Ibadah & Cinta: Ketika Cinta Menemukan Jalan Pulang kepada Allah Ibadah & Cinta: Ketika Cinta Menemukan Jalan Pulang kepada Allah

Ibadah & Cinta: Ketika Cinta Menemukan Jalan Pulang kepada Allah

Oleh: Al-Ustadz Muhlisin Ibnu Muhtarom, M.Pd. Penulis buku “Diorama Asa & Cinta di Masa Corona, 33 Memoar Pasutri Santri dalam Menapaki Musim Pandemi”


Nonton bareng film Ibadah dan cinta yang proses pengambilan Scene film nya berada di pesantren Darunnajah 2 Cipining

Saya beruntung mendapat kesempatan menyaksikan lebih awal film Ibadah & Cinta dalam sebuah nonton bareng di BSD City. Film garapan Jastis Arimba, dengan salah satu produsernya Rendy Gunawan, ini menurut saya bukan sekadar film romantis bernuansa religi. Ia mencoba mempertemukan dua dunia: Melbourne yang modern dengan pesantren yang sarat nilai, Rico dengan Santun, cinta dengan iman, serta pencarian jati diri dengan pertanyaan yang lebih mendasar—untuk apa sebenarnya manusia hidup?

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026. Secara umum, sejumlah ulasan awal menilai kekuatan film ini terletak pada keberaniannya mempertemukan perbedaan budaya, keyakinan, keluarga, cinta, kehilangan, dan keikhlasan. Jastis Arimba sendiri menegaskan bahwa film ini bercerita bukan sekadar tentang percintaan, melainkan juga tentang keluarga, kehilangan, dan bagaimana seseorang belajar mengikhlaskan.

Ada pula penonton awal yang bahkan menilai Ibadah & Cinta sebagai karya terbaik Jastis Arimba sejauh ini, sementara ulasan lain melihat daya tarik film ini justru ketika cinta tidak lagi dipahami secara sederhana sebagai persoalan memiliki seseorang, melainkan sebagai perjalanan menemukan makna kehidupan.

Apresiasi juga datang dari ruang-ruang keagamaan. Dalam pemutaran perdananya, Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan menekankan bahwa cinta kepada manusia semestinya dapat menjadi jembatan menuju hakikat cinta kepada Allah.

Dari sisi produksi, pilihan Melbourne dan lingkungan pesantren juga menarik. Perbedaan kultur bukan sekadar dekorasi, melainkan dijadikan salah satu sumber konflik cerita. Bahkan pemeran Rico, Achmad Megantara, mengakui bahwa memahami cara berpikir tokoh yang agnostik menjadi tantangan tersendiri baginya.

Namun, justru karena film ini membawa nama Ibadah & Cinta, saya merasa ada beberapa hal yang masih bisa dielaborasi lebih dalam. Bukan untuk menjatuhkan, melainkan justru karena saya berharap film seperti ini tidak berhenti sebagai tontonan yang menghibur, tetapi benar-benar menjadi tuntunan yang mencerahkan.

1. Ibadah: Seharusnya Menjadi Jantung Cerita

Judul film ini sudah sangat fundamental: Ibadah & Cinta. Mengapa? Karena ibadah bukan sekadar salah satu aktivitas manusia—ibadah adalah tujuan asasi penciptaan manusia dan jin. Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Karena itu, menurut saya, tema ibadah dalam film ini sebenarnya masih sangat luas untuk dielaborasi. Ibadah mahdhah seperti shalat, zakat, puasa, umrah, dan haji dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Allah secara langsung. Sementara ibadah ghairu mahdhah jauh lebih luas dan kompleks: belajar, bekerja, mengajar, berkeluarga, menolong sesama, menjaga lingkungan, bahkan berbagai aktivitas kehidupan yang diniatkan karena Allah.

Di sinilah pentingnya dua syarat diterimanya ibadah: ikhlas karena Allah SWT dan ittiba’ kepada Rasulullah SAW, terutama dalam perkara ibadah mahdhah. Adapun dalam perkara ghairu mahdhah, ruang teknisnya lebih fleksibel mengikuti kondisi lingkungan dan perkembangan zaman, selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Dengan demikian, Islam benar-benar dapat tampil sebagai rahmatan lil ‘alamin—kasih sayang bagi seluruh alam. Bagi saya, ini adalah salah satu ruang pengayaan yang sangat potensial bagi film Ibadah & Cinta.

2. Shalat: Bukan Sekadar Ibadah, tetapi Solusi Kehidupan

Salah satu ibadah mahdhah yang cukup kuat muncul dalam film adalah shalat, dan saya menyukai bagian ini. Shalat dalam film sempat digambarkan dengan diksi yang dekat dengan konsep meditasi. Namun sebagai seorang guru pesantren, saya merasa ada satu lapisan makna yang jauh lebih dalam: shalat bukan sekadar meditasi seorang manusia untuk menenangkan dirinya, melainkan komunikasi seorang hamba dengan Rabb-nya. Shalat adalah mi’rajul mu’minin, mi’rajnya orang-orang beriman—dan lebih dari itu, shalat adalah solusi kehidupan.

  • Ketika kemarau panjang, ada shalat istisqa
  • Ketika bingung menentukan pilihan hidup, ada shalat istikharah
  • Ketika mempunyai hajat dan berharap pertolongan Allah, ada shalat hajat
  • Ketika ingin menjaga kesehatan dan menunaikan kewajiban sedekah setiap hari kepada sekitar 360 persendian tubuh, ada shalat dhuha
  • Ketika ingin mendekatkan diri kepada Allah dan meraih derajat yang mulia, ada tahajud dan qiyamullail

Dan masih banyak lagi shalat-shalat sunnah yang mengajarkan bahwa Islam tidak membiarkan manusia menghadapi persoalan hidup seorang diri. Shalat bukan pelarian dari kehidupan—shalat justru bekal untuk menghadapi kehidupan. Maka ketika Santun bertanya kepada Riko, “Bagaimana shalatmu?”, bagi saya pertanyaan itu jauh lebih dalam daripada sekadar pertanyaan tentang sudah atau belum mengerjakan shalat. Pertanyaan itu sesungguhnya adalah: bagaimana hubunganmu dengan Allah?

3. Ketika Shalat Menjadi Percakapan dengan Allah

Adegan ketika Santun beberapa kali menanyakan shalat Riko mengingatkan saya pada sebuah hadis qudsi yang sangat indah. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman (HR. Muslim):

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Hadis ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “shalat” dalam konteks tersebut adalah surah Al-Fatihah, bagian penting yang dibaca dalam shalat. Maknanya kurang lebih: Allah membagi shalat antara diri-Nya dan hamba-Nya menjadi dua bagian. Setiap kali hamba mengucapkan satu ayat Al-Fatihah, Allah membalasnya secara langsung—mulai dari pujian atas puji-pujian hamba, sanjungan, pengagungan, hingga pada penggalan “hanya kepada-Mu kami menyembah dan memohon pertolongan”, Allah menegaskan bahwa itu adalah perkara antara diri-Nya dan hamba-Nya, dan bagi hamba apa yang ia minta.

Membaca hadis ini dengan penuh kesadaran membuat shalat terasa sangat berbeda. Kita bukan sekadar membaca Al-Fatihah—kita sedang berdialog dengan Allah. Maka ketika shalat dilakukan dengan kesadaran seperti ini, bagaimana mungkin hati tidak berubah?

4. Cinta: Anugerah Terindah dari Sang Maha Pencinta

Kalau ibadah adalah tujuan penciptaan, maka cinta adalah salah satu anugerah Allah yang membuat kehidupan manusia menjadi demikian indah, sekaligus penuh dinamika. Dengan satu bagian saja dari rahmat dan kasih sayang Allah, dunia ini sudah demikian luar biasa, sedangkan Allah menyimpan 99 bagian rahmat-Nya untuk kehidupan akhirat. Karena itu, konflik cinta antara Santun, Riko, Ustadz Salman, Kiai Umar, dan tokoh-tokoh lainnya menjadi menarik untuk direnungkan, sebab persoalan cinta dan pilihan pasangan hidup ternyata bukanlah persoalan baru dalam sejarah Islam.

Saya teringat kisah Umar bin Khattab dan putrinya, Hafshah. Setelah suami Hafshah, Khunais bin Hudhafah, wafat, Umar menawarkan putrinya itu kepada Utsman bin Affan. Namun Utsman belum bersedia, dan Umar pun mengadu kepada Rasulullah SAW. Dalam riwayat yang masyhur, Rasulullah menyampaikan kabar gembira bahwa Hafshah akan mendapatkan pasangan yang lebih baik daripada Utsman, dan Utsman akan mendapatkan pasangan yang lebih baik daripada Hafshah. Rasulullah kemudian menikahi Hafshah, sementara Utsman menikah dengan Ummu Kultsum, putri Rasulullah SAW.

Umar sempat kecewa, tetapi ternyata Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik. Utsman menolak, tetapi ternyata Allah sedang menyiapkan pasangan yang lain. Dari sana kita belajar: tidak semua yang kita inginkan harus menjadi milik kita, dan tidak semua kehilangan adalah keburukan. Kadang Allah mengambil sesuatu karena Dia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik. Inilah salah satu titik temu antara cinta dan ibadah—cinta kepada manusia harus tetap berada di bawah cinta kepada Allah.

5. Pesantren: Jangan Hanya Menjadi Latar, tetapi Juga Menjadi Pesan

Sebagai guru di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, saya tentu memiliki perhatian khusus ketika melihat dunia pesantren diangkat ke layar lebar. Pesantren bukan sekadar gedung, sarung, peci, kitab, masjid, dan para santri—pesantren adalah sebuah ekosistem pendidikan yang di dalamnya ada adab, disiplin, keteladanan, kemandirian, kebersamaan, perjuangan, pengabdian, dan proses panjang membentuk manusia.

Karena itu, ketika pesantren masuk ke dalam film, saya berharap yang tampil bukan hanya estetika pesantren, melainkan juga etos pesantren. Bukan sekadar bagaimana santri berpakaian, melainkan bagaimana santri berpikir. Bukan hanya bagaimana ustadz berbicara, melainkan bagaimana seorang pendidik memberi keteladanan. Bukan sekadar bagaimana kehidupan pesantren terlihat dari luar, melainkan bagaimana nilai-nilai pesantren membentuk manusia dari dalam. Di sinilah saya melihat Ibadah & Cinta mempunyai peluang besar untuk memberikan kontribusi positif bagi citra dan pemahaman masyarakat terhadap pesantren.

6. Satu Catatan Fikih: Adegan Wudhu dan Tato

Ada satu hal kecil yang menurut saya layak menjadi catatan konstruktif. Dalam salah satu adegan, Riko terlihat berwudhu, dan tato pada tubuhnya tampak cukup jelas. Saya tidak bermaksud menghakimi tokoh Riko—justru sebaliknya, karena Riko digambarkan sedang menjalani proses perubahan dan mendekati kehidupan beragama, adegan tersebut sebenarnya dapat menjadi entry point pendidikan fikih yang menarik.

Namun perlu diluruskan: tato permanen yang tintanya berada di bawah kulit pada dasarnya tidak menjadi penghalang air wudhu, sehingga keberadaan tato permanen semata tidak membuat wudhu otomatis tidak sah. Yang menjadi masalah adalah apabila terdapat bahan atau lapisan di atas permukaan kulit yang menghalangi air sampai ke kulit. Justru karena film ini berpotensi ditonton jutaan orang Indonesia, termasuk masyarakat awam, akan sangat baik apabila perkara-perkara fikih yang tampil di layar diberikan sentuhan edukasi yang tepat. Tontonan sekaligus tuntunan—menurut saya, inilah salah satu tanggung jawab moral film religi.

7. Dari Cinta Menuju Ibadah, dari Ibadah Menuju Allah

Pada akhirnya, saya menangkap pesan penting dari film ini. Cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki—cinta bisa berakhir dengan menemukan makna. Cinta bisa membuat seseorang berubah, dan cinta bisa menjadi jalan menuju keikhlasan. Yang paling penting, cinta kepada manusia jangan sampai menjauhkan kita dari Allah. Justru cinta kepada manusia seharusnya menjadi salah satu jalan untuk mengenal, mencintai, dan mendekat kepada-Nya.

Di sinilah judul Ibadah & Cinta menurut saya menemukan relevansinya. Ibadah tanpa cinta kepada Allah dapat kehilangan ruh. Cinta tanpa ibadah dapat kehilangan arah. Tetapi ketika cinta dibimbing oleh ibadah, dan ibadah dihidupkan oleh cinta kepada Allah, keduanya dapat menjadi kekuatan luar biasa untuk membangun kehidupan. Sesungguhnya kita semua sedang berada dalam perjalanan yang sama: mencari jalan pulang kepada-Nya.


Selamat untuk seluruh kru, pemain, sutradara Jastis Arimba, produser Rendy Gunawan, dan semua pihak yang telah menghadirkan Ibadah & Cinta. Saya menyambut film ini bukan dengan kacamata seorang kritikus film, melainkan dengan kacamata seorang guru pesantren. Saya menikmati ceritanya, mengapresiasi ikhtiarnya, dan mencatat kekuatannya. Saya juga menyampaikan beberapa kritik dan catatan, sebab bagi saya karya yang baik bukanlah karya yang tidak boleh dikritik—karya yang baik adalah karya yang membuka ruang untuk direnungkan, didiskusikan, dan mudah-mudahan membuat penontonnya menjadi manusia yang sedikit lebih baik setelah keluar dari gedung bioskop.

Nonton bareng film Ibadah dan cinta yang proses pengambilan Scene film nya berada di pesantren Darunnajah 2 Cipining

Dan jika setelah menonton Ibadah & Cinta ada seorang anak muda yang kemudian bertanya kepada dirinya sendiri, “Bagaimana shalatku?”, lalu ia mengambil wudhu, berdiri menghadap kiblat, dan mulai berbicara dengan Rabb-nya—maka menurut saya, film itu telah melampaui fungsi hiburan. Ia telah menjadi jalan kecil menuju perubahan kehidupan.

Ibadah & Cinta. Cinta yang menemukan arah. Ibadah yang menemukan ruh. Dan manusia yang akhirnya menemukan jalan pulang kepada Allah.