebaikan-kebaikan perbuatan maupun ucapan. Menghidarkan diri dari hiruk-pikuk pencarian harta tanpa terkontrol, tanpa tujuan dan arah.
Boleh kita mencari harta, menjadi kaya, bahkan sangat dianjurkan. Itu adalah cita-cita besar dan pasti bisa digapai.
Nabi Muhammad SAW. kaya raya, tetapi beliau zuhud. Beliau peristri Khadijah dengan 20 ekor Unta pilihan dan 12 ons emar murni. Beliau juga santuni kerabat dan isteri-isteri beliau secara rutin, yang tidak kecil nilainya.
Tapi dengan kekayaan ini pula, beliau belanjakan di jalan Allah, mewujudkan syukurnya dengan menegakkan agama Allah, dengan cara menyantuni fakir-miskin, baitul maal, dan banyak lagi kegiatan sosial lainnya.
Para sahabat, Umar bin Khattab misalnya, menghibahkan atau mewakafkan ladangnya untuk kepentingan kaum muslimin yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Abu Bakar, bahkan sedekahkan seluruh hartanya di jalan Allah.
Siapa yang tidak kenal Utsman bin Affan, beliau pernah sumbang ribuan kuda untuk perang, menghilangkan dahaga masyarakat dari kekeringan dengan membangun sumur-sumur.
Ali bin Abi Thalib, kemenakan dan menantu Rasulullah SAW. rela menahan lapar, demi memberikan segenggam uang di tangan untuk kaum fuqoro yang dilanda kekeroncongan dan kekeringan tenggorkan.
Abdurrahman bin Auf, sahabat terkaya Rasul di antara sahabat-sahabat lainnya. Dalam sekali duduk dengan Rasul, beliau mampu menginfakkan hartanya tidak kurang dari 64 milyar (40 ribu dinar).
Menjadi kaya raya adalah impian semua orang. Sifat Allah Ar-Rozzaq (Maha Memberi Rizqi), Al-Ghoniy (Maha Kaya) dan Al-Mughniy (Maha Pemberi Kekayaan) yang ditanamkan kepada manusia menjadikan manusia ingin menguasai kekayaan.
Namun cara manusia mencapainya memiliki spektrum yang amat panjang. Mulai cara yang halal sampai yang menjurus kepada kesyirikan.
Pada zaman keemasan Islam (khoirul qurun), para sahabat Rasulullah SAW menguasai kekayaan dengan motivasi terbaik mereka, mengabdi kepada Allah. Dan tentu saja, rizqi yang mereka terima, hanya yang halal saja. Ciri mereka ada pada keteguhan dan kerja keras dalam berproduksi, namun sangat hemat dalam konsumsi. Inilah zuhud yang benar. Bukan dengan ber-miskin ria lalu melegitimasi kemalasannya dengan baju zuhud.
Orang beriman dalam memenuhi kebutuhan hajat banyak orang tidak riya, pamer, ingin dilihat orang lain, melainkan hany ingin dilihat Allah semata, diridloi-Nya dan dicintai-Nya.
Tidak seperti kondisi sekarang-sekarang ini, sudah tidak menjadi rahasia umum lagi, di tayangan telivisi, banyak kegiatan-kegiatan sosial diblowup, expose. Uangnya dihitung dengan detail, rupiah demi rupiahnya di hadapan kamera, dikampanyekan dan sebutkan siapa penyumbangnya, untuk dicatat dan diingat kebaikannya.
Maka yang harus dialakukan para santri, sebagai barisan dan bagian dari orang-orang yang insya Allah muttaqien, jangan sampai berbuat demikian. Bersembunyilah ketika berbagi, maksudnya niatkan karena Allah, karena harapan-Nya, bukan mengharap dunia.
Sekecil apapun perbuatan baik (perbuatan dan perkataan) maka tanmbatkan mencapai keridloaan Allah. Bisa jadi dari hal yang kecil menjadi sebab besar keridloaan Allah, bahkan bisa jadi dari hal kecil menjadi sebab besar mendapat murka Allah.
Ada suatu kisah, gara-gara seekor lalat menjadi sebab ia masuk neraka, karena ia telah syirik dan mensekutukan Allah.
Perlu diingat, sekecil apapun perbuatan baik dan buruk seseorang pasti akan berdampak dan berefek bagi dirinya.
             
“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan) nya.” “dan siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan) nya pula.”
Banyak orang yang berduyun-duyun dan berbondong-bondong ikuti ujian PNS, berpuluh-puluh ribu perebutkan hanya beberapa peluang saja. Maka haruslah diniatkan menjadi pengabdian kepada masyarakat dan bangsa, bukan malah sebaliknya, hanya sekedar menggapai kesejahteraan hidup saja, kesenangan belaka, sehingga pada akhirnya terjadi proses suap.
Pendidikan yang harus diajarkan semenjak dini kepada kaum “Shighar” dibiasakan dengan pembiasaan yang baik. Pembiasaan terhadap pendidikan agama, maupun lingkungan, niscaya besarpun akan senantiasa mengarah kepada kebaikan.
Jangan ada santri, alumni Darunnajah Cipining yang bermalas-malasan, lontang-lantung, mengandalkan okol saja, tidak berguna dan bermanfaat bagi masyarakat sekitatnya. Tetapi harus sebaliknya, hijrah, bergerak dan menjadi bagian terpenting pada lingkungan masyarakat.
Rizki bagi kaum muslim, banyak sedikit tidak menjadi masalah, harus disyukuri dan bukan untuk dikufuri. Sedikit bersyukur dan menjadi berkah, dibandingkan dengan banyak harta, tetapi menjerumuskan kepada penjara dunia dan penjara “Malaikat Malik.”
Biasa hidup berfoya-foya, ketika memasuki “Hotel Prodeo”, satu hari serasa satu tahun, dan kelak di akhirat satu hari serasa seribu tahun.
Sama seperti santri baru, hari-hari biasa di rumah diberikan pelayanan, semua serba berkecukupan, mudah, serba tidak ketat. Ketika masuk pesantren, semua serba diatur, serba nggak enak, harus dikerjakan sendiri, tidak bisa main game atau kesenangan-kesenangan lain.
Maka mereka digembleng di pesantren untuk lebih mandiri, membiasakan semua diatur dengan disiplin, memang serba nggak enak, tetapi penting dilaksanakan untuk membiasakan mereka memaknai hakikat hidup.
Di pesantren bisa dijadikan sebagai ladang bisnis kepada Allah, betapa tidak, bisa untuk bersedekah perbuatan dan perkataan.
Dari perbuatan, hal terkecil saja, ada sampah di jalan maka alangkah indahnya kita ucapkan “alhamdulillah”, dipungut dan dikembalikan ke tempat selayaknya.
Al-qur’an yang berserakan di masjid, bisa dirapihkan dan ditata kembali. Dari perkataan, sangat kondusif untuk melantunkan perkataan-perkataan yang baik.
Pembiasaan dari kecil-kecil seperti inilah akan membentuk kepribadian santri untuk berfikir teliti, cermat dan peduli terhadap kondisi. Kelak akan dibawa sampai dewasa, demikian terus melembaga pada dirinya.
Harus menjadi orang kaya raya, JADILAH KONGLOMERAT SEJATI, sebagaimana contohkan dan gambarkan kehidupan Rasulullah SAW. dan para sahabat, serta tabiin. [Mr. Song]