Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema Nilai-Nilai Pendidikan Di Pesantren Dan Prakteknya Di Masyarakat

Alhamdulillah, kegiatan demi kegiatan telah dapat kita laksanakan dan dapat kita ikuti dan lewati. Berikutnya adalah kegiatan di luar kelas. Kalau kemarin anak-anak sudah mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas kemudian kegiatan ekstra kulikuler di luar kelas. Sudah ada kegiatan pengajian di bulan puasa. Berikutnya adalah kegiatan-kegiatan di masyarakat.

Anak-anak sekalian, kepergian kalian ke pesantren ini adalah untuk belajar, thalabul ilmi. Anak-anak sekarang ini kalau pulang ke rumahnya sudah membawa label sebagai santri. Berbeda dengan teman-temanmu yang bersekolah di lingkungannya, dia labelnya siswa atau siswi. Kalau kita labelnya adalah label santri. Santri berbeda dengan siswa-siswi, sekalipun sekolah di Tsanawiyah atau Aliyah di luar. Orang-orang memandangnya berbeda. Bahkan orang tua kita pun juga kadang-kadang berbeda di dalam memperlakukan anaknya yang santri dan yang bukan santri. Seakan-akan kalau sudah santri itu sesuatu yang putih bersih, sesuatu yang berharga dan bernilai. Tadi sudah disampaikan, barangkali cara berpakaiannya yang berbeda dan sebagainya. Tapi lebih dari itu adalah tingkah lakunya yang berbeda. Sekiranya anak-anak di rumah masih melakukan kegiatan- kegiatan atau berperilaku seperti di pesantren ini, sungguh anak-anak akan menjadi orang-orang yang sangat dimuliakan oleh lingkungannya. Misalnya jamaah lima waktu, begitu adzan sudah berangkat ke masjid, bahkan belum adzan pun sudah berada di shaf pertama di bulan puasa ini, apalagi ini adalah sepuluh hari terakhir. Tiap orang yang datang ke masjid melihatanya sudah ada, “Siapa itu?” Sudah barang tentu orang yang seperti ini akan sangat dihargai dan dimuliakan oleh orang yang melihatnya.
Kamu dibina di pesantren ini untuk menjadi generasi IMAMA. Kamu harus menjadi imam, pemimpin. Kamu harus menjadi orang yang bertakwa, muttaqin. Kamu harus menjadi orang yang alim, berpengetahuan. Dan kamu juga harus menjadi muballigh, orang yang mampu menyampaikan dakwah. Kamu juga dididik menjadi orang yang amil, orang yang mampu mengaplikasikan, mengamalkan ilmunya. Maka setelah digodok sekian lama ini, kamu akan berubah. Kamu sebagai seorang imam yang sekarang ini sekurang-kurangnya sudah harus mampu memimpin diri kamu sendiri. Kamu mampu menguasai hawa nafsu kamu, memimpin diri kamu, memimpin keinginan-keinginan kamu, memimpin perilaku kamu. Mulut harus dipimpin agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang, mata harus dipimpin, telinga harus dipimpin, semua anggota badan juga harus dipimpin agar tidak digunakan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt., tetapi sebaliknya hendaknya digunakan untuk menjalankan apa saja yang Allah perintahkan. Target ini harus sudah tercapai. Berikutnya bolehlah nanti kamu menjadi mubaligh dan sebagainya, tapi target pertama adalah kemampuan kamu memimpin diri sendiri sudah terlihat nanti di rumah. Kalau tidur tidak lagi dibangunkan. Untuk bangun subuh ataupun sahur tidak lagi dibangunkan. Shalatnya tidak perlu disuruh oleh orang lain. Bahkan kalau bisa kamu harus bisa memimpin orang lain, mengingatkan adik, orang tua kamu dan sebagainya untuk hal-hal yang baik.
Ini yang kita harapkan; pimpin semua, tanganmu, kakimu, pimpin semua untuk melakukan hal-hal yang baik. Di rumah pun jangan sampai kita tidak membantu orang tua. Saya tidak setuju dengan ungkapan bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah. Tidur kok ibadah. Maka gunakan anggota badan kita dari mata, mulut, telinga, tangan, kaki untuk melakukan hal-hal yang baik. Itu baru ibadah. Itupun harus diniati mengharapkan balasan dari Allah. Kalau tidak diniati, tidak menjadi ibadah. Kamu melakukan kebaikan tapi niatnya untuk mendapatkan gaji dan sebagainya, maka itu tidak disebut ibadah. Niatilah untuk mendapatkan ridla Allah, balasan dari Allah, itu baru ibadah. Perbuatan apapun yang kamu lakukan, yang kamu ucapkan, bahkan apapun yang kamu pikirkan, selagi itu perbuatan-perbuatan baik dan diniati untuk mendapatkan balasan dari Allah, maka itu merupakan ibadah. Pimpin anggota badan kamu, akal pikiranmu, hatimu untuk melakukan hal yang baik. Kalau di rumah kamu mampu seperti itu, maka akan tampak berbeda; tanpa disuruh sudah berangkat jamaah sendiri, bahkan mengajak teman-temannya dan sebagainya. Setelah shalat saat teman-temannya bubar, ia malah mengambil Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an. Pimpin dirimu sekurang-kurangnya seperti yang ada di pesantren ini, maka kamu akan mulia di sisi Allah dan di sisi manusia lain.
Kedua, di pesantren ini kamu dididik, dibina, dibimbing agar menjadi orang yang bertqwa, muttaqin. Orang yang bertakwa itu yang bagaimana? Orang yang selalu melaksanakan apa saja yang Allah perintahkan dan tidak mau melakukan apa yang dilarang oleh Allah, sekecil apapun. Kalian sudah tahu sekarang apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Selama bulan puasa di masjid ini ustadz terus-menerus menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Misalnya shalat itu seperti apa, apa saja yang dilakukan. Kamu sudah tahu shalat sunah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat malam/tahajjud, bahkan shalat hajat. Itu semua diperintahkan agar kita melakukannya. Apabila kita selalu berusaha melakukan apa saja yang Allah perintahkan, – segala macam perbuatan yang baik-baik yang Allah perintahkan kita laksanakan, – maka kita akan menjadi orang yang bertakwa. Bahkan, puasa saja harapan akhirnya adalah menjadi orang yang bertakwa.
Apa sih kehebatan takwa? Kehebatan takwa antara lain; orang yang bertakwa tidak akan pernah mendapatkan kesulitan dalam kehidupan. Ia tidak akan pernah mengalami kesulitan saat menghadapi ujian, ketika harus mencari rizki, saat bekerja, ketika mengikuti testing, dan sebagainya. Itu orang yang bertakwa. Semua persoalan yang dihadapinya dimudahkan oleh Allah Swt. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, akan semakin mudah pula ia dalam menjalani kehidupan ini. Tetapi sebaliknya, apabila ketakwaan orang itu rendah apalagi tidak ada, maka orang ini masih akan menghadapi berbagai macam kesulitan dalam hidup ini. Bisa saja kesulitan dalam ekonomi, pekerjaan, kehidupan, keuangan, dan sebagainya. Tetapi kalau seseorang itu ketakwaannya tinggi, maka ia akan dimudahkan. Ia tidak hanya dimudahkan dalam segala hal, tapi rizkinya juga datang dari mana-mana, tidak hanya dari satu sumber. Misalnya, pegawai negeri rizkinya hanya dari pemerintah saja, gaji bulanan. Guru dari suatu lembaga swasta dia hanya mendapatkan rizki dari lembaga itu saja. Tidak demikian bagi orang yang ketakwaannya tinggi, dia akan mendapatkan rizki dari mana-mana. Bahkan dari tempat yang tidak pernah terpikirkan pun akan muncul rizkinya. Maka ketakwaan harus kita tingkatkan terus. Sekalipun kamu libur di rumah bukan berarti ketakwaan harus turun. Santri yang tadinya rajin tarawih di pesantren, saat di rumah ia tidak tarawih. Yang tadinya rajin membaca al-Quran di pesantren ini, di rumah tidak lagi membaca al-Quran. Yang tadinya shalat jamaah terus di pesantren, di rumah tidak pernah shalat berjamaah. Kalau seperti itu, kesulitan demi kesulitan akan datang menghampirimu. Kamu akan dijemput kesulitan, musibah-musibah, dan sebagainya. Maka bebaskan diri kita, selamatkan diri kita, jangan sampai kita banyak mendapatkan kesulitan dalam hidup.
Apa yang sudah dipelajari di pesantren ini praktekan. Perbuatan-perbuatan baik yang diajarkan di pesantren ini praktekan! Tadi disampaikan oleh ustadz Mufti, birrul walidain, misalnya, bagaimana berbakti kepada orang tua. Anak-anak mungkin tidak terlalu tahu, tidak ingat, bagaimana orang tua kita merawat kita dari kecil. Saat kamu ingin makan tapi belum bisa, orang tuamu dengan kasih sayangnya menyuapi. Saat kamu malam-malam buang air besar, orang tuamu dengan senang hati, dingin-dingin malam, bangun nyebokin. Kalau kamu sakit tidak sembuh-sembuh, – batuk, pilek, mencret, sudah diobati berkali-kali tidak sembuh juga, – orang tua kamu tidak kesel. Mereka tidak berpikir, “Buang saja kalau begitu.” Mereka tidak pernah seperti itu. Dengan kasih sayangnya kamu diurus dengan sabar. Kamu sakit, orang tua kamu juga ikut sakit. Kamu menangis malam-malam, orang tua kamu tidak bisa istirahat. Maka sekarang waktunya kamu membela orang tuamu, membantu, meringankan beban, menghargai, dan menghormati orang tuamu. Jangan kau bantah perintah-perintahnya, selagi perintah-perintah itu adalah perintah-perintah yang baik. Anak boleh tidak taat kepada orang tua bila perintah orang tua itu bertentangan dengan agama.

لا طاعة في معصية الله

Tetapi selagi perintah-perintahnya itu baik, maka orang tua wajib ditaati. Misalnya kamu disuruh mengepel, “Anak putri, tolong lantai ini dipel.” Kalau perlu jangan sampai diperintah, sudah tahu apa yang biasa dikerjakan oleh orang tua, kerjakan saja. Laki-laki pun juga demikian, bagaimana caranya jangan sampai mengganggu orang tua, usahakan meringankan beban orang tua, jangan membuat rumah berantakan, mengobrak-abrik segala macam dan tidak mengembalikan pada tempatnya, dan sebagainya. Ini sebagai aplikasi atau praktek kamu yang selama ini sudah diajarkan. Kalau itu dipraktekkan dengan benar, kamu akan menjadi orang yang dimuliakan oleh keluargamu, dimuliakan oleh siapa saja yang melihat kamu, bahkan oleh Allah Swt.
Anak-anak sekalian, diharapkan juga di dalam rumah itu, kita tidak hanya berbuat baik kepada orang tua, tetapi juga harus berupaya bagaimana berbuat baik kepada saudara kita. Misalnya, bapak kita mempunyai adik dan kakak. Kakak dan adik bapak mempunyai anak. Ibu juga demikian. Mereka itu adalah famili kita. Kita harus menjalin hubungan yang akrab dengan mereka. Kalau ada apa-apa, merekalah yang akan membantu kamu. Jangan diputuskan persaudaraan kita dengan orang itu. Itu rahim kita. Justru jalin hubungan seakrab mungkin. Anak putri tidak boleh mengurung diri. Karena merasa sebagai wanita kemudian tidak mau keluar rumah. Itu salah juga. Yang tidak boleh keluar rumah itu adalah keluar rumah yang bercampur dengan laki-laki. Misalnya, wanita menonton layar tancap, menonton dangdutan, perempuan menonton sepak bola, atau menonton laki-laki bermain sepak bola. Itu yang tidak layak dilakukan oleh seorang wanita. Tetapi kalau kita keluar rumah untuk silaturrahim itu adalah anjuran agama. Itu adalah perintah agama. Jangan keluar kluyuran dengan laki-laki ke mall-mall, misalnya. Itu yang dilarang. Kalau keluar dengan adiknya dan kakaknya itu tidak apa-apa. Tetapi jangan keluar dengan orang lain. Silaturrahim diperintahkan oleh agama. Bahkan dengan silaturahim kita akan mendapatkan banyak rizki dan diberi panjang umur.

Anak-anak sekalian, mari kembangkan silaturrahim. Hari raya adalah hari bersilaturrahim. Kita harus mengutamakan saudara-saudara kita. Lakukanlah silaturrahim karena dengan silaturrahim kita akan mendapatkan banyak pengetahuan, informasi, bahkan mendatangkan rizki.
Anak-anak sekalian, tadi saya mengatakan bahwa kita menjadi orang yang muttaqin; orang yang berusaha untuk menjalankan perintah Allah dan menghindari apa yang dilarang oleh Allah sekecil apapun. Di samping itu dalam misi kita juga kita harus menjadi orang yang berpengatahuan, orang yang alim. Kehidupan kamu nanti ditentukan oleh iman dan ilmu. Bila iman kamu kuat akan tetapi ilmumu rendah, maka posisi kamu tidak akan tinggi. Mungkin kamu akan dihormati oleh orang lain karena jujur, taat beragama. Tetapi karena ilmumu rendah, maka posisi kamu tidak tinggi. Padahal yang kamu inginkan adalah menjadi orang yang terhormat dengan posisi yang tinggi. Hanya orang-orang yang beriman dan berilmu tinggi yang akan dinaikkan derajatnya oleh Allah. Sekalipun tidak bersekolah, tidak masuk kelas, bukan berarti kamu libur; tidak belajar. Rasulullah Saw. dulu tidak pernah belajar di kelas, tidak pernah sekolah, tetapi Rasulullah Saw. berpengetahuan tinggi. Maka intinya adalah belajar. Dengan cara apa? Kamu bersilaturrahim itu merupakan cara belajar. Kamu bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain itu juga sarana belajar. Bahkan di rumah pun kamu harus meningkatkan terus pengetahuanmu baik dengan bergaul maupun dengan membaca. Sekarang ini membaca adalah persoalan yang mudah sekali karena banyak sekali bahan bacaan. Bahkan dengan internet kita bisa mencari buku apapun. Sekarang ini hampir setiap orang memiliki HP dan komputer karena harganya sudah terjangkau sehingga kita bisa belajar lebih mudah. Mau belajar tentang sejarah Islam, ada. Mau belajar tentang akidah, ada. Mau belajar tentang fiqih, ada. Semuanya ada, mudah, dan cepat.
Jadi di rumah tidak boleh tidur saja. Kebanyakan anak-anak kalau pulang, tidur saja. Tidak ada istilah “tidur itu ibadah”. Kecuali niatnya, “Saya akan tidur agar nanti dapat bangun malam,” mungkin itu akan bernilai ibadah. Tetapi kalau tidurnya saja tidak berdoa, maka itu bukan termasuk ibadah. Jadi kita harus belajar. Kalau kita tidak membaca, banyaklah bertanya. Ilmu yang dimiliki ayah dan ibu kamu itu banyak sekali. Bertanyalah nanti kamu akan banyak mendapatkan pengetahuan. Pengalaman mereka luar biasa. Belum seberapa yang kamu ketahui dari pengalaman orang tua. Korek terus, tanya terus, pelajari terus, sehingga saat mereka sudah tidak ada lagi masih ada ingatan; dulu ada bapak begini, kata ibu begini. Jangan sampai punya orang tua dibiarkan, tidak dikorek ilmunya. Orang tua kita banyak ilmunya. Mungkin ilmu yang dimilki orang tua kita tidak dimiliki oleh orang lain. Pengalaman-pengalaman orang tua kita harus dipelajari. Sebagai santri Darunnajah kita harus belajar di mana saja kita berada. Di dalam mahfudzat,

خير جليس في الزمان كتاب

“Sebaik-baik teman duduk kapan saja adalah buku.” Kalian harus punya buku. Ketika berbaring ada buku dibawa, saat duduk ada buku yang dibawa, pelajari hal-hal yang mungkin dipelajari di pesantren ini agar ilmunya lebih matang dan lebih mantap. Dan pelajaran juga apa yang belum sempat dipelajari di pesantren ini karena kesibukan. Apalagi kalau itu merupakan bagian dari hobi kamu, atau kelebihan kamu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Silahkan dipelajari bahkan didalami dari orang-orang yang memiliki pengetahuan yang sama. Jadi jangan tidur saja di rumah. Kita harus menambah ilmu. Sebagai santri Darunnajah kita harus siap menjadi pemimpin, siap menjadi orang yang bertakwa, juga menjadi orang yang berilmu. Sebagai santri Darunnajah kita juga harus siap menyampaikan dakwah Islamiyah, siap untuk menjadi mubaligh. Bagaimana kamu masih kecil menyampaikan pada orang lain? Dakwah itu tidak selalu harus dengan pidato. Kalau dakwah itu menunggu bisa pidato, harus belajar muhadharah dulu, dan itu terlalu lama. Dakwah bisa saja dengan apa saja yang baik yang kamu lakukan dan ditiru orang lain. Itu termasuk dakwah. Kamu datang ke masjid setengah jam sebelum adzan, kemudian kamu shalat, membaca Al-Qur’an, shalat sunnah, jamaah shalat fardlu, tanpa mengatakan pada orang lain, ternyata itu juga termasuk dakwah, dakwah bil haal (dakwah dengan tindakan). Dulu ada wali murid yang saat memasukkan anaknya ke pesantren ini bercerita. Ditanyakan, “Bapak tahu Darunnajah ini darimana?” Kalau sekarang, orang tua bilang karena mereka buka-buka di internet. Kalau bapak yang tadi menjawab, “Saya ketua DKM sebuah masjid di Lebak Bulus. Di masjid itu selalu ada anak kecil yang berada di shaf pertama. Saya selaku pengurus masjid ingin tahu siapa anak itu.” Akhirnya saya menyapanya, “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam,” jawabnya. Saya tanya, “Adik dari mana?” “Sebelah, pak” “Siapa bapak kamu?” “Pak ini, fulan.” “Kok kamu tidak seperti yang lain, kamu belajarnya di mana?” “Di pesantren, pak.” “Pesantren mana?”, “Darunnajah Cipining.” Sebab beliau juga tahu banyak anak-anak pesantren di daerah situ. Kalau masa liburan, mereka juga pulang ke rumahnya. Tetapi mereka tidak seperti anak ini. “Dimana Darunnajah Cipining itu?” “Di Bogor, pak.” “Bogornya mana?” “Bogor masih ke barat, pak. Jauh di hutan.” Akhirnya bapak tersebut berpikir, “Apakah ini karena anaknya yang baik ataukah karena pesantrennya yang baik?” Sebab kalau dari pesantren, anak-anak sini juga banyak yang dari pesantren. Akhirnya ia melakukan survey ke sini. Ia pun tertarik dan memasukkan anaknya, anak tetangganya, dan anak ketua RT-nya, semuanya dimasukkan ke sini. Itu merupakan bentuk dakwah tanpa bicara. Ia tidak pernah mengajak, “Pak, masukkan saja ke Darunnajah Cipining.” Tapi, dengan perilaku seperti itu orang tertarik. Kalau kemudian ada orang masuk Cipining, sedangkan di Cipining ini dipelajari ilmu agama, itu adalah dakwah islamiyah.
Pada masa awal masuknya Islam ke Indonesia dakwahnya juga tidak melalui pidato. Islam dibawa oleh para pedagang dari Gujarat ke Indonesia. Mereka datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah, untuk menjual permadani, minyak wangi, dan lain sebagainya ke sini. Namun karena saat tiba waktu Zuhur mereka mengerjakan shalat. Ketika mereka berjanji, mereka menepatinya. Mereka menghormati orang lain. Dengan cara seperti itu meskipun tanpa pidato banyak orang yang tertarik. “Baik sekali orang itu.” kata penduduk setempat. “Lain dengan orang kita. Kalau bertemu, mereka selalu mengucapkan, ‘Assalamu’alikum,’ berjabat tangan.” “Bahkan, ia selalu menghormati tamunya.” “Ia selalu aktif mengerjakan shalat.” dan lain sebagainya. Akhirnya orang ingin mengetahui apa sih Islam itu? Dakwahnya hanya melalui cerita. Akhirnya orang Indonesia, yang awalnya agama Hindu dan Budhanya sudah kuat, bahkan agama Kristen juga sudah lebih dahulu dibawa oleh Belanda, memeluk agama Islam dan berkembang dengan sangat cepat.
Agama Kristen masuk ke Indonesia pada tahun 1500-an. Sedangkan Islam ada sejak zaman majapahit, dan perkembangannya cepat sekali. Padahal agama orang Indonesia pada mulanya adalah Hindu dan Budha. Namun semuanya terpinggirkan. Begitulah dakwah itu tidak harus dengan mulut, tidak harus dengan pidato. Karena itu bagaimana anak-anak sini bisa berdakwah? Rajin ke masjid, tidak perlu dikejar-kejar, rajin ke masjid membaca al-Quran. Ustadz belum pernah mendengar siswa/siswi Darunnajah membaca al-Quran di masjid sini maupun masjid sana, hanya orang-orang tua saja yang membaca. Kalau adzan, sudah ada siswa yang melakukan. Tapi kalau membaca al-Quran, masih orang-orang tua. Mestinya anak-anak sekitar sini harus membaca al-Quran di masjid, terutama yang putra. Itu sebenarnya juga merupakan dakwah.
Begitulah anak-anak sekalian, sebagai santri Darunnajah sekalipun libur bukan berarti libur itu menganggur. Tapi kita masih mempunyai macam-macam kegiatan. Ada dakwah dan lain sebagainya. Dari sisi yang lain, kita juga harus mengamalkan ilmu. Percuma saja kita belajar kalau kita tidak mengamalkan ilmu kita. Apa saja yang sudah kita ketahui hendaknya kita praktekkan. Kita sudah mengetahui tentang shalat sunah, kita praktekkan. Apa saja yang baik kita praktekkan, kita aplikasikan di dalam kehidupan.  Percuma saja kita mempunyai ilmu kalau tidak diamalkan. Di dalam mahfudzat kelas satu,

العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر

Contoh, orang berusaha menanam rambutan di kebunnya sebanyak-banyaknya. Rambutan itu ditunggu sampai sepuluh tahun tidak kunjung berbuah. Sementara kebun-kebun yang lain dalam waktu tiga tahun sudah berbuah. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh orang yang menanam? Ia mungkin akan menebang pohon-pohon rambutan tersebut. Ia akan menyesal. Maka jangan sampai kamu mempunyai ilmu tidak diamalkan. Kamu sudah diajari bahwa shalat jama’ah itu lebih utama daripada shalat sendiri. Pahalanya juga tidak sama dengan shalat sendiri. Tapi kamu tidak pernah melakukan. Kalau seperti itu percuma saja. Antara yang belajar di Darunnajah dengan yang tidak belajar di Darunnajah sama saja. Yang tidak belajar di Darunnajah tidak pernah shalat. Yang belajar di Darunnajah tidak shalat juga. Na’udzubillah yang seperti itu. Kamu harus beda. Masak gelas yang diisi dengan kopi dan gelas yang diisi dengan cendol sama? Jelas tidak sama. Otak kamu yang di pesantren ini diisi dengan pelajaran agama seperti ini tentu berbeda dengan akal pikiran teman-teman kamu yang tidak diisi dengan pelajaran agama seperti ini. Tetapi kalau kamu setelah belajar di pesantren ini ibadahnya sama saja dengan orang-orang yang tidak belajar di pesantren, ya seperti antara gelas yang isinya cendol dan gelas yang isinya air putih kok sama. Seharusnya tidak sama. Gelas itu kalau berisi air putih, kalau dituangkan juga pasti akan keluar air putih. Kalau gelas itu berisi kopi, ketika dituangkan, yang keluar pasti kopinya. Masak sudah diisi dengan pengetahuan agama sekian lama di pesantren ini sejak kelas satu sampai kelas enam kok perilakunya sama saja dengan orang-orang yang tidak belajar agama di pesantren ini atau dengan orang-orang yang belajar umum di luar. Kalau ini terjadi pasti ada sesuatu yang salah. Apa mungkin gelasnya yang kotor? Kalau gelas itu kotor, meskipun diisi dengan air putih, tidak akan tampak putih. Air yang putih itupun akan terkena kotorannya. Kalau kamu sudah belajar di pesantren ini perilakumu masih sama saja dengan yang belajar di sekolah umum, berarti kamu itu kotor. Ibarat gelas, gelas yang kotor. Ibarat teko, teko yang kotor. Biarpun diisi dengan air bersih, tetapi karena dalamnya kotor, air tersebut juga akan menjadi keruh. Perumpamaan orang yang belajar di pesantren ini sedangkan perilakunya sama saja dengan yang tidak belajar di pesantren – seperti yang belajar di sekolah umum, misalnya – seperti teko yang kotor sekalipun diisi dengan air bersih hasilnya akan tetap kotor. Apalagi diisi dengan air kopi. Dari warnanya mungkin tidak masalah, tapi rasanya tentu bukan kopi lagi. Maka kita wajib mengamalkan ilmu itu. Setinggi apapun ilmu itu kalau tidak diamalkan tidak ada artinya, sia-sia saja, dan tidak pula bisa mengangkat derajat orang tersebut. Misalnya, seseorang kuliah di teknik industri. Tiap hari ia diajari bongkar pasang mesin, manajemen industri, dan lain-lain yang berhubungan dengan teknik di dalam industri. Ternyata setelah ia mendapatkan gelar sarjana, ia tidak mengamalkan apa yang telah dipelajarinya itu. Misalnya, ia bekerja sebagai kuli bangunan, tukang aduk, atau tukang batu, tetap saja derajatnya tidak akan bisa tinggi karena ilmunya tidak diamalkan. Banyak sekali yang seperti ini. Ia tidak akan dihargai orang karena ilmunya tidak diamalkan. Ilmu yang bisa mengangkat derajat seseorang itu apabila ilmu tersebut diamalkan, di samping harus disertai dengan keimanan. Tidak ada gunanya nilai semestermu seratus terus dan meraih tingkat pertama, kalau kamu tidak mampu mengamalkan ilmumu. Maka ilmu itu harus diamalkan, terutama ilmu agama. Ilmu matematika, misalnya, bagaimana cara mengamalkannya? Kita bisa berpikir logis, bisa menghitung, melakukan sesuatu dengan penuh perhitungan, hasilnya minus atau plus, dan lain sebagainya. Jangan sampai ilmu itu dipelajari hanya untuk ujian. Memang benar ujiannya lulus, tapi kalau setelah lulus ilmunya tidak diaplikasikan, ia tidak akan bisa mendapatkan kehormatan, derajatnya tidak akan terangkat, ia juga tidak akan bisa menikmati hasil dari ilmunya. Misalnya, seseorang belajar di jurusan kimia yang mungkin nanti ia akan bisa membuat aneka obat, tetapi setelah lulus kerjanya hanya sebagai kuli bangunan, kerjanya sebagai tukang panggul, ia tidak akan dihargai orang, tidak akan dihormati orang. Misalnya, kamu sekolah di SMK sini. Kamu susah payah mempelajari teknik komputer, bahkan kamu tidak mau tidak lulus. Kamu juga ingin nilai yang baik. Kalau setelah lulus SMK kamu hanya bekerja sebagai pelayan di toko, atau bekerja di bangunan, atau bekerja di tempat yang tidak ada hubungannya dengan SMK komputer, kamu tidak akan dihormati orang, tidak akan dihargai orang. Kalau seperti itu, rugi. Kalau ilmu tidak diamalkan, hanya rasa capek belajar sekian lama yang didapatkan. Belajar ilmu sekian lama kemudian tidak diamalkan tidak akan bisa mengangkat derajat kamu. Contoh, karena pengaruh teman, anak-anak putri belajar komputer supaya nanti bisa menjadi sekretaris, supaya bisa diterima di perusahaan sebagai operator komputer. Setelah mendapatkan gelar sarjana, ia menikah dengan seorang lelaki yang kebetulan tinggal di suatu daerah yang di situ belum ada PT yang memerlukan tenaga untuk operasional komputer. Di sana juga belum ada kursus yang mungkin bisa ditempati mengajar. Padahal ia telah membayar mahal untuk kuliahnya sampai dua puluh juta. Belum lagi persemester ia juga membayar mahal. Belum lagi transportasi bulanannya. Setelah selesai kuliah ia hanya menjadi ibu rumah tangga, hanya di dapur, kasur, dan sumur, hanya berkisar itu saja. Bagaimana ilmu komputernya yang dipelajari dengan nilai A semua? Dengan membayar mahal? Pokoknya kalau ilmu tidak diamalkan, ia benar-benar merugikan. Maka anak-anak di pesantren ini setelah mengetahui sesuatu yang bisa diamalkan, amalkan. Apalagi ilmu agama. Kita akan rugi, kalau kita tidak cepat mengamalkan ilmu agama. Misalnya, shalat jama’ah. Kamu rugi kalau kamu sudah tahu bahwa orang shalat berjama’ah itu pahalanya besar, tetapi kamu tidak mau shalat berjama’ah, itu rugi. Semakin tambah hari umur kamu semakin berkurang. Semakin bertambah banyak umurnya, semakin berkurang jatah sisa umurnya. Kamu jangan bersenang-senang! Kalau misalnya jatah umurnya enam puluh tahun dan sekarang sudah empat puluh tahun, berarti tinggal dua puluh tahun lagi. Kalau sekarang sudah lima puluh sembilan tahun, berarti tinggal satu tahun lagi. Jangan menunda-nunda waktu! Sekecil apapun hal yang baik, lakukan! Melakukan kebaikan-kebaikan itu ibarat menanam. Semakin banyak kamu melakukan kebaikan, akan semakin banyak pula tanaman kamu. Suatu saat nanti kamu akan memanen. Apa yang dinikmati seseorang sekarang ini, terutama yang sudah dewasa seperti para ustadz ini, adalah hasil daripada tanamannya sebelumnya. Kalau sebelumnya banyak melakukan kebaikan-kebaikan, sudah barang tentu sekarang ia akan menikmati buah dari kebaikan tersebut. Apalagi Allah Swt. sudah berjanji bahwa setiap kebaikan yang dilakukan seseorang akan dibalas oleh Allah Swt. dengan sepuluh kebaikan. Istilahnya setiap butir jagung yang kita tanam akan dibalas oleh Allah Swt. dengan beberapa butir jagung. Semakin banyak tanaman yang kita tanam, akan semakin banyak pula hasil yang kita dapatkan. Begitu pula jika kita banyak melakukan kebaikan, maka nanti kita juga akan banyak memanen kebaikan. Maka anak-anak diharapkan nanti di rumah melakukan apa saja yang telah diajarkan. Sudah bisa membaca al-Quran, teruskan membaca al-Quran. Al-Quran tidak sekedar dibunyikan huruf-hurufnya yang kemudian kita akan mendapatkan pahala. Tetapi al-Quran juga harus dikaji, dimengerti artinya, yang kemudian juga dipraktekkan. Kamu masih perlu waktu untuk bisa mendalami al-Quran. Bukan berarti sudah final kalau kamu sudah bisa membacanya. Tidak. Sudah bisa membacanya, teruskan. Membacanya sendiri itu dapat pahala. Tetapi pelajari lebih dalam lagi supaya bisa mengetahui petunjuk-petunjuk Allah Swt. di dalam al-Quran itu. Kita tidak akan keliru dalam hidup apabila kita mengikuti petunjuk-petunjuk Allah Swt.
Anak-anak sekalian, inilah yang kita harapkan dari anak-anak ketika nanti di rumah; tetap belajar karena memang umur anak-anak ini adalah umur yang produktif untuk belajar sekalipun belajar menurut Islam itu dari lahir sampai ke liang lahat. Tetapi umur anak-anak ini adalah umur yang produktif. Ketika masih anak-anak rajin belajar, maka ketika sudah tua nanti anak-anak tinggal menikmati hasil belajar. Maka pada masa liburan jangan lupa terus tingkatkan belajar. Aplikasikan dan praktekkan apa saja yang sudah dipelajari.
Anak-anak sekalian, hal lain yang perlu saya sampaikan; anak-anak nanti di rumah akan banyak mendapatkan hal-hal baru dari sudut pandang setelah kita mengetahuinya. Jadi berbeda dengan dulu saat kita berangkat ke pesantren. Sekarang saat kita kembali ke rumah situasinya akan berbeda. Kalau dahulu barangkali ketika dipanggil orang tuanya, diam saja tidak mau menjawab. Kalau sekarang yang dilakukan masih seperti dulu lagi, pasti akan mendapatkan sikap yang berbeda dari orang tua. Sekarang ini hendaknya saat dipanggil oleh orang tua mungkin bisa menjawab, “Labbaik,” misalnya, atau “Hadhir.” Jangan diam saja kalau dipanggil orang tua. Di rumah harus selalu berusaha untuk menggembirakan/meringankan orang tua. Jangan membuat orang tua kecewa. Karena itu tugas-tugas di dalam rumah harus dipelajari. Juga terhadap adik-adik, bagaimana ilmu yang sudah diketahuinya diajarkan pada adik-adik. Kamu bisa berbahasa arab sedikit, adik-adik diajari. Adik-adik akan senang diajari bahasa Arab dan bahasa Inggris. Adik belum bisa shalat, diajari shalat, diajak ke masjid. Dan sebagainya. Dakwah itu bentuknya bermacam-macam di rumah.
Anak-anak sekalian, di rumah juga diharapkan jangan sampai kita melakukan perbuatan-perbuatan yang justru mengganggu kedekatan kita dengan Allah Swt. Misalnya, anak-anak di rumah diajak teman-teman bermain kartu. Sekarang mungkin bukan main kartu, tetapi main PS. Kalau kamu bermain PS, satu sampai tiga jam tidak akan terasa, maka hindari itu. Itu adalah sesuatu yang menyebabkan kamu lalai dari berdzikir kepada Allah Swt. Karena saat bermain PS kamu bisa tidak mendengar adzan sekalipun sangat keras. Bila mendengar adzan pun kamu tidak akan goyang, tetap bermain PS. Ini zaman sekarang. Hantu kamu nanti kelihatannya adalah PS. Bukan hantu kamu, sahabat dekat kamu. Main game, bukan hanya melalui PS, tapi juga bisa dengan meminjam HP orang tua, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini dapat menyebabkan kita jauh dari Allah Swt. Apalagi? Ngabuburit. Ini kadang-kadang bisa menyebabkan kita berbuat maksiat. Kenapa waktu harus dibuang seperti itu? Hal-hal seperti itu tidak perlu dilakukan. Gunakan waktu untuk belajar, untuk bertanya, untuk membaca, daripada digunakan untuk hal-hal seperti itu. Atau nongkrong di depan televisi yang tidak setiap tayangan televisi itu bermanfaat untuk dilihat. Terkadang justru tayangan di televisi itu merusak mata kita. Kemarin sudah disampaikan bahwa dalam berpuasa kita juga harus menjaga mata. Puasa itu tidak hanya mulut tidak boleh makan dan minum, tetapi mata juga harus dijaga. Menonton tv terus menerus, – habis sahur nonton tv, – tentu yang seperti itu bukanlah anak yang baik. “Habis, filmnya baik-baik, ustadz.” kilahmu. Sekalipun filmnya baik, ingat bahwa setiap malam Allah Swt. melihat hambanya, siapa di antara hamba-Nya yang meminta ampun, Allah Swt. ampuni. Kalau ada hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada Allah, Allah akan tolong. Kalau ada hamba-Nya yang memohon sesuatu, Allah Swt. akan memberikan apa yang dimohon itu. Itu terjadi setiap malam. Kalau pada saat Allah Swt. memberikan perhatian yang tinggi kepada kita kemudian kita gunakan hanya untuk bermain PS, hanya untuk bermain game, kitalah yang rugi. Pada siang hari, Allah tidak dalam posisi seperti itu.
Anak-anak sekalian, kalau anak-anak mengamalkan apa yang telah disampaikan di pesantren ini, baik yang saya sampaikan maupun yang disampaikan oleh ustadz-ustadz yang lain, juga pelajaran-pelajaran di kelas, insya Allah anak-anak akan menjadi orang yang terhormat. Di masyarakat juga nanti anak-anak akan menduduki posisi yang terhormat.
Inilah tentang belajar di pesantren. Sekali lagi saya ingatkan tentang sebuah ayat yang di dalamnya Allah Swt. mengingatkan kita,

من كان يريد ثواب الآخرة نزد له في حرثه ومن كان يريد حرث الدنيا نؤته منها وما له في الآخرة من نصيب

Barangsiapa yang di dalam hidup ini hanya ingin mendapatkan harta benda, hanya ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi, hanya ingin mendapatkan kehormatan, maka Allah Swt. berjanji, “Kami akan memberikan sebagian dari apa yang dia minta itu.”
Kebanyakan orang di dalam hidup ini hanya mencari harta benda. Bahkan, orang tua menyekolahkan anaknya di SMP dengan alasan biar cepat kerja. “Kenapa di sekolahkan di SMK, bukan di Aliyah?” “Kalau di SMK kan bisa cepat kerja.” “Kenapa kuliahnya mengambil fakultas teknik?” “Ya, nanti biar bisa bekerja, ustadz. Mudah diterima.” Banyak orang tua yang tujuan menyekolahkan anaknya supaya bisa bekerja dan mendapatkan gaji. Salahkah mereka yang seperti itu? Orang ingin mendapatkan harta itu salah atau benar? Orang ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi itu salah atau benar? Orang ingin mendapatkan harta, itu benar. Orang ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi, itu juga benar. Tetapi kalau kita sekolah, mencari ilmu, hanya ingin mendapatkan yang seperti itu saja, kita rugi. Padahal kita bersekolah ini bisa sekaligus mendapatkan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Dalam artian harta benda tercukupi. Orang yang bertakwa tidak akan mendapatkan kesulitan dalam hidupnya, sedangkan di akhirat juga dapat. Jadi, cita-cita kita jangan diperpendek, hanya ingin bahagia di dunia. Kita di dunia ini tidak lama. Yang kekal abadi adalah di akhirat. Maka tujuan kita dalam belajar adalah supaya mendapatkan balasan dari Allah Swt. Kalau Allah membalasnya, dunia ini kecil, akan dicukupi. Orang yang bertakwa tidak ada kesulitan dalam menghadapi hidupnya. Rizkinya datang dari mana-mana. Mau cari apa lagi? Kebutuhan-kebutuhannya dicukupi. Tetapi kalau kita hanya ingin mendapatkan gaji besar, gaji besar belum tentu mencukupi. Gajinya besar, tapi pengeluarannya juga besar. Pendapatannya tinggi, sakitnya juga mahal. Orang yang mendapatkan income sepuluh juga sebulan, tidak akan mau berobat di puskesmas. “Berobat di puskesmas bisa apa?” katanya. “Berapa bayarnya?” “50.000” “Ya, cuma 50.000.” Orang yang gajinya tinggi, penyakitnya juga mahal. Jadi, bukan jaminan orang yang mempunyai harta benda banyak akan bahagia. Yang kita cari adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Kalau yang kita lakukan ini bisa menghasilkan kebahagiaan akhirat, dunianya pasti akan bahagia. “Tapi, ustadz, di kampung saja ada juga orang yang ibadahnya rajin, tapi rumahnya kalau lampu di dalam dinyalakan kelihatan berlobang-lobang, bahkan mau roboh. Kasihan, ia hanya memiliki pakaian itu-itu saja.” Anak-anak jangan salah memahami. Kebahagiaan itu tidak diukur dengan harta. Sekalipun bajunya compang-camping, sekalipun makanan yang dimakan barangkali tidak seberapa banyak, bahagia itu ada di dalam hati. Dia kebutuhannya tidak banyak, hanya segitu. Dia bisa ibadah, ia bisa berdzikir, dan lain sebagainya, maka ia sudah mendapatkan kebahagiaan itu, karena memang kebutuhannya tidak banyak. Kebutuhan kita satu sama lain tidak sama. kita ini ibarat gelas; ada yang berukuran besar, ada yang berukuran kecil. Ibarat ember, ada yang berukuran besar, ada yang berukuran kecil. Kita tidak sama. Orang yang bertakwa yang bertawakal kepada Allah kebutuhannya akan dicukupi. Gelas kecil tapi penuh itu lebih baik daripada gelas besar namun isinya hanya sedikit. Maksudnya, kita tidak menjadi orang kaya, tetapi kebutuhan-kebutuhan hidup kita terpenuhi itu lebih baik daripada gayanya seperti orang kaya tapi hutangnya banyak; motor punya, mobil punya, tapi semua motor dan mobilnya tidak cukup untuk digunakan membayar hutang. Banyak orang yang keropos seperti itu. Bagaimana mau senang padahal orang yang punya hutang itu pada malam hari sedih karena teringat bagaimana kalau besok hutangnya ditagih, dan pada siang hari ketemu orangnya juga takut? Orang seperti itu kapan mau bahagia? Maka dalam melakukan segala hal utamakan keikhlasan, semata-mata hanya mengharapkan balasan dari Allah Swt. Insya Allah, dengan kita mengutamakan balasan dari Allah Swt. kita akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema Nilai-Nilai Pendidikan Di Pesantren Dan Prakteknya Di Masyarakat